Kepala BRI di Rantau Prapat: Dari Jalan Berlumpur ke Jembatan Naik Kelas UMKM
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

M A Hasibuan, Kepala Unit BRI Sigambal di Rantau Prapat, Sumatra Utara, rela menempuh jalan berlumpur dan area tanpa sinyal demi menemui nasabah. Baginya, mendampingi UMKM bukan sekadar tugas, melainkan misi mengubah hidup. Ia tidak hanya menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), tetapi juga mendengar keluhan, memberi edukasi keuangan, dan mendorong digitalisasi. Hasilnya, sejumlah nasabah berhasil naik kelasâdari pembiayaan mikro ke kredit komersialâmenunjukkan bahwa akses modal yang tepat, ditambah pendampingan intensif, mampu menggerakkan ekonomi riil di daerah terpencil.
Kisah ini menjadi cermin strategi inklusi keuangan yang dijalankan BRI secara konsisten. Bukan sekadar menyalurkan pinjaman, BRI menempatkan para kepala unit sebagai ujung tombak yang hadir langsung di tengah masyarakat, bahkan di pelosok yang belum tersentuh jaringan telepon. "Menjadi Kepala Unit BRI bukan sekadar profesi, melainkan sebuah kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan kehidupan masyarakat," ujar Hasibuan dalam kunjungan rutinnya ke nasabah di Rantau Prapat.
Lebih dari Angka: Mendengar dan Menyentuh
Hasibuan menekankan bahwa kebutuhan pelaku usaha tidak selalu terbaca dari dokumen pengajuan kredit. Dengan turun langsung, ia bisa melihat aktivitas usaha, berdiskusi, dan memahami kondisi riilâmulai dari pedagang yang butuh tambahan modal, hingga keluarga yang menggantungkan hidup pada satu usaha. Pendekatan ini menghasilkan solusi pembiayaan yang lebih tepat, sesuai kapasitas dan potensi tumbuh.
"Saya ingin menjadi jembatan perubahan bagi masyarakat. Mereka perlu melihat bahwa modal yang tampak kecil bisa mengubah nasib keluarga. Ketika usaha mereka berkembang, itu kebanggaan tersendiri bagi saya," tambahnya. Analisis saya: Di tengah gemerlap fintech dan digital lending, pendekatan human touch seperti ini justru menjadi pembeda. Bank konvensional sering terjebak dalam birokrasi skor kredit, padahal UMKM di daerah membutuhkan kepercayaan dan pendampingan yang tidak bisa digantikan oleh algoritma.
Dari KUR ke Kredit Komersial: Tanda Naik Kelas
Dampak pendampingan terlihat dari sejumlah nasabah yang awalnya hanya mengakses KUR, kini secara bertahap beralih ke kredit komersial seiring peningkatan skala usaha. Ini adalah indikator penting: usaha kecil yang mendapat suntikan modal dan bimbingan bisa tumbuh, dan ketika kebutuhan pembiayaan membesar, mereka layak mendapatkan fasilitas perbankan yang lebih kompetitif. "Artinya, apa yang kita lakukan bersama memberikan hasil," kata Hasibuan.
Fenomena ini sejalan dengan visi besar ekonomi berkelanjutan yang digaungkan pemerintah. UMKM menyumbang lebih dari 60% PDB Indonesia, namun akses perbankan masih timpang. Keberhasilan Hasibuan membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, potensi daerah terpencil bisa dioptimalkan, dan dampaknya langsung terasa pada kesejahteraan keluarga.
Literasi Digital: BRImo, QRIS, dan BRILink Agen
Selain modal, Hasibuan aktif mengenalkan layanan digital BRI seperti BRImo, QRIS, dan BRILink Agen. Ia menilai literasi keuangan dan digital menjadi kunci agar UMKM tidak tertinggal. Transaksi jadi lebih mudah, aman, dan efisien, sekaligus memperluas akses ke layanan formal. Hal ini juga mengurangi ketergantungan pada rentenir yang sering membebani dengan bunga tinggi.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan, "Inklusi keuangan bukan hanya tentang akses produk, tapi juga pendampingan dan solusi yang sesuai. Insan BRI hadir, mendengarkan, dan tumbuh bersama masyarakat." Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen BRI untuk tidak sekadar menjadi penyalur kredit, tetapi partner sejati bagi pelaku usaha di setiap tahap perjalanan mereka.
Catatan redaksi: Kisah Hasibuan adalah contoh nyata bagaimana peran petugas bank di lapangan bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi. Namun, tantangan ke depan adalah memperluas model ini ke ribuan unit BRI lainnya, sekaligus mengimbangi percepatan digitalisasi agar tidak kehilangan sentuhan personal. Jika berhasil, bukan mustahil Indonesia akan melahirkan lebih banyak pengusaha kecil yang "naik kelas" dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang dimaksud dengan 'naik kelas' bagi UMKM?
Naik kelas adalah proses peningkatan skala usaha, kapasitas produksi, dan akses pembiayaanâmisalnya dari KUR mikro ke kredit komersialâyang menunjukkan pertumbuhan dan keberlanjutan usaha.
Mengapa BRI fokus pada pendampingan langsung di daerah terpencil?
Karena banyak UMKM di daerah belum memiliki akses ke perbankan dan literasi keuangan. Pendampingan langsung membantu mengidentifikasi kebutuhan riil dan membangun kepercayaan, sehingga pembiayaan tepat sasaran.
Bagaimana peran digitalisasi seperti BRImo dan QRIS membantu UMKM?
Digitalisasi mempermudah transaksi, memperluas jangkauan pasar, mencatat arus kas, dan mengurangi risiko kehilangan uang tunai. Ini juga membuka peluang untuk menerima pembayaran digital dari pelanggan di mana saja.


