Pertamina Rogoh Rp19,3 T untuk Bioavtur: Kilang Hijau Cilacap, Peluang atau Beban?
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan investasi US$1,1 miliar atau sekitar Rp19,3 triliun (kurs Rp17.547 per dolar AS) untuk membangun Biorefinery Cilacap, kilang hijau yang digadang-gadang menjadi tulang punggung produksi bioavtur di Indonesia. Langkah ini diumumkan Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro dalam media gathering di Kabupaten Cilacap, Kamis (10/9). Tujuannya menggenjot produksi sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan.
“Nilai total investasi estimasinya kira-kira mencapai sekitar US$1,1 miliar,” ujar Hermawan.
Saat ini, SAF masih diproduksi di unit Treated Distillate Hydrotreating (TDHT) Kilang Pertamina Cilacap dengan kapasitas 27 kiloliter per hari. Setelah biorefinery baru beroperasi, produksinya diproyeksikan melonjak 860 kiloliter per hari atau naik 3.185 persen menjadi 887 kiloliter per hari.
Pertamina telah melaksanakan groundbreaking Proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 pada Februari 2026 sebagai standalone dedicated green refinery pertama di Indonesia. Tahun ini, proses Final Investment Decision (FID) dan process partnership untuk proyek hijau tersebut sedang berjalan. Tahap Engineering, Procurement, and Construction (EPC) ditargetkan mulai 2027, lalu fasilitas ini diharapkan onstream pada 2029.
Efek Berganda dan Taruhan Strategis
Proyek di atas lahan 17,5 hektare ini diklaim menciptakan efek berganda. Fasilitas tersebut diestimasikan menyumbang hingga Rp199 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, menekan emisi karbon 600 ribu ton setara CO2 per tahun, menyerap 5.900 tenaga kerja, dan memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 30 persen.
Dari kacamata makro, langkah Pertamina Patra Niaga ini bukan sekadar ekspansi kilang. Ini taruhan struktural pada transisi energi yang permintaannya didorong mandat global, seperti CORSIA dan kebijakan bahan bakar aviasi berkelanjutan di Eropa. Jika sustainable aviation fuel menjadi standar baru, Indonesia berpotensi masuk rantai pasok bernilai tambah tinggi, bukan sekadar pengekspor bahan mentah.
Namun, risikonya tidak kecil. Nilai investasi Rp19,3 triliun menuntut kepastian pasokan bahan baku, teknologi hydrotreating yang efisien, dan harga jual yang kompetitif. Keterlambatan FID, kemacetan EPC, atau fluktuasi kurs bisa menggerus imbal hasil. Pemerintah dan Pertamina perlu memastikan insentif fiskal, offtake, serta tata kelola proyek berjalan disiplin. Proyek ini bisa menjadi mercusuar industri hijau nasional, tetapi juga bisa menjadi beban fiskal jika eksekusinya molor.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Berapa nilai investasi Biorefinery Cilacap?
PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan US$1,1 miliar atau sekitar Rp19,3 triliun dengan kurs Rp17.547 per dolar AS.
2. Kapan kilang hijau ini ditargetkan beroperasi?
Tahap EPC ditargetkan mulai 2027 dan fasilitas diharapkan onstream pada 2029.
3. Apa dampak ekonomi dan lingkungannya?
Proyek ini diproyeksikan menyumbang hingga Rp199 triliun ke PDB, menekan emisi 600 ribu ton CO2 per tahun, dan menyerap 5.900 tenaga kerja.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Klaim Tingkat Transparansi Global Tertinggi, Mulai Oktober 2026 Saham HSC Resmi Dikeluarkan dari IHSG

IHSG Menguat 0,79% ke 5.096,83 Ditopang Sektor Utilitas & Perubahan Metodologi BEI

GOTO Rekor Laba Bersih Rp441 Miliar di Kuartal III-2026, GoPay jadi Penopang Utama
