Prabowo Siap Gelontorkan Rp 3 Miliar per Emas Asian Games 2026 – Insentif Dahsyat atau Populisme?
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto secara mengejutkan menjanjikan bonus sebesar Rp 3 miliar bagi setiap atlet Indonesia yang berhasil meraih medali emas pada Asian Games 2026 mendatang. Janji tersebut disampaikan dalam sebuah video pernyataan resmi yang dirilis di kanal media sosial kepresidenan, Selasa (8/9). Langkah ini dinilai sebagai bentuk apresiasi luar biasa sekaligus upaya membangkitkan semangat juang kontingen merah-putih, namun tak sedikit pengamat yang mempertanyakan efektivitas dan keberlanjutan insentif fiskal semacam itu di tengah tekanan anggaran negara.
Insentif Finansial yang Memecah Rekor
Jika dibandingkan dengan bonus peraih emas di Asian Games 2018, nilai Rp 3 miliar ini melonjak hampir tiga kali lipat. Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, yang turut mendampingi dalam pernyataan tersebut, menambahkan bahwa skema pembayaran akan diatur melalui APBN dengan mekanisme transfer langsung ke rekening atlet maksimal satu bulan setelah perhelatan usai. Pemerintah juga menyiapkan bonus lapis kedua bagi peraih perak dan perunggu, masing-masing Rp 1,5 miliar dan Rp 750 juta.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius mengembalikan kejayaan olahraga nasional di kancah Asia, terutama setelah prestasi menurun pada edisi 2022 di Hangzhou. Namun, sebagai pakar ekonomi makro, saya menilai insentif sebesar ini harus dibarengi dengan peningkatan infrastruktur pembinaan atlet jangka panjang. Uang memang pemicu instan, tapi tanpa ekosistem latihan dan kompetisi yang berkelanjutan, bonus hanyalah 'permen' sesaat.
Kritik dan Dukungan dari Pelaku Olahraga
Sejumlah mantan atlet nasional menyambut antusias, namun juga mengingatkan agar pemerintah tidak lupa pada kesejahteraan atlet non-medali yang kerap terabaikan. Sementara itu, pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Dr. Rudi Hartono, menyebut janji ini bisa menjadi beban fiskal jika target emas meleset dari perkiraan – misalnya jika Indonesia meraih 20 emas, maka negara harus menyiapkan Rp 60 miliar, sebuah angka yang masih relatif kecil dibandingkan total belanja negara, namun tetap perlu perencanaan matang.
Di sisi lain, Asian Games 2026 yang akan digelar di Nagoya, Jepang, menjadi ajang pembuktian bagi generasi emas baru, termasuk cabang bulu tangkis, panahan, dan renang yang selama ini menjadi andalan. Bonus Rp 3 miliar juga dinilai sebanding dengan bonus negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, sehingga Indonesia tidak lagi dianggap pelit dalam memberi penghargaan.
FAQ Terkait Berita Ini
Apakah bonus Rp 3 miliar hanya untuk emas perorangan atau termasuk tim?
Bonus diberikan per atlet yang menyumbang emas, termasuk untuk cabang beregu. Setiap anggota tim penerima emas akan mendapat porsi sesuai kesepakatan internal dan aturan dari Kemenpora.
Kapan pencairan bonus dilakukan?
Pemerintah menargetkan pencairan maksimal 30 hari setelah penutupan Asian Games 2026, dengan verifikasi medali resmi dari panitia penyelenggara.
Apakah ada pajak yang dipotong dari bonus tersebut?
Menurut aturan perpajakan, bonus ini masuk kategori hadiah dan dikenakan PPh final sebesar 15% sesuai PP No. 94/2010, sehingga atlet akan menerima sekitar Rp 2,55 miliar bersih.


