Jejak Terputus di Selat Sunda: Menanti Keajaiban Bagi 5 Jurnalis di Tengah Amuk Anak Krakatau
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Nasib lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Senin (7/9) masih menjadi misteri besar. Hingga saat ini, tim SAR gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan mereka di Pulau Sertung, lokasi yang diduga menjadi titik terakhir aktivitas para pewarta tersebut. Kendala teknis dan ancaman bahaya dari kawah aktif menjadi tembok besar yang menghalangi upaya penyelamatan.
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, mengonfirmasi bahwa pemantauan visual menggunakan teropong dari jarak aman belum membuahkan hasil. Meski tim gabungan bersama nelayan setempat telah menyisir pulau-pulau di sekitar gunung api tersebut, Pulau Sertung tetap menjadi zona yang sulit ditembus. Protokol keselamatan yang ketat dari PVMBG menjadi alasan utama mengapa tim belum bisa menginjakkan kaki secara langsung di daratan pulau tersebut.
Tembok Tebal Radius 3 Kilometer
Secara administratif dan teknis, Pulau Sertung masuk dalam radius bahaya 3 kilometer dari pusat erupsi. Amrad menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mengambil risiko konyol yang dapat membahayakan personel SAR. Namun, di sisi lain, waktu terus berjalan bagi para korban. Analisis saya sebagai jurnalis senior melihat adanya dilema kemanusiaan yang akut di sini: antara prosedur keselamatan formal dan urgensi penyelamatan nyawa manusia yang berada di ujung tanduk.
"Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km. Data PVMBG menyatakan itu masih daerah rawan. Namun, kami tetap berupaya mencari celah berdasarkan data BMKG dan BNPB untuk menentukan tindakan apa yang bisa dilakukan agar bisa masuk ke sana," ujar Amrad dalam keterangannya. Ketidakpastian ini menunjukkan betapa ganasnya medan Selat Sunda saat alam sedang bergejolak.
Teknologi Drone Terhalang Kabut Asap
Upaya modernisasi pencarian dengan mengerahkan drone dari Kapal Negara (KN) SAR Tetuka di sekitar Pulau Sangiang juga menemui jalan buntu. Kabut asap tebal akibat aktivitas vulkanik menutup jarak pandang sensor udara, membuat teknologi mutakhir sekalipun tak berdaya menghadapi kekuatan alam. Kondisi ini mempertegas bahwa koordinasi antara Basarnas, BMKG, dan PVMBG harus dilakukan setiap jam untuk menangkap peluang sekecil apa pun saat cuaca membaik.
Kelima jurnalis yang hilang tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunas (Antara), Arie Basuki (Merdeka), Donal Husni (Freelance), Yudhistira (iNews), dan Daus (Anadolu). Mereka berangkat menggunakan speedboat dari Carita dengan didampingi satu nahkoda, satu ABK, dan seorang pemandu. Hilangnya mereka menjadi pengingat keras bagi kita semua mengenai tingginya risiko profesi jurnalis di lapangan, terutama dalam meliput bencana alam yang dinamis.
Kita mendesak otoritas terkait untuk tidak hanya terpaku pada prosedur standar, tetapi juga mengerahkan segala sumber daya intelijen dan teknologi termal yang mungkin bisa menembus kabut asap. Setiap detik sangat berharga bagi rekan-rekan kita yang sedang bertaruh nyawa demi sebuah berita.
FAQ Terkait Berita Ini
Siapa saja jurnalis yang dilaporkan hilang di Selat Sunda?
Lima jurnalis tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunas (Antara), Arie Basuki (Merdeka), Donal Husni (Freelance), Yudhistira (iNews), dan Daus (Anadolu).
Mengapa tim SAR belum bisa mendarat di Pulau Sertung?
Karena Pulau Sertung berada dalam radius bahaya 3 km dari Gunung Anak Krakatau yang sedang erupsi, sesuai dengan larangan keamanan dari PVMBG.
Apa kendala utama pencarian menggunakan drone?
Kendala utamanya adalah kabut asap vulkanik yang sangat tebal di sekitar lokasi pencarian, sehingga menghalangi jarak pandang kamera drone.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Sudin Perpustakaan Jakut Luncurkan Book Camp 2026: 85 Duta Literasi Targetkan Ekosistem Kebiasaan Baca Berkelanjutan

BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang

Wisatawan ke Jakarta Capai 8,58 Juta Perjalanan, Naik 6,37 Persen Sepanjang September 2026
