Dulu Terkubur TikTok, Kini Pasar Asemka Banjir Reseller Online: Omzet Jutaan dalam Dua Bulan

Pusat Grosir Asemka di Jakarta Barat yang nyaris mati suri dua tahun lalu kini berdenyut kembali. Ribuan pembeli, dominan generasi Z dan calon reseller online, memadati lorong-lorong toko aksesori, mainan, dan barang viral, Selasa (8/9/2026). Kebangkitan ini terjadi sekitar setahun terakhir, tepat setelah konten kreator membanjiri media sosial dengan ulasan produk-produk Asemka—sebuah ironi, karena platform yang sama pernah dianggap sebagai 'pembunuh' pasar fisik oleh para pedagang pada September 2023.
Pada 2023, omzet pedagang anjlok hingga 70%, dan mereka mengadu ke Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. Kala itu, harga di TikTok Shop dan e-commerce lainnya dinilai lebih murah dari harga grosir fisik. Namun, kini narasi berbalik. TikTok dan media sosial justru menjadi etalase pencarian produk bagi para reseller pemula, sekaligus pintu masuk bagi pembeli yang ingin melihat langsung barang sebelum memutuskan menjadi supplier.
Dari Sepi ke Banjir Pembeli: Efek Viral dan Gen Z
Nina, salah satu pedagang di Asemka, mengakui perubahan drastis terjadi setelah banyak konten Gen Z bermunculan. "Dulu sempat sepi, sampai ngadu ke Pak Zulhas. Sekarang mulai ramai lagi sekitar setahun ini, pas banyak konten-konten di TikTok," ujarnya. Menurut Nina, produk yang viral, seperti jepitan rambut model Naykilla, slime, squishy, blind box, dan gantungan karakter, menjadi magnet utama. Calon reseller datang bukan untuk konsumsi pribadi, melainkan untuk mencari stok grosir dengan harga kompetitif.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran ekosistem bisnis: media sosial yang dulu menjadi ancaman kini menjadi funnel pemasaran paling efektif. Pedagang Asemka tak lagi sekadar menunggu pembeli, tetapi ikut menikmati gelombang tren yang lahir dari platform yang sama. Ini adalah contoh klasik adaptasi pasar tradisional terhadap disrupsi digital—bukan dengan melawan, melainkan memanfaatkan arus.
Reseller Cerita: Modal Kecil, Omzet Jutaan
Amira, reseller bulu mata palsu, awalnya hanya mencari kebutuhan pernikahan kakaknya dari video TikTok. "Tiga bulan lalu saya cari bulu mata, eh malah dapat supplier oke. Sekarang saya jualan bulu mata," katanya. Dengan modal pembelian Rp67.000–Rp120.000 per lusin, ia menjual ulang per pack seharga Rp25.000—margin keuntungan yang sangat menggiurkan setelah rebranding sederhana.
Cerita serupa datang dari Teni, reseller slime dan squishy. Setelah terkena PHK dua bulan lalu, ia nekat datang ke Asemka dengan modal Rp500.000 untuk mengambil dua lusin slime. "Nggak nyangka laku, karena hype lagi. Sekarang omzet sudah jutaan, seminggu bisa dua kali ke sini cek barang," ujarnya. Teni adalah representasi baru dari ekonomi kreatif berbasis reseller—mereka yang memanfaatkan gap antara harga grosir fisik dan harga jual online, dengan modal kecil namun akses cepat ke tren.
Analisis: Asemka sebagai Barometer Ekonomi Digital
Kebangkitan Asemka bukan sekadar cerita sukses lokal, melainkan sinyal penting bagi kebijakan perdagangan nasional. Jika pada 2023 pemerintah turun tangan membatasi live shopping impor, kini pasar grosir justru menunjukkan bahwa ekosistem digital dan fisik dapat saling menguntungkan—asalkan ada mata rantai reseller yang cerdas. Para reseller ini berperan sebagai kurator tren, sekaligus penggerak roda ekonomi di tingkat akar rumput.
Namun, ada catatan kritis: ketergantungan pada tren viral membuat pasar ini sangat fluktuatif. Jika satu hari slime atau blind box kehilangan pamor, pedagang dan reseller harus cepat beralih. Asemka perlu membangun fondasi yang lebih stabil, misalnya dengan memperkuat komunitas reseller, menyediakan data tren real-time, atau bahkan berkolaborasi dengan platform e-commerce untuk sistem dropship. Tanpa itu, kebangkitan ini bisa menjadi euforia sesaat.
Yang pasti, Asemka kini bukan sekadar pasar grosir, tetapi laboratorium bisnis bagi generasi muda. Mereka datang tidak hanya untuk belanja, tetapi untuk belajar membaca pasar, negosiasi, dan membangun branding—keterampilan yang tak diajarkan di bangku kuliah. Ini adalah wajah baru wirausaha Indonesia: adaptif, digital-native, dan berani mengambil risiko.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa penyebab utama kebangkitan Pasar Asemka?
Penyebab utamanya adalah maraknya konten di TikTok dan media sosial yang memviralkan produk-produk Asemka, menarik perhatian Gen Z dan calon reseller untuk datang langsung mencari barang grosir.
Bagaimana perbandingan harga di Asemka dengan online?
Harga grosir di Asemka masih lebih murah dibandingkan harga eceran di platform online, sehingga reseller bisa mengambil margin keuntungan setelah menjual ulang secara daring dengan rebranding sederhana.
Apakah fenomena ini berkelanjutan?
Keberlanjutan sangat bergantung pada kemampuan pedagang dan reseller beradaptasi dengan tren yang berganti cepat. Namun, pola bisnis reseller yang memanfaatkan gap harga dan viralitas menunjukkan potensi jangka panjang jika didukung ekosistem yang matang.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Klaim Tingkat Transparansi Global Tertinggi, Mulai Oktober 2026 Saham HSC Resmi Dikeluarkan dari IHSG

IHSG Menguat 0,79% ke 5.096,83 Ditopang Sektor Utilitas & Perubahan Metodologi BEI

GOTO Rekor Laba Bersih Rp441 Miliar di Kuartal III-2026, GoPay jadi Penopang Utama
