Siti Amalia: Langkah Jitu Pertamina Sulap Minyak Jelantah Makan Bergizi Gratis Jadi Bioavtur Bernilai Tinggi
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

PT Pertamina Patra Niaga resmi membuat terobosan ekonomi sirkular yang impresif dengan mengolah limbah minyak goreng atau used cooking oil (UCO) menjadi sustainable aviation fuel (SAF) alias bioavtur ramah lingkungan di Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Langkah strategis ini tidak hanya menjawab tantangan transisi energi global di sektor aviasi, tetapi juga menciptakan rantai pasok domestik yang efisien dengan menyerap limbah dari dapur program makan bergizi gratis.
Sebagai pengamat makroekonomi, saya melihat inisiatif ini sebagai contoh nyata sinergi kebijakan fiskal dan korporasi. Dengan memanfaatkan limbah domestik melalui skema business-to-business (B2B) yang melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), hingga sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka), Pertamina mampu mengamankan volume pasokan yang jauh lebih masif ketimbang hanya mengandalkan skala rumah tangga.
Ekosistem Bisnis Sirkular dan Sertifikasi Internasional
Pengembangan bioavtur Pertamina bukanlah proyek instan. Perjalanan panjang ini dimulai sejak akhir 2020 menggunakan minyak inti sawit (RBDPKO) yang sukses diuji coba pada pesawat CN-235 dan puncaknya menerbangkan Boeing 737-800NG Garuda Indonesia pada 2023. Memasuki 2024, Pertamina memperkuat posisinya di kancah global dengan mengantongi sertifikasi ISCC CORSIA dan merampungkan fasilitas produksi Treated Distillate Hydrotreating (TDHT) di Cilacap.
Transformasi ini membuka peluang besar bagi industri penerbangan nasional untuk memenuhi standar emisi internasional yang semakin ketat. Melalui peluncuran ekosistem SAF pada 2025 dan dimulainya produksi masal, Indonesia kini berdiri di garis depan inovasi energi hijau kawasan regional.
Prospek Investasi dan Stabilitas Kualitas ke Depan
Dari sudut pandang finansial, diversifikasi bahan baku dari minyak sawit murni ke minyak jelantah memberikan efisiensi struktur biaya produksi yang signifikan bagi Pertamina Patra Niaga. Tantangan terbesar berikutnya pada 2026 dan tahun-tahun mendatang bukanlah lagi pada inovasi teknologi, melainkan pada konsistensi rantai pasok dan stabilitas kualitas produk guna memenuhi permintaan maskapai global yang mengutamakan aspek keberlanjutan.
FAQ Terkait Berita Ini
Q: Apa bahan baku utama yang digunakan Pertamina untuk membuat bioavtur ramah lingkungan?
A: Pertamina menggunakan limbah minyak goreng atau used cooking oil (UCO) yang dipasok dari program makan bergizi gratis, koperasi, sektor horeka, serta minyak inti sawit (RBDPKO) yang telah dimurnikan.
Q: Dari mana saja sumber pasokan minyak jelantah (UCO) untuk produksi bioavtur ini?
A: Pasokan utama dikumpulkan melalui skema B2B dari dapur SPPG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), hotel, restoran, kafe, serta skema B2C langsung dari masyarakat dan komunitas.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama

Pemerintah Duga Praktik 'Mafia' di Balik Skandal Gizi 25 Merek Beras Fortifikasi

Inflasi Oktober Tembus 3,23%, Sentuh Batas Atas Target BI dan Pemerintah
