Negara Kuat Bukan Lagi yang Punya Minyak-Batu Bara, tetapi Penguasa Teknologi Logam Tanah Jarang
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Badan Industri Mineral (BIM) menilai tolok ukur kekuatan sebuah negara telah bergeser dari kepemilikan minyak, batu bara, dan gas menuju penguasaan sumber daya serta teknologi logam tanah jarang. Dalam acara Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi menyatakan penguasaan teknologi ekstraksi dan pemisahan LTJ lebih menentukan ketimbang sekadar memiliki cadangan mineral berlimpah.
Pernyataan itu menjawab mengapa persaingan global kini bergeser: transisi energi membuat kebutuhan mineral strategis melonjak, sementara negara yang hanya menjual bahan mentah berisiko tertinggal dalam rantai pasok industri masa depan.
Dari Minyak ke Magnet Permanen
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan kebutuhan mineral untuk kendaraan listrik meningkat 6 kali lipat. Untuk pembangkit listrik tenaga angin darat, kebutuhannya melonjak 9 kali lipat dibandingkan sistem pembangkit berbasis gas.
Unsur seperti neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dysprosium (Dy), terbium (Tb), dan yttrium (Y) menjadi komponen utama pembuat magnet permanen pada motor kendaraan listrik dan turbin angin. Inilah alasan LTJ bukan lagi komoditas pinggiran, melainkan urat nadi industri teknologi.
Indonesia di Pusaran Persaingan Supply Chain
Indonesia menyimpan potensi LTJ dari 17 unsur logam yang tersebar pada sumber primer hingga sekunder di lebih dari 250 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) serta limbah elektronik. Namun, potensi itu belum otomatis menjadi kekuatan ekonomi jika pengolahan mandiri tidak dikuasai.
Tanpa hilirisasi nyata, ekspor bahan mentah yang kemudian diimpor kembali dalam bentuk produk jadi berpotensi menimbulkan kerugian negara hingga ribuan triliun rupiah. Dalam kerangka transisi energi, posisi Indonesia bisa terjebak sebagai pemasok bahan baku, bukan pemain teknologi.
Hilirisasi Teknologi, Bukan Sekadar Investasi
Yogi menegaskan, “Hilirisasi yang sejati itu sebenarnya adalah hilirisasi teknologi. Jadi bukan sekadar kita membawa atau mengundang investor untuk membangun industri di tempat kita, tetapi bagaimana penguasaan teknologi ini betul-betul bisa dilakukan oleh anak bangsa.”
Dari kacamata makroekonomi, pernyataan itu adalah alarm sekaligus peta jalan. Hilirisasi hilirisasi teknologi menuntut riset, SDM, dan ekosistem industri yang terintegrasi. Tanpa itu, insentif fiskal dan investasi hanya menghasilkan tambang yang ramai, tetapi nilai tambah tetap mengalir ke luar.
Karena itu, percepatan riset dan pengembangan teknologi pengolahan mineral strategis menjadi prasyarat. Negara kuat ke depan bukan yang paling banyak menggali, melainkan yang paling mampu mengubah mineral menjadi teknologi, produk, dan daya saing ekonomi.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa itu logam tanah jarang? LTJ adalah kelompok 17 unsur logam yang digunakan antara lain untuk magnet permanen, baterai, elektronik, dan turbin angin.
Mengapa LTJ penting bagi Indonesia? Karena permintaan global naik tajam akibat transisi energi dan kendaraan listrik, sehingga penguasaan teknologi LTJ dapat memperkuat industri nasional.
Apa risiko jika Indonesia hanya ekspor bahan mentah LTJ? Indonesia bisa kehilangan nilai tambah, bergantung pada produk impor, dan melewatkan peluang menjadi pemain utama rantai pasok global.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Rupiah Melemah Tipis ke Rp18.145 Ditopang Sentimen Minyak dan Perang Iran

Jelang Rilis PDB, Ekonomi RI Didukung PMI Manufaktur Terkuat 2 Tahun & Surplus Neraca Dagang

Bursa Asia Bervariasi: Kospi Anjlok 3,55%, Tekanan Saham Teknologi Global Berlanjut
