Netanyahu di Perbatasan Suriah: Iran di Ambang Kehancuran, Tugas Utama Jatuhkan Rezim
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Republik Islam Iran berada di ambang kehancuran. Pernyataan itu disampaikan saat ia meninjau sisi Gunung Hermon di perbatasan Israel–Suriah bersama Menteri Pertahanan Israel Katz, di tengah pertempuran intensif yang telah berlangsung selama enam bulan dan melibatkan Amerika Serikat serta sekutunya.
Dalam pernyataan yang dikutip AFP, Netanyahu menyebut masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Menurutnya, tugas utama adalah menjatuhkan rezim teror di Iran. 'Kita sudah sangat dekat dengan itu. Kita tahu bahwa seluruh poros itu pada akhirnya akan runtuh,' ujarnya.
Konteks Suriah dan Zona Keamanan
Pernyataan itu muncul ketika pasukan Israel ditempatkan di 'zona keamanan' di Suriah selatan sejak runtuhnya rezim Bashar Al Assad. Pasukan Israel juga menduduki wilayah yang sebelumnya merupakan zona penyangga PBB. Sejak Assad jatuh, Israel dilaporkan melakukan ratusan serangan di Suriah dan berulang kali menyusup ke wilayah negara itu.
Sejumlah pejabat Israel berulang kali berjanji menempatkan pasukan di zona keamanan. Langkah ini dipandang sebagai upaya mencaplok area demiliterisasi yang lebih luas, meskipun Israel belum secara resmi mengumumkan aneksasi penuh.
Perang Iran–AS dan Poros Perlawanan
Komentar Netanyahu muncul saat Iran dan AS masih berperang. AS dan sekutunya, Israel, lebih dulu menggempur Iran habis-habisan pada Februari. Kedua negara sempat mencapai gencatan senjata dan menandatangani nota kesepahaman atau MoU, tetapi perang terus berlanjut hingga sekarang.
Dari sudut pandang hubungan internasional, pernyataan Netanyahu memperlihatkan tiga hal. Pertama, Israel ingin mengaitkan keamanan wilayahnya dengan perubahan rezim di Iran. Kedua, Suriah menjadi ruang strategis bagi Israel untuk menekan poros Iran. Ketiga, keterlibatan AS membuat konflik ini berpotensi menjadi perang regional yang lebih luas.
Analisis: Kedaulatan, Hukum Internasional, dan Risiko Eskalasi
Dalam kerangka hukum internasional, pendudukan wilayah penyangga PBB dan serangan berulang ke Suriah memunculkan pertanyaan serius tentang kedaulatan negara. Suriah belum memiliki pemerintahan yang stabil pasca-Assad, sehingga ruang diplomatik untuk membela wilayahnya sangat terbatas. Kondisi ini memberi Israel keleluasaan operasional, tetapi juga memperbesar risiko konflik berkepanjangan.
Bagi Timur Tengah, pernyataan Netanyahu bisa dibaca sebagai sinyal bahwa perang tidak akan berakhir hanya dengan gencatan senjata. Jika tujuan utama adalah menjatuhkan rezim di Iran, maka jalur diplomasi menjadi semakin sempit. Negara-negara lain di kawasan akan cenderung memperkuat aliansi masing-masing, sementara kekuatan besar di luar kawasan menghadapi pilihan sulit antara menahan eskalasi atau terlibat lebih dalam.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang dikatakan Netanyahu? Ia menyebut Iran berada di ambang kehancuran dan menegaskan tugas utama adalah menjatuhkan rezim teror di Iran.
Di mana pernyataan itu disampaikan? Di sisi Gunung Hermon, perbatasan Israel–Suriah, saat kunjungan bersama Menteri Pertahanan Israel Katz.
Apa dampaknya bagi kawasan? Pernyataan ini memperbesar risiko eskalasi perang regional, melemahkan prospek diplomasi, dan menimbulkan pertanyaan hukum atas operasi Israel di wilayah Suriah.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Indonesia Desak Rusia Hentikan Rekrutmen WNI sebagai Tentara Bayaran, Satu Warga Sudah Tewas

Mamdani Kecam Haley Stevens: Dukungan Kandidat Republik Jadi Pengkhianatan Kelas Pekerja

Trump dan Netanyahu Bahas Serangan Iran di Tengah Penurunan Populeritas Politik Keduanya
