Harga Minyak Bertahan di Atas US$100: Selat Hormuz Kian Mencekam, Pasar Bersiap Gangguan Panjang

Harga minyak dunia bertahan di atas US$100 per barel pada perdagangan Kamis (10/9), dipicu oleh eskalasi serangan Iran dan Amerika Serikat terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz yang mengancam pasokan minyak dari Timur Tengah. Pasar tidak hanya menghadapi lonjakan risiko geopolitik, tetapi juga ketidakpastian panjang atas jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 0,1 persen menjadi US$101,34 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS berada di US$96,55 per barel, naik 0,5 persen. Kenaikan tipis ini menandakan pasar sudah memasukkan premi risiko, namun belum sepenuhnya memperhitungkan skenario terburuk.
Rabu (9/9), Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz. Serangan itu terjadi setelah AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan akan meningkatkan respons jika serangan lanjutan dilakukan terhadap negaranya.
Premi Risiko yang Tak Lagi Sementara
Analis ANZ Daniel Hynes dalam catatan kepada klien menyebut serangan balasan kedua pihak menunjukkan aliran minyak dari Teluk Persia kemungkinan tetap terganggu untuk waktu yang belum dapat diperkirakan.
“Meluasnya konflik mengancam risiko gangguan yang lebih dalam terhadap pasokan minyak yang sebelumnya sudah membuat pasar minyak kesulitan untuk menyesuaikan diri,” ujar Hynes.
Dalam kacamata ekonomi makro, pernyataan itu penting. Pasar minyak global sebenarnya belum pulih sepenuhnya dari berbagai guncangan pasokan. Ketika Selat Hormuz kembali memanas, tidak ada bantalan cadangan yang cukup untuk menyerap gejolak. Artinya, harga minyak tidak lagi sekadar bergerak karena permintaan, tetapi karena ketakutan pasokan.
EIA Naikkan Proyeksi, Pasar Kehabisan Bantalan
Kekhawatiran itu tercermin dari langkah Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang menaikkan proyeksi harga minyak tahun ini dan tahun depan. EIA beralasan persediaan minyak global terus menurun akibat hilangnya pasokan dari Timur Tengah.
Bagi Indonesia, efeknya akan terasa berlapis: biaya impor bahan bakar naik, tekanan pada neraca dagang dan rupiah, serta ruang fiskal untuk subsidi energi menyempit. Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, inflasi energi bisa merembet ke harga pangan dan transportasi. Pemerintah tidak punya banyak pilihan selain memperkuat bantalan fiskal dan mempercepat diversifikasi energi.
Dengan eskalasi serangan terhadap kapal dan terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz, pelaku pasar kini bersiap menghadapi kemungkinan gangguan pasokan yang lebih panjang. Alarm bagi ekonomi global telah menyala.
FAQ Terkait Berita Ini
Mengapa harga minyak bertahan di atas US$100?
Karena eskalasi serangan Iran dan AS di sekitar Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah, sementara pasar global belum punya cadangan memadai.
Apa dampaknya bagi Indonesia?
Tekanan pada biaya impor energi, nilai tukar rupiah, inflasi, dan anggaran subsidi. Negara importir minyak paling rentan.
Apakah harga minyak bisa segera turun?
Selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda dan pasokan Timur Tengah belum normal, premi risiko cenderung bertahan. Penurunan tajam baru mungkin jika ada deeskalasi signifikan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama

Pemerintah Duga Praktik 'Mafia' di Balik Skandal Gizi 25 Merek Beras Fortifikasi

Inflasi Oktober Tembus 3,23%, Sentuh Batas Atas Target BI dan Pemerintah
