Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Krisis Listrik 48 Jam di Gambia: Rakyat Turun ke Jalan, Teriak 'Barrow Lengser' Jelang Pilpres

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Krisis Listrik 48 Jam di Gambia: Rakyat Turun ke Jalan, Teriak 'Barrow Lengser' Jelang Pilpres
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Kemarahan warga Gambia meledak setelah pemadaman listrik berlangsung hingga 48 jam di ibu kota Banjul dan sekitarnya, Selasa (8/9/2026).
  • Ribuan demonstran membakar ban, mendirikan barikade, dan meneriakkan tuntutan agar Presiden Adama Barrow segera lengser.
  • Aksi ini dipicu oleh krisis listrik berkepanjangan yang kian memperburuk hajat hidup warga, bersamaan dengan tekanan ekonomi dan politik menjelang pemilihan presiden Desember mendatang.

Kemarahan warga Gambia meledak setelah pemadaman listrik berlangsung hingga 48 jam di ibu kota Banjul dan sekitarnya, Selasa (8/9/2026). Ribuan demonstran membakar ban, mendirikan barikade, dan meneriakkan tuntutan agar Presiden Adama Barrow segera lengser. Aksi ini dipicu oleh krisis listrik berkepanjangan yang kian memperburuk hajat hidup warga, bersamaan dengan tekanan ekonomi dan politik menjelang pemilihan presiden Desember mendatang.

Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang berkumpul di sejumlah titik, termasuk di dekat kediaman resmi Presiden Barrow dan kantor partai berkuasa National People's Party (NPP). Di Farato, pengunjuk rasa merusak spanduk partai dan berdemonstrasi di luar kediaman Wakil Presiden Mohammed B.S. Jallow. Meski ketegangan mereda menjelang fajar, insiden ini menjadi alarm keras bagi stabilitas politik Gambia.

Lonjakan Permintaan Listrik di Tengah Infrastruktur Renta

Perusahaan listrik nasional NAWEC mengakui bahwa lonjakan permintaan akibat suhu udara ekstrem serta insiden teknis pada unit pembangkit utama memaksa mereka menerapkan pemadaman bergilir. Namun, warga menilai penjelasan itu sebagai pembenaran atas kelalaian pengelolaan energi yang sudah kronis. "Tidak ada listrik di mana-mana. Orang terus mengeluh," ujar Ousainu Jammeh, warga Westfield, yang ikut turun jalan setelah gas air mata masuk ke rumahnya.

Krisis infrastruktur energi ini sebenarnya bukan baru. Gambia, yang sangat bergantung pada pasokan listrik impor dan pembangkit tua, sudah lama menghadapi defisit daya. Namun, pemadaman 48 jam di musim panas menjadi pemicu sempurna bagi akumulasi ketidakpuasan terhadap pemerintahan Barrow.

Analisis: Isu Kelistrikan Jadi Senjata Politik di Tahun Pemilu

Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat insiden ini bukan sekadar masalah teknis. Pemadaman listrik yang masif dan berlarut-larut menyerang produktivitas usaha, terutama UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Gambia. Biaya operasional membengkak, bahan pangan rusak, dan aktivitas ekonomi tersendat. Dalam jangka pendek, ini memicu inflasi dan menekan daya beli โ€“ pukulan telak bagi rakyat kecil.

Politiknya, momentum ini sangat krusial. Barrow, yang berusaha meraih masa jabatan ketiga, kini harus menghadapi gelombang protes yang langsung menyentuh dapur rakyat. Juru bicara kepolisian bungkam, sedangkan Barrow dijadwalkan mengunjungi fasilitas NAWEC dan pidato malam ini โ€“ sebuah manuver yang bisa jadi upaya meredam amarah, namun juga bisa menjadi bumerang jika tak diikuti solusi konkret.

Investor asing dan lembaga donor pasti mencermati situasi ini. Stabilitas politik dan keandalan infrastruktur adalah prasyarat utama iklim investasi. Jika krisis seperti ini berulang, Gambia bisa kehilangan kepercayaan donor, memperburuk defisit fiskal, dan mengancam program pemulihan ekonomi pasca-pandemi.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa penyebab utama pemadaman listrik di Gambia?
Penyebab utama adalah lonjakan permintaan listrik akibat cuaca panas ekstrem dan gangguan teknis pada salah satu pembangkit utama, sehingga perusahaan listrik NAWEC menerapkan pemadaman bergilir.

Mengapa demonstrasi sampai menuntut presiden lengser?
Kemarahan warga sudah lama memendam ketidakpuasan terhadap kelistrikan yang buruk dan kondisi ekonomi sulit. Pemadaman 48 jam menjadi pemicu akhir, dan momentum pilpres membuat tuntutan politik menguat.

Bagaimana dampak ekonomi dari krisis ini?
Gangguan listrik menghambat usaha, memicu kenaikan biaya produksi, dan mengancam inflasi. Jika berlarut, dapat menurunkan kepercayaan investor dan memperlambat pemulihan ekonomi Gambia.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ