Prabowo Puji Demokrat Tak Pernah Bakar-Bakar Saat Kalah: 'SBY Taruna Terbaik, Saya Bisa Diperbaiki'

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Prabowo Puji Demokrat Tak Pernah Bakar-Bakar Saat Kalah: 'SBY Taruna Terbaik, Saya Bisa Diperbaiki'
BAGIKAN:

Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto melontarkan pujian langka terhadap kedewasaan politik Partai Demokrat di tengah hiruk-pikuk konsolidasi kekuasaan. Dalam pidato perayaan HUT ke-25 partai berlambang bintang mercy di Jakarta, Rabu (9/9), Prabowo secara terang-terangan menyebut Demokrat sebagai kekuatan politik yang sportif—bahkan saat berada di luar pemerintahan—dan tidak pernah terlibat aksi anarkis atau fitnah. Pujian itu disampaikan di hadapan Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat sekaligus Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang juga pernah menjadi rival politiknya di masa lalu.

"Pernah di puncak, pernah tidak di puncak, pernah di pemerintahan, tidak. Tapi waktu tidak berkuasa, Partai Demokrat tidak caci-maki. Partai Demokrat tidak bakar-bakar," ujar Prabowo dengan nada tegas, disambut tepuk tangan riuh kader Demokrat. Pernyataan itu mengundang tanda tanya di kalangan pengamat, mengingat dinamika politik nasional pasca-Pemilu 2024 yang masih menyisakan ketegangan antara kubu pemerintah dan oposisi. Namun, Prabowo memilih merangkul, bukan memojokkan.

Bagi seorang jurnalis senior yang mengikuti jejak politik Prabowo Subianto sejak era reformasi, pidato ini bukan sekadar basa-basi. Ini adalah sinyal strategis. Di tengah upaya pemerintah membangun koalisi gemuk, Prabowo sadar bahwa mengkritik oposisi hanya akan memperlebar jurang. Sebaliknya, dengan mengangkat nilai sportivitas, ia melempar pesan bahwa demokrasi Indonesia membutuhkan musuh yang terhormat, bukan musuh yang dibenci. Apalagi, hubungan personal antara Prabowo dan SBY—yang pernah satu angkatan di Akademi Militer (Akmil) pada 1970-an—memberi bobot emosional pada pujian tersebut.

Empat Kali Kalah, Satu Kali Menang: Prabowo Bicara Pengalaman Pahit

Prabowo tidak hanya memuji Demokrat, tetapi juga membuka luka lama tentang perjalanan politiknya yang penuh liku. Ia menyebut telah empat kali tidak meraih kemenangan dalam kontestasi pemilu—baik pilpres maupun pilkada—namun mengaku selalu menerima hasil dengan lapang dada. "Saya waktu 4 kali tidak menang... saya pun terima. Ya sudah, kita maju lagi," katanya dengan nada santai, seolah menjadikan kekalahan sebagai batu loncatan. Pernyataan ini menjadi pengakuan jujur yang langka dari seorang kepala negara, sekaligus kritik halus kepada pihak-pihak yang kerap menggugat hasil pemilu secara berlebihan.

Di sisi lain, sikap koalisi pemerintah yang kini mulai merangkul Demokrat juga terbaca sebagai taktik untuk meredam potensi resistensi di parlemen. Demokrat, yang saat ini berada di luar kabinet, memiliki suara signifikan di DPR. Dengan memberikan panggung kehormatan di hari ulang tahun partai, Prabowo seolah mengirim sinyal: "Kami menghargai Anda, mari kita bangun negeri bersama." Namun, pertanyaannya, sejauh mana tawaran gotong royong ini akan berbuah manis, ataukah sekadar retorika tahun politik?

SBY dan Prabowo: Dari Akmil ke Istana, Kisah Persahabatan yang Tak Pernah Padam

Momen paling emosional dalam pidato itu adalah ketika Prabowo mengenang masa muda bersama SBY di Akmil Magelang. Ia menyebut SBY sebagai taruna cemerlang dan salah satu putra terbaik bangsa. "Memang dari awal sudah kelihatan Pak SBY memang taruna yang terbaik. Tapi Prabowo Subianto taruna yang bisa diperbaiki," ucapnya disambut gelak tawa hadirin. Kalimat itu bukan hanya candaan, tetapi juga pengakuan bahwa perjalanan keduanya—dari teman sekelas menjadi rival politik, lalu kini kembali dalam hubungan hormat—adalah cermin dinamika elite Indonesia.

Bagi pengamat politik, pernyataan ini bisa dimaknai sebagai upaya Prabowo untuk menepis isu keretakan antara dirinya dan SBY yang sempat memanas pada 2019. Dengan menyebut SBY sebagai taruna terbaik, Prabowo secara tak langsung mengakui kapasitas SBY sebagai pemimpin, sembari merendah dengan menyebut dirinya "bisa diperbaiki". Taktik komunikasi ini cerdas: ia tidak hanya memuji lawan, tetapi juga menunjukkan keteladanan bahwa kekalahan bukanlah aib, melainkan pelajaran.

Gotong Royong atau Realpolitik?

Di akhir pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia adalah negara besar yang membutuhkan gotong royong. Ia mengajak semua pihak—baik yang berkuasa maupun yang tidak—untuk bahu-membahu membangun bangsa. Namun, sebagai jurnalis yang kerap meliput praktik kekuasaan, saya melihat ada dua sisi dari seruan ini. Di satu sisi, ini adalah nilai luhur Pancasila yang patut diapresiasi. Di sisi lain, ini bisa menjadi alat untuk membungkam kritik dengan dalih kebersamaan. Apakah Demokrat akan benar-benar dilibatkan dalam pembangunan nasional secara substantif, atau hanya sekadar ditempatkan sebagai ornamen politik? Waktu yang akan menjawab.

Yang jelas, pidato Prabowo kali ini berhasil menciptakan narasi baru: bahwa persaingan politik tidak harus diwarnai permusuhan. Ini adalah angin segar di tengah iklim politik yang kerap panas. Namun, publik tetap perlu mengawal apakah pujian ini akan berbuah kebijakan nyata atau hanya episode sandiwara di atas panggung demokrasi.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apa makna pernyataan Prabowo bahwa Demokrat tidak bakar-bakar saat di luar pemerintahan?
Pernyataan itu merujuk pada sikap Partai Demokrat yang dinilai tidak melakukan aksi anarkis atau ujaran kebencian ketika berada di luar kekuasaan, berbeda dengan beberapa kelompok yang kerap memanas-manasi situasi. Ini juga menjadi pujian atas kedewasaan berpolitik Demokrat di mata Prabowo.

2. Mengapa Prabowo mengenang masa lalu dengan SBY di Akmil?
Prabowo ingin menekankan bahwa hubungan personal dan persahabatan lama dapat melampaui rivalitas politik. Dengan menyebut SBY sebagai taruna terbaik, ia membangun citra bahwa perbedaan politik tidak menghapus rasa hormat, sekaligus meredam ketegangan yang pernah terjadi di antara keduanya.

3. Apakah ini sinyal bahwa Demokrat akan bergabung ke koalisi pemerintahan?
Meskipun tidak secara eksplisit, pidato ini dapat dibaca sebagai pembuka jalan bagi komunikasi lebih intens antara pemerintah dan Demokrat. Namun, hingga saat ini Demokrat masih menyatakan diri sebagai oposisi yang kritis, dan belum ada keputusan resmi mengenai perubahan sikap politik.

Meow! Tanya Nesi!
😸