Pertamina Buka Suara Soal Pembatasan Pertalite Desil 9 dan 10: Siap Jalan, Tapi Tunggu Satu Hal Ini

PT Pertamina Patra Niaga menyatakan siap mendukung kebijakan pemerintah terkait rencana pembatasan pembelian Pertalite untuk kelompok desil 9 dan 10. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan pihaknya masih menunggu opsi resmi pemerintah, Kamis (10/9), di Cilacap, Jawa Tengah.
Ia menegaskan Pertamina akan mengikuti arahan pemerintah begitu kebijakan dinyatakan resmi. Perusahaan juga terus berkoordinasi dengan pemerintah dan BPH Migas. Tujuan kebijakan ini adalah memastikan subsidi BBM tepat sasaran, sehingga penerima manfaat langsung mendapat haknya.
Pertamina Siap, Tapi Tunggu Kepastian
Roberth menuturkan pemerintah memiliki beberapa opsi, mulai dari pendekatan desil hingga pembatasan lain. Namun, ketentuan teknis belum final. 'Kami adalah badan usaha yang akan mengikuti bagaimana arahan dari pemerintah,' tegasnya.
Ia menilai penyaluran BBM berdasarkan desil mencerminkan pengkategorian penerima. Masyarakat di desil 9 dan 10 dianggap sebagai indikator kelompok mampu. Karena itu, semangat pembatasan adalah mengarahkan mereka ke BBM non-subsidi atau energi non-subsidi.
Data DTSEN dan Sinyal Pemerintah
Rencana ini muncul setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membenahi ketepatan data warga kategori desil 9 dan 10. Pemerintah memperbaiki DTSEN menyusul keberatan publik soal kriteria penerima Pertalite. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyatakan pembatasan masih dikaji dan aturan yang berlaku belum berubah.
Bahlil menilai tidak elok jika kelompok mampu masih mengisi BBM bersubsidi. 'Desil 9 dan 10 itu kan seperti saya. Masa kita pakai subsidi? Yang kaya yang sudah mampu jangan ambil hak rakyat,' ujarnya.
Analisis: Ujian Ketepatan Data dan Komunikasi Publik
Dari kacamata ekonomi makro, pembatasan Pertalite untuk desil 9 dan 10 adalah langkah logis untuk menekan kebocoran subsidi. Namun, risikonya terletak pada akurasi data dan kesiapan infrastruktur. Jika DTSEN masih salah sasaran, kebijakan bisa memicu gejolak sosial dan melemahkan kepercayaan publik.
Pemerintah perlu memastikan tiga hal: validasi data penerima, sosialisasi bertahap, dan alternatif energi yang terjangkau. Tanpa itu, pembatasan hanya memindahkan beban dari fiskal ke rumah tangga menengah. Pertamina sebagai pelaksana di lapangan harus diberi kepastian aturan agar tidak ragu saat mengambil keputusan bisnis.
Insight bisnisnya jelas: kebijakan ini akan mengubah lanskap konsumsi BBM nasional. Jika berjalan mulus, subsidi bisa lebih tajam kepada yang berhak. Jika gagal, pemerintah dan Pertamina akan menghadapi tekanan ganda: fiskal dan politik.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang dimaksud desil 9 dan 10?
Desil 9 dan 10 adalah kelompok masyarakat dengan tingkat kemampuan ekonomi tertinggi dalam klasifikasi kesejahteraan. Mereka dianggap tidak layak menerima BBM bersubsidi.
Kapan pembatasan Pertalite berlaku?
Belum ada tanggal pasti. Pemerintah masih mengkaji opsi dan merampungkan data DTSEN serta persiapan teknis.
Apa sikap Pertamina?
Pertamina Patra Niaga menyatakan siap mendukung dan akan mengikuti arahan resmi pemerintah, termasuk berkoordinasi dengan BPH Migas.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama

Pemerintah Duga Praktik 'Mafia' di Balik Skandal Gizi 25 Merek Beras Fortifikasi

Inflasi Oktober Tembus 3,23%, Sentuh Batas Atas Target BI dan Pemerintah
