Nikel 65% Dunia, Tembaga Freeport, Timah Rekor: RI Pengendali Harga Komoditas Global
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa posisi Indonesia sebagai pemasok utama mineral strategis bukan lagi sekadar cerita produksi.
- Pernyataan ini menjawab siapa, apa, kapan, di mana, dan mengapa: Indonesia memiliki daya tekan pasar yang nyata.
- Nikel: 60-65% Pasokan Dunia, Hak Mengontrol Harga?
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa posisi Indonesia sebagai pemasok utama mineral strategis bukan lagi sekadar cerita produksi. Dalam acara Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo, Jumat (11/9/2026), Dirjen Minerba Tri Winarno menyatakan dominasi pasokan nikel, tembaga, dan timah nasional mampu menggerakkan harga komoditas global. Pernyataan ini menjawab siapa, apa, kapan, di mana, dan mengapa: Indonesia memiliki daya tekan pasar yang nyata.
Nikel: 60-65% Pasokan Dunia, Hak Mengontrol Harga?
Tri menyebut pangsa nikel Indonesia mencapai 60% hingga 65% dunia. Menurutnya, penguasaan pangsa pasar sebesar itu membuat Indonesia sudah sepatutnya mengontrol pergerakan harga nikel. “Poinnya apa? Karena kita 60-65% pemasok nikel dunia, maka sudah sepatutnya lah kita untuk mengontrol komoditas tersebut,” ujarnya. Dalam konteks bisnis, ini adalah sinyal bahwa Indonesia tidak lagi sekadar penerima harga, melainkan pemain yang bisa menentukan arah pasar.
Tembaga: Pangsa 5%, Efek Freeport US$15.000 per Ton
Pada tembaga, pangsa pasar Indonesia di industri dunia hanya sekitar 5%. Namun, terhentinya operasional PT Freeport Indonesia beberapa waktu lalu langsung mengurangi kapasitas produksi nasional dan mendorong harga tembaga global menembus US$15.000 per ton. “Beberapa saat yang lalu meskipun share untuk industri tembaga di dunia, share Indonesia itu hanya sekitar 5%, tetapi kejadian Freeport menunjukkan bahwa setelah Freeport tutup, kapasitas produksi berkurang, itu harga cenderung naik dan sekarang mulai menginjak angka US$15.000,” kata Tri. Fakta ini membuktikan pasar global sangat sensitif terhadap gangguan pasokan dari Indonesia, bahkan ketika pangsa pasarnya relatif kecil.
Timah: Dari US$6.500 ke US$56.000, Buah Penertiban Tambang Ilegal
Harga timah mencatatkan lonjakan historis. Dari US$6.500 per ton pada 2007 dan rata-rata US$33.000 per ton pada 2025, kini harga timah berada di kisaran US$55.000 hingga US$56.000 per ton. Kenaikan tersebut didorong oleh kebijakan penertiban tambang ilegal serta perbaikan tata kelola timah di dalam negeri. “Pun demikian dengan timah. Timah terdapat beberapa perbaikan tata kelola, di antaranya dengan penertiban peti dan lain sebagainya, sehingga harga betul-betul bisa naik sampai dengan angka yang sudah saya sebutkan US$56.000 per ton,” tutur Tri. Ini menunjukkan bahwa tata kelola yang bersih bukan sekadar urusan hukum, melainkan instrumen ekonomi yang mampu menciptakan premium harga.
Insight Siti Amalia: Jangan Hanya Bangga, Kunci Hilirisasi
Sebagai ekonom makro, saya menilai pernyataan Kementerian ESDM ini menandai pergeseran strategis: Indonesia sedang bergerak dari price taker menjadi price maker di pasar mineral global. Namun, kekuatan ini pedang bermata dua. Ketergantungan dunia pada pasokan RI bisa memicu resistensi, substitusi, dan tekanan dagang dari negara importir. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat industri pertambangan melalui hilirisasi, transparansi data produksi, dan efisiensi rantai pasok. Jangan sampai euforia komoditas hanya berhenti pada angka ekspor, tanpa nilai tambah yang mengendap di dalam negeri. Dengan begitu, pemerintah terus memperkuat tata kelola serta efisiensi rantai pasok untuk menjaga daya saing industri pertambangan nasional.
FAQ Terkait Berita Ini
Mengapa Indonesia bisa memengaruhi harga nikel global?
Karena pangsa pasokannya mencapai 60% hingga 65% dunia, sehingga setiap perubahan produksi atau kebijakan ekspor berdampak signifikan pada keseimbangan pasar.
Apa dampak terganggunya operasional Freeport terhadap harga tembaga?
Meski pangsa Indonesia hanya sekitar 5%, penurunan kapasitas produksi nasional mendorong harga tembaga global naik hingga menyentuh US$15.000 per ton.
Apakah kenaikan harga timah berkelanjutan?
Kenaikan didorong perbaikan tata kelola dan penertiban tambang ilegal. Keberlanjutannya bergantung pada konsistensi kebijakan, permintaan global, dan pasokan dari negara produsen lain.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
