Terbang di Tengah Abu Vulkanik: Pendapatan Hilang, Biaya Tetap Jalan, Maskapai Bisa Boncos Ratusan Miliar
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Jakarta, CNBC Indonesia – Letusan gunung berapi yang menyemburkan abu vulkanik bukan hanya ancaman keselamatan penerbangan, tapi juga bom waktu bagi neraca keuangan maskapai. Ketika awan abu memaksa pembatalan jadwal, pendapatan langsung menguap, sementara biaya operasional seperti biaya lease pesawat dan gaji kru tetap harus dibayar. Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, mengungkapkan bahwa kerugian finansial dari satu episode abu vulkanik bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah, tergantung skala dan durasi gangguan. Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia pada Selasa (8/9/26), ia memaparkan rincian biaya yang membuat maskapai ‘boncos’—mulai dari refund tiket, biaya akomodasi penumpang, hingga perawatan mesin yang bisa menembus US$50 ribu per engine.
Pendapatan Hilang: Pukulan Pertama yang Paling Berat
Bayu menyebut komponen terbesar dari dampak finansial adalah pendapatan yang hilang akibat pembatalan penerbangan. “Secara kasar, kontribusinya bisa sekitar 50% sampai 60% dari total dampak,” jelasnya. Artinya, jika maskapai merugi Rp 100 miliar dari satu gangguan abu, maka Rp 50-60 miliar berasal dari tiket yang sudah terjual namun batal terbang. Proses refund tiket pesawat juga menambah tekanan pada arus kas, karena maskapai harus mengembalikan uang tunai dalam waktu singkat, sementara biaya operasional tetap mengalir.
Biaya Tetap Tak Kenal Ampun
Pesawat yang mangkrak di bandara tetap menimbulkan biaya. Depresiasi atau biaya leasing tidak berhenti, gaji awak kabin dan pilot tetap harus dibayarkan, dan ketika pesawat dialihkan ke bandara alternatif, muncul biaya tambahan bahan bakar serta parkir. “Dalam kondisi Irregular Operations (IROP), pendapatan turun tetapi sebagian besar biaya tetap berjalan,” tegas Bayu. Ini adalah jebakan likuiditas yang sering diabaikan oleh pengamat awam: maskapai tidak bisa ‘mengurangi’ biaya hanya karena pesawat tidak terbang.
Layanan Penumpang: Biaya Sosial yang Membengkak
Ketika penumpang tertahan berjam-jam di terminal, maskapai wajib menyediakan makanan, minuman, komunikasi, dan bahkan akomodasi hotel jika keterlambatan berlanjut hingga malam. Bayu mengingatkan bahwa biaya layanan ini bisa “meningkat cukup signifikan”, terutama jika gangguan berlangsung lebih dari sehari. Selain itu, proses refund dan rebooking juga membutuhkan sumber daya operasional tambahan. Ini bukan sekadar biaya, tapi juga risiko reputasi—penanganan buruk bisa membuat pelanggan beralih ke pesaing.
Ancaman Teknis: Borescope Check dan Biaya Perawatan
Jika pesawat nekat atau terpaksa terbang melewati area terkontaminasi abu, konsekuensinya jauh lebih mahal. Abu vulkanik dapat merusak bilah turbin dan sistem pendingin mesin. Pemeriksaan borescope—inspeksi visual internal mesin—wajib dilakukan, dan biayanya berkisar antara US$20 ribu hingga US$50 ribu per engine. Untuk pesawat bermesin ganda, biaya bisa tembus US$100 ribu hanya untuk pemeriksaan, belum termasuk perbaikan jika ditemukan kerusakan. “Ini yang membuat maskapai sangat berhati-hati terhadap volcanic ash,” ujar Bayu. Kehati-hatian itu berarti pembatalan lebih awal, yang lagi-lagi memukul pendapatan.
Analisis Siti Amalia: Fenomena abu vulkanik mengingatkan kita pada risiko operasional yang jarang masuk dalam kalkulasi harga tiket pesawat. Maskapai penerbangan, terutama yang berbasis di kawasan ring of fire seperti Indonesia, seharusnya mengalokasikan dana kontingensi operasional yang lebih besar untuk menghadapi kejadian alam. Namun, dalam praktiknya, margin keuntungan yang tipis dan persaingan harga membuat banyak maskapai memilih menanggung kerugian jangka pendek daripada menaikkan tarif. Inilah dilema bisnis penerbangan di negeri ini: keselamatan dan kepatuhan menjadi biaya mahal, sementara penumpang tetap menuntut harga murah. Regulator dan operator perlu bersama-sama mencari skema asuransi atau dana bersama untuk meredam guncangan finansial dari bencana alam, agar industri penerbangan tidak terus menerus ‘boncos’ setiap kali gunung berapi bergemuruh.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apa yang dimaksud dengan borescope check dan mengapa mahal?
Borescope check adalah inspeksi visual di dalam mesin pesawat menggunakan kamera serat optik untuk mendeteksi kerusakan akibat abu vulkanik, seperti goresan atau lelehan pada bilah turbin. Biayanya tinggi karena membutuhkan teknisi ahli, alat khusus, dan waktu bongkar-pasang yang signifikan.
2. Apakah maskapai bisa mengklaim asuransi untuk kerugian akibat abu vulkanik?
Sebagian besar polis asuransi penerbangan mencakup kerugian akibat peristiwa alam, tetapi klaim seringkali membutuhkan bukti kuat dan proses panjang. Selain itu, biaya operasional tetap (seperti leasing) biasanya tidak ditanggung, sehingga maskapai tetap menanggung beban besar.
3. Bagaimana cara maskapai mengurangi dampak finansial dari gangguan abu vulkanik?
Mereka dapat mengoptimalkan rute alternatif, melakukan komunikasi cepat dengan otoritas meteorologi, dan menyiapkan rencana darurat untuk penanganan penumpang. Namun, pada akhirnya, pencegahan dengan pembatalan dini masih menjadi strategi paling efektif, meskipun merugikan pendapatan jangka pendek.


