MRT Bukan Sekadar Bangun Jalur, Kini Siap 'Hidupkan' Kota Tua dengan Sentuhan Placemaking Berbeda dari Blok M

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

MRT Bukan Sekadar Bangun Jalur, Kini Siap 'Hidupkan' Kota Tua dengan Sentuhan Placemaking Berbeda dari Blok M
BAGIKAN:

Jakarta, 9 September 2026 – PT MRT Jakarta (Perseroda) resmi menyiapkan revitalisasi kawasan Kota Tua dengan pendekatan placemaking yang pernah diterapkan di Blok M. Namun, kali ini identitas sejarah dan kultur Kota Tua akan menjadi fondasi utama, bukan sekadar gaya urban modern. Langkah ini diumumkan dalam MRT Jakarta Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Rabu (9/9), menandai fase baru pengembangan kawasan berbasis transit yang tak hanya menggerakkan ekonomi lokal tetapi juga menjaga narasi historis ibu kota.

Division Head Business Planning and Expansion MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta Pranowo, menegaskan bahwa revitalisasi ini tidak akan menghilangkan ciri khas kawasan seperti Chinatown, Little Amsterdam, dan Glodok sebagai sentra elektronik. “Kami ingin Kota Tua tetap hidup dengan mempertahankan heritage-nya, lalu dikombinasikan dengan ritel dan komunitas,” ujarnya. Berbeda dengan Blok M yang kini bertransformasi menjadi ruang anak muda dengan nostalgia urban, Kota Tua akan mengusung sejarah sebagai magnet utama – sebuah strategi bisnis yang cerdas di tengah gempuran komersialisasi homogen di kota besar.

Analisis: Mengapa Pendekatan Ini Brilian dan Berisiko?

Dari sudut pandang ekonomi makro, keberhasilan placemaking MRT di Blok M – yang kini dikunjungi 40.000 orang per hari kerja dan 70.000 di akhir pekan – menunjukkan bahwa transportasi publik bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Hampir 500 UMKM telah menjadi tenant di ekosistem Blok M, dan yang lebih menarik, para juru parkir informal pun direkrut menjadi petugas resmi. Ini adalah contoh inklusi sosial yang jarang terjadi dalam proyek revitalisasi. Namun, tantangan di Kota Tua lebih kompleks: mengemas sejarah tanpa membuatnya jadi museum mati, serta menyeimbangkan kepentingan pedagang lama dengan konsep baru yang lebih teratur. MRT tampaknya sadar bahwa identitas adalah aset, tetapi tanpa aktivitas ekonomi yang berkelanjutan, heritage hanya akan menjadi latar foto semata.

Blok M Baru Setengah Jalan, Kota Tua Jadi Uji Selanjutnya

Samuel mengakui bahwa revitalisasi Blok M masih separuh jalan, namun dampaknya sudah terasa. Kehadiran Taman Literasi, Blok M Hub, dan berbagai festival mampu mendongkrak kunjungan hingga 80.000-90.000 orang saat ada acara khusus. Prinsip placemaking yang diusung MRT berfokus pada empat pilar: akses dan konektivitas, kenyamanan dan citra, aktivitas dan pengguna, serta interaksi sosial. Konsep ini akan diadaptasi untuk Kota Tua dengan tetap menjaga karakter Glodok dan Pecinan, serta menambahkan elemen ritel dan komunitas yang mendukung fungsi wisata. Rencana ini terkait erat dengan pembangunan MRT Fase 2A (Bundaran HI–Kota Tua) yang akan melewati Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan ujungnya Kota Tua. Dengan demikian, integrasi antar moda dan ruang pejalan kaki menjadi kunci, sejalan dengan konsep TOD (Transit-Oriented Development) yang mulai diterapkan di berbagai stasiun.

Pintu Besar Selatan dan Indikator Keberhasilan

MRT juga telah menyusun Urban Design Guideline untuk kawasan Glodok-Kota Tua, mencakup commercial active frontage, jalur pedestrian yang aman, serta ruang hijau dan biru. Namun, hingga kini belum ada rincian jadwal, nilai investasi, atau bentuk fisik revitalisasi. Yang jelas, keberhasilan akan diukur dari jumlah pengunjung, keterlibatan tenant dan komunitas, kenyamanan, serta tingkat kepuasan pemangku kepentingan. Bagi pelaku usaha, ini adalah sinyal bahwa akses dan keramaian akan meningkat, tetapi mereka harus siap beradaptasi dengan tata kelola yang lebih formal dan berbasis komunitas. Bagi pemerintah daerah, proyek ini menjadi percontohan bagaimana revitalisasi perkotaan bisa mengangkat ekonomi tanpa mengorbankan akar sejarah.

FAQ Terkait Berita Ini

Apakah revitalisasi Kota Tua akan menghilangkan pasar elektronik di Glodok?
Tidak, MRT justru mempertahankan identitas Glodok sebagai kawasan elektronik dan Pecinan, tetapi menambahkan aktivitas ritel dan komunitas untuk membuat kawasan lebih hidup.

Kapan proyek revitalisasi Kota Tua dimulai?
Masih dalam tahap konsep dan pengembangan; belum ada jadwal pasti maupun nilai investasi yang dirinci oleh MRT.

Bagaimana perbedaan pendekatan placemaking MRT di Blok M dan Kota Tua?
Blok M diarahkan sebagai ruang anak muda urban-nostalgia, sedangkan Kota Tua akan bertumpu pada sejarah, budaya China dan kolonial, serta fungsi wisata yang lebih kuat.

Meow! Tanya Nesi!
😸