Hilang di Tengah Gelombang: Tim SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak di Perairan Selat Sunda
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Hari kedua pencarian speed boat yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal di perairan Selat Sunda masih belum membuahkan hasil. Tim SAR gabungan memperluas area penyisiran hingga ke sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang, setelah rombongan dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9) sore saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Operasi yang melibatkan Basarnas, TNI-Polri, dan unsur nelayan ini mengerahkan empat unit pencarian (SRU) dengan total jalur penyisiran mencapai lebih dari 200 nautical mile.
Menurut Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto, pencarian hari kedua dimulai pukul 07.00 WIB dengan membagi tim menjadi empat SRU. "SRU 1 menggunakan KN SAR Tetuka 247 dengan jarak 68,3 NM, SRU 2 menggunakan KAL Anyer sejauh 69,5 NM, sementara SRU 3 dan SRU 4 menyisir area sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang menggunakan RIB," jelas Rizky dalam keterangan resmi, Rabu (9/9). Ia menambahkan bahwa seluruh pergerakan kapal dan drone thermal dikerahkan, namun cuaca cerah berawan dengan gelombang 0,4–1 meter justru menjadi tantangan tersendiri karena arus bawah laut yang tidak bisa diprediksi.
Kronologi Hilangnya Kontak dan Titik Terakhir
Rombongan bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada pukul 14.00 WIB, dengan tujuan meliput peningkatan aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Salah seorang jurnalis sempat mengirimkan koordinat terakhir pukul 14.42 WIB, namun komunikasi terputus total sekitar pukul 15.04 WIB. Delapan orang di dalam kapal terdiri dari kapten Warta (55), ABK Surakman (60), guide Heriyanto (49), serta lima jurnalis: M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (freelance). Hingga berita ini diturunkan, belum ada sinyal atau benda terapung yang mengindikasikan keberadaan mereka.
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Yuni Isawandari, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menurunkan tiga kapal patroli, yaitu KP XXV-1001, KP XXV-2009, dan KP Hayabusa 3008, untuk ikut serta dalam operasi gabungan. "Kami fokus pada perairan Pulau Legundi, Pulau Sebesi, hingga kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau," ujar Yuni. Namun, koordinasi lintas instansi ini masih menyisakan pertanyaan: mengapa pencarian baru dilakukan secara masif pada hari kedua, padahal laporan hilang kontak sudah diterima sejak Senin malam?
Analisis: Risiko Liputan dan Kesiapan SAR
Kejadian ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi jurnalis di lapangan, terutama saat meliput bencana alam di lokasi terpencil. Meskipun tim SAR bergerak cepat setelah laporan resmi, jeda waktu antara hilang kontak dan dimulainya operasi skala penuh—hampir 12 jam—menjadi catatan kritis. Sebagai sesama insan pers, kami menilai perlu adanya protokol darurat khusus bagi rombongan liputan ke zona rawan, termasuk kewajiban membawa perangkat pelacak satelit dan jadwal check-in berkala. Selain itu, keterlibatan nelayan setempat yang diimbau oleh Basarnas patut diapresiasi, namun sinergi dengan teknologi pencarian seperti sonar dan drone bawah air masih terlihat minimal. Apakah anggaran dan kesiapan peralatan SAR di perairan Selat Sunda sudah memadai? Ini adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh pemerintah, mengingat Selat Sunda merupakan jalur strategis yang rawan kecelakaan laut.
Di sisi lain, semangat para jurnalis yang nekat meliput aktivitas alam yang sedang meningkat—meskipun status Gunung Anak Krakatau masih level II (Waspada)—menunjukkan dedikasi tinggi terhadap tugas. Namun, keselamatan jiwa harus tetap menjadi prioritas utama. Kami berharap operasi hari kedua ini tidak hanya memperluas area, tetapi juga memanfaatkan data arus dan angin secara real-time untuk memprediksi pergerakan kapal. Keselamatan jurnalis adalah tanggung jawab bersama, baik dari perusahaan media, pemerintah, maupun masyarakat pengguna laut.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apa yang menyebabkan rombongan jurnalis hilang kontak?
Rombongan diduga mengalami kendala mesin atau cuaca buruk di perairan Selat Sunda. Komunikasi terputus sekitar 20 menit setelah titik lokasi terakhir dikirim, dan hingga kini belum ada kabar dari mereka.
2. Bagaimana perkembangan pencarian terbaru?
Tim SAR gabungan memperluas area penyisiran dengan empat unit kapal dan drone thermal. Hingga Rabu sore, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan speed boat maupun delapan orang di dalamnya. Pencarian akan dievaluasi setiap 6 jam berdasarkan kondisi cuaca dan arus.
3. Apa yang dilakukan pemerintah untuk mencegah kejadian serupa?
Pemerintah daerah dan Basarnas mengimbau agar setiap rombongan liputan ke daerah rawan melapor ke posko SAR terdekat dan membawa perangkat komunikasi cadangan. Namun, belum ada regulasi khusus yang mewajibkan hal tersebut—sebuah celah yang perlu segera diatasi.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Sudin Perpustakaan Jakut Luncurkan Book Camp 2026: 85 Duta Literasi Targetkan Ekosistem Kebiasaan Baca Berkelanjutan

BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang

Wisatawan ke Jakarta Capai 8,58 Juta Perjalanan, Naik 6,37 Persen Sepanjang September 2026
