Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

DTSEN Temukan 4,33 Juta Keluarga 'Tak Terlihat', Bansos RI Masuk Babak Baru

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

DTSEN Temukan 4,33 Juta Keluarga 'Tak Terlihat', Bansos RI Masuk Babak Baru
BAGIKAN:

DTSEN menemukan 4.330.417 keluarga penerima manfaat (KPM) yang sebelumnya tidak pernah menerima bansos. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan temuan itu dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (10/9/2026). Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa jutaan keluarga 'tak terlihat' akhirnya masuk ke dalam jaring pengaman sosial negara.

Saifullah menyatakan, setelah DTSEN dibentuk dan digunakan, sebanyak 4.330.417 KPM yang sebelumnya tidak pernah menerima bantuan kini menjadi penerima program pemerintah, baik PKH, bantuan pangan non tunai, maupun penerima bantuan iuran. 'Mereka yang kehidupannya berhasil dibantu oleh pemerintah setelah kehadirannya ditemukan melalui DTSEN,' ujarnya.

Konsolidasi Data yang Mengubah Arah Bansos

DTSEN merupakan social registry pertama di Indonesia yang menjadi basis data utama pemerintah. Data tunggal ini dikelola BPS, sementara kementerian/lembaga dan pemerintah daerah membantu pemutakhiran, verifikasi, dan validasi. Sebelumnya, data sosial dan ekonomi tersebar di berbagai instansi; kini diintegrasikan sesuai Inpres Nomor 4 Tahun 2025.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan DTSEN bukan daftar penerima bantuan atau beneficiary registry. 'DTSEN ini isinya adalah registrasi ataupun database yang merupakan kumpulan semua daftar penduduk Indonesia yang memiliki NIK dan KK yang kita jadikan satu di dalam satu data tunggal,' jelasnya. Keberadaan seseorang di DTSEN tidak otomatis menjadikannya penerima bansos; penentuan penerima tetap ada di masing-masing kementerian sesuai kebijakan.

Insight Bisnis: Efisiensi Fiskal dan Dinamika Data

Dari kacamata makroekonomi, temuan ini menunjukkan potensi perbaikan targeting belanja sosial. Selama ini, kebocoran dan salah sasaran menjadi momok fiskal. Dengan registri sosial yang lebih rapi, pemerintah punya peluang menekan inefisiensi, meski tidak serta-merta menambah beban anggaran karena penerima baru bisa berasal dari desil yang memang berhak. Namun, risiko tetap ada: kualitas data menentukan kredibilitas program.

Pemerintah mengakui DTSEN belum sempurna. Saifullah menegaskan kesalahan data tidak otomatis membuat seseorang kehilangan bantuan. 'Kalau sekarang datanya masih error, bukan berarti orang itu segera diputus bantuan sosialnya... masih perlu dipastikan, dikoreksi, didalami, ditelusuri, dan seterusnya nanti akan dilakukan verifikasi dan validasi,' tegasnya. Amalia menambahkan DTSEN bersifat dinamis dan masyarakat diberi jalur koreksi. 'Di balik setiap data, ada nama, ada keluarga, ada yang terus berjuang untuk dijangkau oleh DTSEN,' ungkapnya.

Bagi pelaku pasar dan dunia usaha, sinyalnya jelas: tata kelola data sosial yang semakin terintegrasi akan menjadi fondasi kebijakan subsidi dan bantuan di masa depan. Jika konsisten, DTSEN bisa meningkatkan akurasi belanja negara, memperkuat daya beli kelompok bawah, dan pada akhirnya menopang konsumsi rumah tanggaβ€”motor utama ekonomi Indonesia.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa itu DTSEN?
DTSEN adalah Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional, registri sosial pertama Indonesia yang menghimpun data penduduk ber-NIK dan KK untuk basis program pemerintah.

Apakah masuk DTSEN otomatis dapat bansos?
Tidak. DTSEN hanya registri sosial. Penentuan penerima bantuan dilakukan masing-masing kementerian sesuai kriteria dan kebijakan program.

Mengapa data DTSEN bisa berubah?
Karena kondisi sosial dan ekonomi masyarakat dinamis. Pemerintah membuka jalur koreksi dan melakukan verifikasi serta validasi berkala.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸