Erupsi Anak Krakatau Bikin Bandara Tutup, Pengusaha Hitung Kerugian Rp19 Miliar Sehari

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu penutupan Bandara Soekarno-Hatta dan Raden Inten II selama beberapa hari telah menguras kantong maskapai penerbangan. Kadin Indonesia memperkirakan potensi kerugian harian mencapai Rp10 miliar hingga Rp19 miliar, sementara sektor logistik mulai merasakan dampak keterlambatan distribusi dan lonjakan biaya operasional.
"Informasi yang kami terima, potensi kerugian maskapai bisa Rp10-19 miliar per hari, khususnya untuk rute dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta dan Raden Inten II," ujar Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Kadin Indonesia, Carmelita Hartoto, Selasa (9/9/2026). Meski bandara telah dibuka kembali, dampak bergulir terhadap rantai pasok nasional masih terasa, terutama pada pengiriman barang dan tambahan biaya akibat pengalihan moda transportasi.
Kerugian Logistik Masih Terlalu Dini, Namun Gangguan Distribusi Sudah Nyata
Carmelita menekankan bahwa perhitungan kerugian logistik dinilai masih prematur mengingat situasi yang terus berkembang. Namun, gangguan waktu pengiriman dan biaya tambahan karena peralihan ke jalur darat atau laut telah dilaporkan oleh sejumlah pelaku usaha. "Untuk logistik saya rasa masih terlalu dini jika menghitung kerugiannya. Tapi yang pasti ada gangguan waktu pengiriman barang dan tambahan biaya karena ada pengalihan moda," tegasnya.
Di sisi lain, Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani, mengingatkan bahwa gangguan di Bandara Soekarno-Hatta sebagai simpul utama konektivitas udara nasional berpotensi memengaruhi mobilitas orang, distribusi barang, perdagangan, dan rantai pasok secara lebih luas. "Apabila gangguan berlangsung lebih lama, dunia usaha berpotensi menghadapi tambahan biaya operasional, baik biaya langsung seperti moda alternatif dan penyimpanan logistik, maupun biaya tidak langsung seperti perpanjangan lead time dan penyesuaian produksi," paparnya.
Mitigasi Bencana: Dari Respons Darurat Menuju Ketahanan Ekonomi
Direktur Riset Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, menyoroti bahwa bencana lokal seperti erupsi Anak Krakatau dan karhutla yang terjadi beruntun telah menunjukkan betapa ketahanan bencana (disaster resilience) kini menjadi isu daya saing ekonomi. Menurutnya, Indonesia sudah memiliki pengalaman dan kapasitas respons yang baik, tetapi perlu melangkah lebih jauh dengan menyusun National Business Continuity Framework yang memetakan simpul-simpul ekonomi kritis—bandara, pelabuhan, kawasan industri, jaringan listrik, telekomunikasi, dan jalur logistik—beserta alternatif operasinya.
"Kita perlu bergerak dari sekadar disaster response menuju economic continuity. Setelah sebuah bandara ditutup, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana penumpang dan kargo dialihkan. Kalau jalur logistik terganggu, kita harus sudah mengetahui alternative route dan kapasitas yang tersedia. Business continuity tidak seharusnya baru dirancang setelah shock terjadi," ujar Fakhrul.
Ia juga menyoroti pentingnya pendanaan mitigasi yang bersifat multi-tahun dan berbasis risiko, bukan reaktif. Anggaran untuk sistem peringatan dini, pemantauan vulkanologi, peralatan pemadam, jalur evakuasi, dan infrastruktur alternatif harus dilihat sebagai economic buffer yang mencegah kerugian jauh lebih besar di kemudian hari. "Kita sangat pandai menghitung cost of capacity, tetapi kita juga harus semakin pandai menghitung cost of disruption," tegasnya.
Langkah Antisipasi bagi Dunia Usaha
APINDO merekomendasikan agar perusahaan segera memastikan rencana keberlangsungan usaha (business continuity plan) berjalan, memetakan komponen bisnis kritis, menjaga komunikasi dengan pemasok dan penyedia logistik, serta menyiapkan alternatif rute dan pemasok. Perusahaan dengan sistem just-in-time perlu ekstra waspada karena gangguan distribusi dapat langsung menghentikan lini produksi. Selain itu, perlindungan pekerja dari paparan abu vulkanik dan kualitas udara juga menjadi prioritas.
Shinta menambahkan bahwa dunia usaha membutuhkan informasi cepat, akurat, dan terintegrasi dari pemerintah terkait perkembangan vulkanik, cuaca, dan operasional jalur alternatif. Koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, operator bandara, dan pelaku usaha dinilai krusial agar penyesuaian distribusi dan aktivitas ekonomi dapat dilakukan secara terukur.
FAQ Terkait Berita Ini
Berapa besar potensi kerugian maskapai akibat erupsi Anak Krakatau?
Kadin Indonesia memperkirakan kerugian harian mencapai Rp10 miliar hingga Rp19 miliar, berdasarkan informasi dari maskapai yang beroperasi di rute Bandara Soekarno-Hatta dan Raden Inten II.
Apakah sektor logistik sudah terdampak dan berapa kerugiannya?
Dampak logistik sudah terasa berupa keterlambatan pengiriman dan tambahan biaya akibat pengalihan moda, tetapi total kerugian masih terlalu dini dihitung karena situasi berkembang.
Langkah apa yang direkomendasikan untuk pelaku usaha menghadapi gangguan serupa?
Pelaku usaha disarankan memiliki rencana keberlangsungan usaha, memetakan komponen kritis, menjaga komunikasi rantai pasok, menyiapkan alternatif rute dan pemasok, serta memastikan perlindungan pekerja dan informasi yang akurat dari pemerintah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Gencar Audit Acak Free Float, Sanksi Tegas Menanti Direksi Pelanggar

Dirut BEI: Ketahanan Saham Syariah Teguh di Tengah Tekanan Pasar 2026

Indodax Pastikan Layanan Pulih Penuh, Seluruh Aset Kripto dan Data Member Diklaim Aman Usai Anomali
