Lonjakan 267%! Pertamax Green 95 Jadi Primadona, Sinyal Kuat Transisi Energi RI

PT Pertamina Patra Niaga mencatat rekor penjualan bahan bakar minyak (BBM) beroktan tinggi, Pertamax Green 95, yang melesat 267% sepanjang periode awal 2025 hingga Agustus 2026. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata pergeseran perilaku konsumen kendaraan bermotor di Indonesia menuju produk energi yang lebih ramah lingkungan, meski dengan harga yang masih premium.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, dalam paparan internal yang dikutip Rabu (9/9/2026), menyebut bahwa volume penjualan produk dengan campuran bioetanol 5% (E5) itu kini rata-rata mencapai 1,2 juta barel per bulan, naik drastis dibandingkan rata-rata 328 ribu barel per bulan pada awal 2025. Lonjakan ini terjadi di tengah kebijakan pemerintah yang terus mendorong energi terbarukan dan kesadaran masyarakat akan emisi karbon, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Mengapa Pertamax Green 95 Diserbu?
Ada tiga pemicu utama. Pertama, harga jual yang kompetitif dibandingkan Pertamax Turbo, namun menawarkan angka oktan 95 yang setara, sehingga menjadi pilihan logis bagi pemilik kendaraan modern yang membutuhkan kompresi tinggi. Kedua, insentif fiskal dari pemerintah melalui subsidi silang dan keringanan pajak kendaraan rendah emisi turut mendongkrak permintaan. Ketiga, kampanye agresif Pertamina yang menyasar komunitas otomotif dan milenial energi berhasil mengubah persepsi bahwa bahan bakar ramah lingkungan tidak selalu berarti performa menurun.
Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat ini adalah sinyal positif bagi neraca perdagangan Indonesia. Dengan meningkatnya konsumsi bioetanol yang diproduksi dari tebu lokal, kita tidak hanya mengurangi impor BBM fosil, tetapi juga menyerap hasil pertanian domestik. Namun, tantangan tetap ada: ketersediaan bahan baku bioetanol dan infrastruktur distribusi yang merata. Jika lonjakan ini terus berlanjut, Pertamina harus memastikan rantai pasok tidak terganggu, terutama di luar Jawa.
Dampak pada Industri dan Konsumen
Bagi konsumen, peralihan ke Pertamax Green 95 memberikan keuntungan ganda: efisiensi pembakaran yang lebih baik dan rasa berkontribusi pada transisi energi RI. Di sisi lain, industri otomotif juga mulai menyesuaikan, dengan beberapa pabrikan bahkan merekomendasikan penggunaan E5 untuk varian terbaru mereka. Analisis saya, tren ini akan mendorong Pertamina untuk mempercepat program mandatori B30 di sektor transportasi, sekaligus membuka peluang investasi bagi produsen etanol skala kecil.
Yang perlu diwaspadai adalah potensi gejolak harga jika pasokan etanol tersendat akibat cuaca ekstrem atau gangguan panen tebu. Pemerintah dan BUMN energi harus bergerak cepat membangun cadangan strategis dan diversifikasi sumber bioetanol, misalnya dari singkong atau jagung, agar momentum ini tidak berakhir sebagai euforia sementara.
FAQ Terkait Berita Ini
- Apa perbedaan Pertamax Green 95 dengan Pertamax biasa? Pertamax Green 95 mengandung 5% bioetanol (E5) dari bahan nabati, sedangkan Pertamax biasa (RON 92) sepenuhnya fosil. Green 95 memiliki oktan lebih tinggi dan emisi karbon lebih rendah.
- Apakah semua kendaraan bisa menggunakan Pertamax Green 95? Sebagian besar kendaraan berbahan bakar bensin modern (tahun 2010 ke atas) kompatibel. Namun, untuk kendaraan lawas, sebaiknya cek manual atau konsultasi dengan bengkel resmi.
- Bagaimana prospek harga ke depan? Harga akan sangat dipengaruhi oleh biaya produksi etanol dan harga minyak dunia. Saat ini, Pertamina masih menahan harga agar tetap kompetitif, namun kenaikan bisa terjadi jika subsidi dialihkan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama

Pemerintah Duga Praktik 'Mafia' di Balik Skandal Gizi 25 Merek Beras Fortifikasi

Inflasi Oktober Tembus 3,23%, Sentuh Batas Atas Target BI dan Pemerintah
