Harta Haji Isam dan Rumor Akuisisi 62,2% Saham Bayan: Estimasi Rp62,14 Triliun

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Harta Haji Isam dan Rumor Akuisisi 62,2% Saham Bayan: Estimasi Rp62,14 Triliun
BAGIKAN:

Rumor pengambilalihan sekitar 62,2% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam mencuat pada Rabu (19/8) dan langsung menyeret sorotan ke nilai kepemilikan sahamnya di sejumlah emiten. Di tengah kabar itu, estimasi nilai pasar kepemilikan Haji Isam di tiga perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia—PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE)—mencapai Rp62,14 triliun atau sekitar US$3,50 miliar. Angka ini bukan total kekayaan bersih, melainkan estimasi harga pasar atas saham yang dikaitkan dengan kendali dan keluarganya.

Estimasi Nilai Pasar Tiga Emiten

Pada PGUN, Haji Isam disebut memiliki 76,69% saham melalui putrinya, Liana Saputri. Dengan kapitalisasi pasar PGUN sekitar Rp52,64 triliun dan harga Rp9.175 per saham pada penutupan 18 Agustus 2026, nilai kepemilikan itu sekitar Rp40,37 triliun.

Pada JARR, kepemilikan disebut mencapai 86,64% melalui perusahaan yang dikuasainya. Dengan kapitalisasi pasar Rp23,17 triliun dan harga Rp2.510 per saham, nilai kepemilikan tersebut sekitar Rp20,07 triliun.

Pada TEBE, Haji Isam disebut menggenggam 76,91% saham melalui PT Dua Samudera. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp2,2 triliun dan harga Rp1.715 per saham, nilai kepemilikannya diperkirakan Rp1,69 triliun.

Jika ketiganya dijumlahkan, nilai pasar kepemilikan saham yang dikaitkan dengan Haji Isam mencapai sekitar Rp62,14 triliun atau sekitar US$3,50 miliar. Angka itu lebih tinggi dari kekayaan sejumlah nama besar dalam daftar Forbes, seperti bos Alfamart Djoko Susanto dengan kekayaan US$2 miliar dan Mochtar Riady sebesar US$2,2 miliar. Namun, perbandingan ini tidak serta-merta menunjukkan posisi kekayaan Haji Isam di daftar Forbes karena nilai kepemilikan saham bukan ukuran yang sama dengan kekayaan bersih.

Bukan Kekayaan Bersih

Haji Isam belum tercatat dalam daftar Forbes Real Time Billionaires. Forbes menggunakan kekayaan bersih sebagai dasar perhitungan, yakni total aset seseorang setelah dikurangi seluruh liabilitas atau kewajibannya. Perhitungannya mencakup perusahaan swasta, real estat, karya seni, serta kepemilikan saham di perusahaan terbuka, dengan memperhatikan harga saham dan nilai tukar. Forbes menyatakan dokumentasi menjadi salah satu dasar; jika informasi atau dokumentasi mengenai suatu kekayaan tidak tersedia, aset tersebut dapat diabaikan. Karena harga saham dan nilai tukar terus bergerak, nilai kekayaan seseorang yang memiliki saham perusahaan terbuka juga dapat berubah dari waktu ke waktu.

Tebusan Bayan dan Konfirmasi Manajemen

Sorotan terhadap kekayaan Haji Isam muncul bersamaan dengan rumor rencana pengambilalihan sekitar 62,2% saham BYAN. Jika menggunakan harga penutupan BYAN pada 18 Agustus 2026 sebesar Rp17.275 per saham, jumlah saham yang setara dengan 62,2% mencapai sekitar 20,73 miliar saham. Secara matematis, nilai seluruh saham tersebut berdasarkan harga pasar mencapai sekitar Rp358,17 triliun. Namun, angka tersebut bukan nilai transaksi akuisisi karena harga yang disepakati dalam pengambilalihan blok pengendali dapat berbeda dari harga saham di pasar reguler.

Bloomberg News sebelumnya melaporkan salah satu entitas bisnis yang dikendalikan Haji Isam mengajukan penawaran sekitar US$3 miliar atau sekitar Rp52,53 triliun untuk mengambil alih sekitar 62% saham Bayan Resources. Manajemen Bayan sendiri menyatakan belum mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan dan/atau akuisisi sekitar 62,2% saham perseroan oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam. Perseroan juga menyatakan tidak mengetahui pihak yang terlibat, struktur transaksi, porsi saham yang akan dialihkan, maupun nilai transaksi yang dikabarkan.

Dengan demikian, hingga kini belum ada transaksi akuisisi BYAN yang dapat dikonfirmasi oleh manajemen. Sementara angka Rp62,14 triliun yang dikaitkan dengan Haji Isam merupakan estimasi nilai pasar kepemilikan saham di tiga emiten, bukan gambaran keseluruhan kekayaan bersih pengusaha tersebut.

Meow! Tanya Nesi!
😸