Pertamina Guyur Rp19,3 T untuk Bioavtur, Produksi SAF Cilacap Siap Meledak 3.185%
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

PT Pertamina Patra Niaga, subholding downstream PT Pertamina (Persero), menggelontorkan investasi US$1,1 miliar atau sekitar Rp19,3 triliun dengan kurs Rp17.547 per dolar AS untuk membangun Bio Refinery Cilacap. Proyek ini bukan sekadar ekspansi kilang, melainkan taruhan strategis untuk menggenjot produksi bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Groundbreaking Fase 2 dilakukan Februari 2026, dan pada Jumat (11/9/2026), manajemen membeberkan target produksi yang jauh lebih agresif.
Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro, menyatakan SAF saat ini masih diproduksi di unit Treated Distillate Hydrotreating (TDHT) Kilang Pertamina Cilacap dengan volume 27 kiloliter per hari. Nantinya, produksi SAF dari kilang baru ini dapat meningkat sebesar 860 kiloliter per hari atau naik 3.185 persen, menjadi 887 kiloliter per hari, ujarnya di Cilacap.
Dari 27 ke 887 Kiloliter per Hari
Lonjakan itu menunjukkan ambisi Pertamina masuk ke pasar aviasi hijau secara serius. Fasilitas ini dirancang sebagai standalone dedicated green refinery pertama di Indonesia. Tahun ini, Pertamina masih melakukan proses Final Investment Decision (FID) dan process partnership. Tahap Engineering, Procurement, and Construction (EPC) ditargetkan mulai berjalan pada 2027. Artinya, periode kritis justru ada di eksekusi: menjaga jadwal, mengunci pasokan bahan baku, dan memastikan teknologi berjalan sesuai spesifikasi.
Efek Berganda dan Taruhan Hijau
Proyek di atas lahan 17,5 hektare ini diklaim menciptakan efek berganda. Pemerintah dan perusahaan mengestimasikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga Rp199 triliun. Kilang hijau ini juga diproyeksikan menekan emisi karbon 600 ribu ton setara CO2 per tahun, menyerap 5.900 tenaga kerja, dan memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30 persen. Bagi ekonomi makro, angka-angka ini penting karena mendorong hilirisasi, substitusi impor avtur, dan diversifikasi energi.
UCO dan Ekonomi Sirkular
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga memperluas ekosistem penyediaan feedstock SAF dari minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO). Program pengumpulan minyak jelantah diintegrasikan dengan aplikasi MyPertamina dan ditempatkan di lokasi strategis. Konsep ekonomi sirkular ini mendorong masyarakat menjadi bagian dari rantai pasok energi bersih sekaligus membuka peluang ekonomi lokal. Namun, tantangan klasik tetap ada: kualitas dan volume UCO yang konsisten, logistik pengumpulan, serta insentif harga yang menarik bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
Analisis: Modal Besar, tetapi Eksekusi Jadi Penentu
Sebagai ekonom makro, saya menilai investasi Rp19,3 triliun ini adalah sinyal positif bahwa Indonesia tidak ingin sekadar menjadi pasar SAF. Jika berhasil, Cilacap bisa menjadi simpul rantai nilai aviasi hijau di Asia Tenggara. Tetapi, sejarah proyek energi besar sering kali berhenti di seremoni. FID, partnership, dan EPC 2027 harus dijaga agar tidak molor. Pemerintah juga perlu memastikan kerangka regulasi, insentif fiskal, dan standar SAF berjalan paralel. Tanpa itu, kapasitas 887 kiloliter per hari hanya akan menjadi angka di atas kertas, bukan aliran devisa dan pengurangan emisi yang nyata.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang dibangun Pertamina di Cilacap? Pertamina Patra Niaga membangun Bio Refinery Cilacap sebagai kilang hijau khusus untuk memproduksi Sustainable Aviation Fuel atau bioavtur.
Berapa kapasitas produksi SAF setelah kilang baru beroperasi? Produksi ditargetkan naik dari 27 kiloliter per hari menjadi 887 kiloliter per hari, atau meningkat 3.185 persen.
Mengapa proyek ini penting bagi ekonomi Indonesia? Proyek ini diproyeksikan berkontribusi hingga Rp199 triliun terhadap PDB, menyerap 5.900 tenaga kerja, menekan emisi 600 ribu ton CO2 per tahun, dan memperkuat hilirisasi energi bersih.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama

Pemerintah Duga Praktik 'Mafia' di Balik Skandal Gizi 25 Merek Beras Fortifikasi

Inflasi Oktober Tembus 3,23%, Sentuh Batas Atas Target BI dan Pemerintah
