Malone Lam Mengaku Bersalah: Curi Kripto Rp4,2 T, Boros Rp10 M dalam Semalam
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Washington, DC — Warga Singapura Malone Lam mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat pada Selasa (8/9) atas dakwaan mendalangi pencurian mata uang kripto senilai lebih dari US$260 juta atau sekitar Rp4,2 triliun dan konspirasi pemerasan atau racketeering. Pengakuan itu menandai babak baru kasus lintas negara yang menempatkan Lam sebagai otak jaringan pencurian aset digital, setelah ia ditangkap pada September 2024. Kasus ini menjawab pertanyaan siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana: Lam dituduh memimpin sindikat yang membidik pemilik dompet kripto besar melalui rekayasa sosial, lalu mencairkan aset curian lewat jaringan pencucian uang internasional.
Rekayasa Sosial dan Pencurian 4.100 Bitcoin
Menurut laporan Channel News Asia, Lam dan para kaki tangannya menyamar sebagai karyawan perusahaan terpercaya, termasuk Google, untuk membujuk korban menyerahkan informasi pribadi seperti kata sandi, frasa kunci, dan kode autentikasi. Informasi itu kemudian dipakai mengakses dompet kripto korban. Salah satu pencurian terbesar terjadi pada Agustus 2024, ketika mereka mencuri lebih dari 4.100 bitcoin milik seorang korban di Washington, DC, dengan nilai saat itu sekitar US$230 juta.
Setelah pencurian, mereka berupaya menghilangkan jejak dengan mencuci aset kripto dan menukarkannya menjadi kartu pembayaran atau uang tunai. Dalam konteks kejahatan siber global, metode ini memperlihatkan bahwa titik terlemah bukan selalu algoritma blockchain, melainkan manusia dan prosedur keamanan di sekitarnya. Kasus Malone Lam menjadi contoh bagaimana pencurian kripto bergeser dari peretasan teknis murni ke manipulasi psikologis yang terorganisasi.
Gaya Hidup Mewah yang Menjadi Jejak
Ironi muncul dari gaya hidup Lam. Aparat justru tertarik pada pola belanjanya yang mencolok: mobil mewah, jam tangan, pakaian, jet pribadi, pengawal keamanan, serta sejumlah properti di Miami, Los Angeles, dan Hamptons. Beberapa kendaraan yang dibelinya bernilai hingga US$3,8 juta. Ia juga pernah menghabiskan US$569 ribu atau sekitar Rp10 miliar dalam satu malam di sebuah klub malam di Los Angeles.
Dari sudut pandang penegakan hukum, kemewahan itu berfungsi sebagai jejak audit sosial. Sindikat siber yang canggih sekalipun dapat terbongkar ketika aliran dana curian berpindah ke aset fisik yang mudah dilacak. Polisi menangkap Lam pada September 2024, hanya beberapa pekan setelah pencurian bitcoin senilai ratusan juta dolar tersebut.
Jalan Panjang Menuju Pengakuan Bersalah
Pengakuan bersalah Lam terjadi setelah berbulan-bulan ketidakpastian mengenai apakah kasusnya akan berakhir melalui kesepakatan pembelaan atau persidangan. Pemerintah AS mengajukan tawaran kesepakatan baru pada November 2025, sementara pengacara Lam pada sidang Mei menyatakan telah terjadi kemajuan signifikan. Sejumlah orang yang diduga terlibat dalam jaringan Lam juga menyatakan kesediaan memberikan kesaksian terhadapnya jika kasus berlanjut ke persidangan.
Lam dijadwalkan kembali ke pengadilan pada 8 Desember untuk sidang penetapan status. Hakim diperkirakan akan menetapkan jadwal pembacaan vonis dalam persidangan tersebut. Lam dan para kaki tangannya juga diperintahkan mengembalikan lebih dari US$245 juta dana curian kepada para korban. Dakwaan awal menyebut ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara.
Implikasi Lintas Negara
Sebagai warga Singapura yang diadili di AS, kasus Lam menyoroti pentingnya kerja sama hukum lintas yurisdiksi dalam menghadapi kejahatan kripto. Negara-negara kini dituntut memperkuat pertukaran data, standar kepatuhan platform aset digital, dan kemampuan melacak transaksi lintas batas. Tanpa itu, pelaku dapat memanfaatkan celah antarnegara untuk mengubah uang digital menjadi kekayaan nyata, bahkan jet pribadi dan properti mewah.
Namun, kasus ini juga mengingatkan bahwa penegakan hukum bergerak tidak hanya lewat teknologi, tetapi melalui intelijen keuangan, saksi, dan konsistensi yurisdiksi. Bagi pasar kripto global, vonis dan restitusi nanti akan menjadi sinyal tentang seberapa serius negara-negara menindak penyalahgunaan aset digital.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang dilakukan Malone Lam?
Ia memimpin jaringan yang mencuri mata uang kripto senilai lebih dari US$260 juta melalui rekayasa sosial dan pencucian aset, lalu mengaku bersalah atas dakwaan terkait di AS.
Berapa kerugian yang harus dikembalikan?
Lam dan kaki tangannya diperintahkan mengembalikan lebih dari US$245 juta kepada para korban, dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara.
Kapan jadwal vonisnya?
Lam dijadwalkan hadir dalam sidang penetapan status pada 8 Desember. Hakim diperkirakan menetapkan jadwal pembacaan vonis saat itu.


