Hilang di Tengah Erupsi: Nasib 5 Jurnalis dan 3 Kru di Selat Sunda Masih Misterius

Malam berganti siang, namun kabar dari delapan orang yang hilang di Perairan Selat Sunda sejak Selasa (8/9) belum juga terdengar. Lima jurnalis dari berbagai media dan tiga awak kapal speedboat dikabarkan lenyap saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau yang tengah erupsi. Hingga Rabu (9/9) pagi, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, Polda Banten, Polairud, Lanal, TNI, dan BPBD masih menyisir laut, namun pencarian udara terpaksa ditahan karena ancaman letusan.
Operasi SAR yang digelar sejak Selasa malam itu belum membuahkan hasil. Kapolda Banten, Irjen Hengki, mengakui bahwa medan dan kondisi vulkanik menjadi kendala terbesar. “Kami terus bekerja keras, tetapi keselamatan tim pencari juga tidak bisa ditawar,” ujarnya di posko darurat, Rabu. Pernyataan itu sekaligus menggambarkan dilema aparat: antara kecepatan menyelamatkan nyawa dan risiko yang harus ditanggung para penyelamat.
Kronologi Lengkap: Berangkat Senin, Hilang Selasa
Rombongan berangkat dari pesisir Banten pada Senin (7/9) dengan speedboat yang dikemudikan Warta (55), dibantu Surakman (60) dan pemandu Heriyanto (49). Mereka membawa lima jurnalis: M Bagus Khoirunnas (fotografer LKBN ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (wartawan lepas). Komunikasi terakhir diterima Selasa pagi, sebelum sinyal mereka hilang begitu saja di tengah gelombang dan abu vulkanik.
Menurut data PVMBG, Gunung Anak Krakatau sedang dalam status waspada dengan radius larangan 3 kilometer. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa rombongan justru melaju ke arah yang lebih dekat, mungkin untuk mendapatkan sudut liputan terbaik. Pertanyaannya: apakah imbauan resmi telah diabaikan, atau ada koordinasi yang tidak jelas antara pihak keamanan dan awak media? Saya menilai ada celah prosedur yang harus diusut, mengingat peliputan bencana sering kali terjebak antara idealisme dan keselamatan.
Pencarian Laut Terus Digelar, Udara Masih Dianggap Terlalu Berisiko
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR telah menyisir jalur laut dari Anyer hingga sekitar perairan GAK. Kapolda menjelaskan bahwa pemantauan udara belum memungkinkan karena kondisi erupsi yang fluktuatif. “Saya akan meminta petunjuk nanti,” katanya, memberi isyarat bahwa keputusan penerbangan tetap tergantung pada rekomendasi vulkanologi. Sikap hati-hati ini patut diapresiasi, namun di sisi lain, jam emas pencarian terus berlalu. Apakah kita sudah cukup maksimal memanfaatkan teknologi sonar dan kapal cepat, atau justru kita terjebak birokrasi?
Polda Banten juga telah menyiapkan posko antemortem di bawah Bidang Dokkes, sebagai langkah antisipasi jika pencarian berujung pada identifikasi jenazah. Langkah ini menunjukkan realisme yang pahit: tim penyelamat pun tak bisa menutup mata terhadap kemungkinan terburuk. “Posko itu bentuk kesiapsiagaan, bukan keputusasaan,” tegas Hengki. Namun bagi keluarga dan rekan-rekan jurnalis, setiap persiapan forensik menjadi pukulan psikologis yang tak terhindarkan.
Saya mengingatkan bahwa keselamatan jurnalis di zona bencana adalah tanggung jawab bersama. Perusahaan media, pemerintah, dan pihak keamanan harus memiliki protokol yang jelas sebelum menerjunkan awak ke medan ekstrem. Kasus ini bisa menjadi titik balik untuk evaluasi besar-besaran, tidak hanya di Banten, tetapi di seluruh wilayah rawan bencana di Indonesia. Jangan sampai keberanian meliput dibayar dengan nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa penyebab utama hilangnya rombongan jurnalis di Selat Sunda?
Belum dapat dipastikan, namun diduga kuat speedboat mereka terjebak cuaca buruk dan gelombang tinggi yang diperparah oleh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, sehingga kehilangan komunikasi dan menyimpang dari jalur aman.
Berapa radius aman yang ditetapkan PVMBG untuk Gunung Anak Krakatau?
PVMBG mengeluarkan imbauan agar semua pihak tidak mendekati kawah dalam radius 3 kilometer. Pelanggaran terhadap radius ini dapat berakibat fatal, baik terkena material vulkanik maupun dampak ikutan seperti gelombang tinggi.
Bagaimana perkembangan operasi pencarian terkini?
Hingga Rabu sore, tim gabungan masih fokus pada pencarian laut dengan puluhan personel dan beberapa kapal. Pencarian udara masih ditahan menunggu evaluasi kondisi erupsi. Posko antemortem telah disiapkan, namun belum ada temuan signifikan dari lokasi.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Wagub Bali Pantau Langsung Pencarian 2 Wisatawan Hilang di Glamping Pelaga Pascan Longsor

TNI AL Uji Kelayakan Operasi Helikopter di KRI Siriwjaya-100, Simulasikan Penanggulangan Bencana

Kadin Proyeksi Peluang Ekspansi Pajak Digital Nasional Mulai 9 November 2026
