Longsor Hantam Gunung Fuji: 3 Kendaraan Terkubur, Alarm Overtourism dan Cuaca Ekstrem

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Longsor Hantam Gunung Fuji: 3 Kendaraan Terkubur, Alarm Overtourism dan Cuaca Ekstrem
BAGIKAN:

Jakarta — Tanah longsor yang dipicu angin kencang dan hujan lebat menghantam area parkir Gunung Fuji di Shizuoka, Jepang, Rabu (10/10/2026), mengubur tiga kendaraan milik pekerja dan memicu operasi penyelamatan dua pendaki di tengah lonjakan kunjungan musim panas. Insiden di salah satu gerbang akses utama gunung berapi setinggi 3.776 meter itu tidak menimbulkan korban luka, tetapi menjadi alarm baru bagi industri pariwisata Jepang yang tengah bergulat dengan risiko cuaca ekstrem dan tekanan overtourism.

Pejabat pemeliharaan jalan pemerintah daerah Shizuoka, Hisayuki Motohashi, menyatakan tidak ada korban luka dalam insiden di tempat parkir tersebut. Namun, dua pejalan kaki dilaporkan terjebak. Polisi Shizuoka dikerahkan untuk membantu evakuasi. Seorang pria berusia 30-an atau 40-an ditemukan pingsan di dekat puncak, sementara pria lain berusia 60-an ditemukan terjatuh di jalan setapak pada hari yang sama. Kondisi keduanya belum dirinci.

Cuaca Ekstrem dan Kerentanan Infrastruktur

Pemerintah daerah Shizuoka dan pemandu gunung resmi mengunggah video serta foto dari gunung pada Kamis pagi. Tampak akses jalan dan jalur berkerikil tertutup kabut tebal dan hujan. Bagi pelaku pasar, ini bukan sekadar bencana lokal: tanah longsor di kawasan wisata ikonik dapat mengganggu arus kunjungan, pendapatan daerah, hingga klaim asuransi perjalanan.

pariwisata Jepang memang sedang diuji. Gunung Fuji menarik lebih dari 200.000 pendaki setiap tahun selama periode pembukaan resmi Juli-September. Polisi setempat menyelamatkan puluhan orang dan melaporkan beberapa kematian setiap tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, warga sekitar memperketat aturan akses untuk mengurangi overtourism, menghentikan pendaki tanpa perlengkapan memadai, dan mewajibkan pengunjung menginap minimal satu malam di pondok jalur pendakian.

Insight Bisnis: Manajemen Risiko Destinasi

Dari kacamata ekonomi makro, insiden ini menegaskan bahwa destinasi wisata premium tidak lagi bisa mengandalkan daya tarik alam semata. Perubahan pola cuaca menaikkan premi risiko operasional: penutupan akses, biaya SAR, gangguan rantai pasok lokal, dan potensi penurunan reputasi. Pemerintah dan operator wisata perlu memperkuat sistem peringatan dini, asuransi berbasis risiko, serta kuota kunjungan yang adaptif. Tanpa itu, lonjakan wisatawan hanya akan memperbesar kerentanan ketika cuaca ekstrem datang.

Hingga Kamis, otoritas setempat belum mengumumkan penutupan total akses. Namun, bagi investor dan pelaku bisnis pariwisata, sinyalnya jelas: ketahanan iklim dan tata kelola kunjungan akan menjadi faktor penentu valuasi destinasi dalam satu dekade ke depan.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa penyebab tanah longsor di Gunung Fuji? Angin kencang dan hujan lebat dilaporkan melanda gunung tersebut sebelum longsor terjadi di area parkir.

Apakah ada korban jiwa? Tidak ada korban luka dalam insiden di tempat parkir. Namun, dua pendaki dilaporkan terjebak dan kondisinya belum dirinci.

Mengapa insiden ini penting bagi bisnis pariwisata? Karena Gunung Fuji adalah destinasi ikonik dengan lebih dari 200.000 pendaki per tahun, sehingga gangguan akses dapat berdampak pada pendapatan daerah, asuransi, dan reputasi pariwisata Jepang.

Meow! Tanya Nesi!
😸