Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Iran & AS Saling Hantam di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus US$ 100, Dunia Gelisah

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Iran & AS Saling Hantam di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus US$ 100, Dunia Gelisah
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz kembali memicu ketegangan global setelah kedua negara saling melancarkan serangan terhadap kapal tanker dan kapal perang.
  • Serangan Balasan dan Klaim Kemenangan Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz sebagai pembalasan atas penghancuran lima kapal tanker minyak milik Teheran oleh Washington.
  • Sementara itu, AS membenarkan operasi militernya sebagai tanggapan atas dua kali percobaan serangan rudal balistik oleh Garda Revolusi terhadap kapal perang AS.

Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz kembali memicu ketegangan global setelah kedua negara saling melancarkan serangan terhadap kapal tanker dan kapal perang. Eskalasi terbaru pada Rabu (9/9/2026) menewaskan satu pelaut dan menyebabkan satu lainnya hilang, sekaligus mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, mengancam pasokan energi dunia yang sekitar seperlimanya melewati jalur strategis tersebut.

Serangan Balasan dan Klaim Kemenangan

Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz sebagai pembalasan atas penghancuran lima kapal tanker minyak milik Teheran oleh Washington. Korps Garda Revolusi Iran bahkan menyatakan bahwa mereka menembaki dua kapal militer AS dan delapan kapal tanker, serta mengancam akan memperluas zona terlarang laut hingga ke kawasan Chabahar, dekat perbatasan Pakistan. Sementara itu, AS membenarkan operasi militernya sebagai tanggapan atas dua kali percobaan serangan rudal balistik oleh Garda Revolusi terhadap kapal perang AS.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan kebijakan keras Washington: "Iran terus berupaya menyerang kapal-kapal angkatan laut AS, dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukan hal itu, mereka akan kehilangan kapal tanker." Kebijakan saling serang ini menandai salah satu gelombang eskalasi terbesar sejak perang enam bulan terakhir.

Dampak Langsung: Harga Minyak Melonjak, Jalur Pelayaran Terganggu

Ancaman terhadap Selat Hormuz langsung menggerus pasokan. Kepala Ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti mencatat volume aliran minyak melalui selat itu merosot drastis dari 8โ€“9 juta barel per hari menjadi hanya sekitar 2 juta barel per hari sejak pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus. Akibatnya, harga minyak berjangka Brent melesat di atas US$ 100 per barel, dan harga rata-rata diesel eceran di AS menembus rekor US$ 5,94 per galon (sekitar Rp104.544 dengan kurs Rp17.600).

Insiden lain memperparah situasi: seorang pelaut tewas di kapal tanker Hercules Star yang berlabuh di lepas pantai Dubai, sementara tanker New Andros yang membawa 2 juta barel bahan bakar minyak terbakar setelah terkena drone di perairan Irak. Badan keamanan maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan serangan terhadap sejumlah kapal dagang di Teluk bagian utara dan Teluk Oman.

Analisis: Perang Ekonomi di Balik Rudal dan Kapal Tanker

Di tengah saling serang, Presiden AS Donald Trump menuding Iran berupaya memengaruhi pemilihan umum sela AS pada November dengan mengguncang harga minyak dan menciptakan ketidakpastian. Namun, dari sudut pandang ekonomi makro, eskalasi ini justru memicu risiko stagflasi global โ€“ menekan pertumbuhan dan memicu inflasi di saat banyak negara masih bergulat dengan pemulihan pasca-pandemi.

Iran tampaknya bermain di dua papan: militer dan politik. Dengan menutup jalur minyak, mereka ingin menekan koalisi Barat, namun langkah ini juga menggerus pendapatan mereka sendiri. Sementara AS, dengan kebijakan serangan preemptif, berisiko memperluas konflik ke kawasan yang lebih luas, termasuk ke pangkalan militer Amerika di Teluk. Pasar energi dan keuangan global kini menunggu apakah ada upaya diplomatik atau justru perang terbuka yang akan mengunci Selat Hormuz untuk waktu yang lebih lama โ€“ sebuah skenario yang akan mengirim harga minyak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Yang jelas, konsumen dan industri di Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, perlu bersiap menghadapi tekanan harga BBM dan inflasi. Pemerintah pun harus cermat mengelola subsidi dan kebijakan energi di tengah ketidakpastian global.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang memicu serangan AS-Iran di Selat Hormuz?
Pemicunya adalah Iran yang menargetkan kapal perang AS dengan rudal balistik, lalu AS merespons dengan menghancurkan kapal tanker Iran, dan Iran membalas dengan menyerang 10 kapal di selat tersebut.

Bagaimana dampak langsung terhadap harga minyak?
Harga minyak Brent melonjak ke atas US$ 100 per barel dan harga diesel di AS mencatat rekor, karena pasokan dari Selat Hormuz (seperlima minyak dunia) terganggu parah.

Apakah ada risiko eskalasi lebih lanjut?
Sangat mungkin, mengingat Iran mengancam zona terlarang baru dan AS menegaskan kebijakan menyerang setiap kali kapal perangnya terancam. Pemilu sela AS juga menjadi faktor politik yang bisa memperpanjang konflik.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ