Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BRICS Kian Serius Tinggalkan Dolar, Mekanisme Pembayaran Baru Mengintip di KTT New Delhi

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

BRICS Kian Serius Tinggalkan Dolar, Mekanisme Pembayaran Baru Mengintip di KTT New Delhi
BAGIKAN:

Blok BRICS selangkah lebih maju dalam upaya kolektif melepaskan ketergantungan pada dolar AS. Menjelang KTT di New Delhi pekan ini, para anggota tengah mengkaji skema pembayaran lintas negara yang lebih murah dan cepat, dengan opsi mulai dari mata uang lokal, koneksi sistem pembayaran instan, hingga mata uang digital bank sentral (CBDC). Langkah ini bukan sekadar wacana, melainkan respons strategis terhadap biaya transaksi bilateral yang selama ini membebani dan ketidakpastian geopolitik yang membayangi sistem keuangan global.

Sumber pemerintah India yang dikutip TASS, Rabu (9/9/2026), menegaskan bahwa mekanisme baru dirancang untuk melengkapi sistem pembayaran global yang ada, bukan menggantinya. “Inisiatif ini tidak ditujukan untuk melawan negara atau kelompok tertentu,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa fokus utamanya adalah efisiensi perdagangan dan investasi. Namun, di balik nada diplomatis itu, sinyal politiknya jelas: BRICS ingin memiliki jalur pembayaran otonom yang tidak mudah diganggu guncangan kebijakan The Fed atau sanksi keuangan AS.

Mata Uang Lokal vs Mata Uang Tunggal: India Pilih Jalan Tengah

Di antara opsi yang mengemuka, penyelesaian transaksi langsung menggunakan mata uang nasional—serta menghubungkan jaringan pembayaran domestik—dinilai paling realistis. Menteri Perdagangan India Piyush Goyal secara terbuka menyatakan bahwa New Delhi lebih mendukung skema bilateral berbasis rupee dibandingkan pembentukan mata uang tunggal BRICS. Sikap ini sejalan dengan upaya India memperluas penggunaan rupee dalam perdagangan internasional, sekaligus mencerminkan pragmatisme di tengah perbedaan struktur ekonomi negara-negara BRICS yang timpang.

Gubernur Reserve Bank of India (RBI), Sanjay Malhotra, mengungkapkan bahwa koneksi sistem pembayaran cepat dan CBDC sedang dalam pembahasan serius. “Kami merasa ada banyak peluang untuk menekan biaya,” ujarnya. Ini bukan klaim kosong. Biaya kirim uang lintas negara melalui bank koresponden bisa mencapai 6-7% dari nilai transaksi, dan waktu penyelesaiannya berhari-hari. Dengan jaringan terhubung, biaya itu bisa ditekan di bawah 1%—sebuah terobosan yang akan mengubah peta perdagangan Selatan-Selatan.

Infrastruktur Pembayaran Masing-Masing Negara: Modal Besar BRICS

India telah memiliki Unified Payments Interface (UPI), RuPay, dan Structured Financial Messaging System. China mengoperasikan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) yang sudah mulai digunakan untuk transaksi minyak dan gas dengan Rusia. Rusia memiliki SPFS dan jaringan Mir, sementara Brasil mengandalkan sistem Pix yang dikenal super cepat. Di luar itu, inisiatif BRICS Pay yang didukung Dewan Bisnis BRICS juga terus mengeksplorasi penghubungan kanal pembayaran antaranggota.

Dari sudut pandang ekonomi makro, integrasi ini bukan hanya soal teknis. Ini adalah pergeseran struktural dalam arsitektur moneter dunia. Jika berhasil, BRICS akan menciptakan ekosistem pembayaran alternatif yang mengurangi permintaan terhadap dolar dalam perdagangan komoditas, manufaktur, dan jasa. Dampaknya, tekanan terhadap nilai tukar negara-negara berkembang bisa mereda, dan cadangan devisa tidak lagi harus didominasi greenback. Namun, tantangan tetap besar: harmonisasi regulasi, perbedaan standar keamanan siber, dan kesediaan bank sentral untuk saling mempercayai sistem mitra.

KTT New Delhi akan menjadi panggung penting untuk menguji sejauh mana komitmen politik ini. Bagi pelaku bisnis Indonesia, sinyal ini perlu dicermati—karena jika mekanisme pembayaran baru terwujud, biaya ekspor-impor ke Tiongkok, India, dan negara BRICS lainnya bisa turun signifikan, membuka ruang investasi lintas batas yang lebih besar. Namun, jangan berharap pergeseran ini terjadi dalam semalam; ini adalah maraton, bukan sprint.

FAQ Terkait Berita Ini

Apakah BRICS akan segera mengganti dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia?
Tidak secara instan. Mekanisme yang dibahas lebih fokus pada pembayaran perdagangan bilateral, bukan menggantikan peran dolar sebagai alat tukar global. Namun, jika skala transaksi non-dolar membesar, dominasi dolar bisa tergerus perlahan.

Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia yang bukan anggota BRICS?
Indonesia sebagai negara mitra dagang besar BRICS akan merasakan dampak tidak langsung—potensi biaya transaksi lebih rendah jika sistem terhubung dengan ASEAN. Namun, Indonesia juga perlu mengkaji kesiapan sistem pembayaran nasionalnya agar tidak tertinggal.

Apa risiko terbesar dari skema pembayaran alternatif ini?
Risiko terbesar adalah fragmentasi sistem keuangan global dan ketidakpastian regulasi. Selain itu, perbedaan infrastruktur dan tata kelola antarnegara bisa menimbulkan celah keamanan siber serta potensi konflik kepentingan dalam penetapan nilai tukar.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸