ESDM: Erupsi Gunung Api Bersamaan Tidak Dipicu Satu Sumber Magma
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Jumat (11/9/2026) menegaskan bahwa rangkaian erupsi sejumlah gunung api di Indonesia dalam waktu berdekatan tidak otomatis dipicu oleh satu sumber magma yang sama.
Pernyataan ini menjawab pertanyaan publik soal fenomena erupsi gunung api yang muncul bersamaan, seperti Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Ibu di Halmahera, Gunung Ili Lewotolok di NTT, Gunung Semeru di Jawa Timur, dan sejumlah gunung lain yang saat ini aktif.
Kementerian ESDM melalui unggahan Instagram @kesdm menjelaskan pola aktivitas gunung di Tanah Air beragam. Ada gunung yang sering erupsi, ada yang aktivitasnya meningkat dalam hitungan minggu hingga bulan, dan ada pula yang tenang tetapi sewaktu-waktu bisa aktif kembali.
Karena itu, ketika beberapa gunung api erupsi pada waktu yang hampir bersamaan, tidak otomatis berarti semuanya dipengaruhi oleh satu sumber magma yang sama.
Tektonik Aktif, Magma Terpisah
ESDM menyebut erupsi bersamaan terjadi karena Indonesia berada di kawasan tektonik Indonesia yang sangat aktif dan memiliki banyak gunung api aktif. Dengan jumlah gunung api aktif yang besar, beberapa gunung bisa mengalami erupsi secara bersamaan tanpa keterikatan pemicu.
Setiap gunung api memiliki sistem magma dan karakter aktivitas yang berbeda-beda. Sampai saat ini belum ada bukti atau dasar ilmiah yang menunjukkan adanya hubungan pemicu antar-gunung api pada rangkaian erupsi tersebut.
Meskipun seluruh gunung api di Indonesia berkaitan dengan proses tektonik yang sama dalam skala regional, masing-masing gunung api memiliki sistem magma yang terpisah. Karena itu, erupsi Anak Krakatau tidak bisa langsung diartikan sebagai penyebab erupsi Semeru, Ili Lewotolok, Gunung Ibu, atau gunung api lainnya.
Pemerintah juga menjelaskan bahwa naiknya magma ke permukaan salah satunya dipengaruhi oleh proses di dalam gunung api, seperti tekanan magma, gas, hingga suplai magma dari kedalaman. Hujan tetap perlu diwaspadai karena meningkatkan risiko bahaya sekunder seperti lahar, erosi lereng, dan longsoran material vulkanik.
Kajian ESDM pada Gunung Anak Krakatau menunjukkan gunung itu masih berpotensi mengalami erupsi karena sistem masih aktif. Namun, hal itu bukan berarti erupsi berikutnya pasti lebih besar. Aktivitas kegempaan internal masih terekam sehingga pemantauan dilakukan secara intensif.
Sepanjang tahun 2026, Kementerian ESDM mencatat ada 11 gunung api yang masih mengalami erupsi.


