Setahun Siaga, Semeru Tak Berhenti Erupsi: BPBD Jatim Sebut Kondisi Normal, Warga Dibiarkan?

Gunung Semeru (3.676 mdpl) di Jawa Timur masih terus menunjukkan aktivitas erupsi hingga Senin (7/9) kemarin, namun Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa status Siaga III (Waspada) telah bertahan sejak 9 November 2025—tanpa perubahan signifikan. Pernyataan itu disampaikan Gatot, Selasa (8/9), seraya mengklaim bahwa kondisi vulkanik saat ini tidak berbeda dari pola harian biasa dan belum ada instruksi evakuasi bagi warga sekitar.
"Kalau vulkanik sebagaimana hari-hari biasanya, Semeru memang selalu mengeluarkan erupsi. Tetapi kondisi tersebut sudah terjadi sejak tahun 2025 dan statusnya masih Siaga III," ujar Gatot di sela koordinasi dengan PVMBG. Ia menambahkan, batas wilayah aman telah disosialisasikan sejak awal dan masyarakat beraktivitas di area yang dinilai tidak berisiko. Namun, pernyataan itu memicu pertanyaan kritis: apakah kewaspadaan selama setahun justru melahirkan rasa biasa—dan berpotensi mengabaikan ancaman nyata?
Rekam Jejak Erupsi dan Status yang Mandek
Berdasarkan data Magma Indonesia Kementerian ESDM, Senin (7/9) tercatat tiga kali erupsi pada pukul 04.50 WIB, 13.19 WIB, dan 20.35 WIB. Erupsi terakhir terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 116 detik, meski visual letusan tidak teramati. Hingga berita ini ditulis (Selasa, 15.07 WIB), belum ada erupsi baru, namun pola tersebut menguatkan bahwa aktivitas gunungapi Semeru tetap tinggi.
Gatot menjelaskan, status Siaga III sudah berlaku sejak 9 November 2025—nyaris setahun penuh. "Sudah, memang statusnya 9 November 2025," katanya. Ia memastikan koordinasi dengan PVMBG berjalan rutin, tetapi tidak ada rekomendasi evakuasi karena "tidak ada hal-hal yang menonjol". Kalimat ini mengundang telaah: dalam manajemen bencana, status yang stagnan selama 12 bulan justru seharusnya menjadi sinyal untuk evaluasi berkala, bukan sekadar penegasan rutinitas.
Analisis Investigasi: Antara Kewaspadaan dan Kelalaian
Sebagai jurnalis yang telah meliput puluhan bencana geologi, saya menilai pernyataan BPBD Jatim terlalu datar. Semeru bukan gunung biasa—ia adalah gunung tertinggi di Jawa dengan sejarah erupsi dahsyat, termasuk letusan 2021 yang menewaskan puluhan orang. Status Siaga III (Level III) seharusnya berarti peningkatan aktivitas yang mengancam, bukan zona nyaman. Jika selama setahun tidak ada perubahan signifikan, pertanyaannya: mengapa tidak diturunkan ke Level II (Waspada) jika memang aman? Atau sebaliknya, jika aktivitas erupsi terus berlangsung, mengapa tidak ada langkah mitigasi tambahan, seperti pembatasan jarak atau simulasi evakuasi?
BPBD beralasan bahwa masyarakat sudah tahu batas aman. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak warga masih beraktivitas di sekitar aliran lahar dan lereng, yang risikoannya bisa berubah sewaktu-waktu tanpa peringatan dini yang memadai. Kegempaan yang terekam—meski tidak terlihat—bisa menjadi prekursor letusan lebih besar. Mitigasi bencana tidak boleh hanya mengandalkan status statis; dibutuhkan penguatan sistem peringatan, edukasi kontinu, dan kesiapan logistik yang terukur.
Perbandingan dengan Gunung Api Lain yang Berstatus Siaga
Semeru adalah satu dari lima gunung api di Indonesia yang saat ini berstatus Siaga (Level III), bersama Anak Krakatau, Merapi, Sinabung, dan Lewotobi Laki-laki. Tidak ada yang berstatus Awas (Level IV), tetapi 22 gunung lainnya berstatus Waspada (Level II), termasuk Gunung Ibu di Halmahera yang erupsi berkali-kali. Ironisnya, status Siaga Semeru bertahan paling lama tanpa perubahan, sementara gunung-gunung lain sering mengalami fluktuasi yang memicu respons lebih dinamis. Ini menunjukkan bahwa PVMBG dan BPBD mungkin terjebak dalam pola "wait and see" yang berbahaya.
Gatot memastikan tidak ada evakuasi karena "posisinya hal ini terjadi seperti kegiatan-kegiatan seperti biasanya". Namun, sebagai institusi penanggung jawab, BPBD seharusnya proaktif—bukan reaktif. Ketika erupsi terjadi tiga kali dalam sehari, masyarakat perlu diingatkan secara konsisten, bukan ditenangkan dengan pernyataan "tidak ada yang menonjol".
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apakah Gunung Semeru saat ini berbahaya untuk didekati?
Status Siaga III (Waspada) berarti aktivitas vulkanik meningkat, namun zona aman telah ditetapkan. Masyarakat diimbau tidak mendekati kawah dan aliran lahar, serta memantau informasi resmi dari PVMBG dan BPBD.
2. Mengapa status Siaga III tidak berubah selama setahun?
Menurut BPBD, pola erupsi Semeru relatif stabil tanpa peningkatan signifikan. Namun, kritikus menilai evaluasi berkala perlu dilakukan untuk memastikan klasifikasi risiko tetap akurat, mengingat erupsi terus terjadi.
3. Apakah ada rencana evakuasi jika kondisi memburuk?
BPBD Jatim menyatakan belum ada instruksi evakuasi saat ini, tetapi mereka terus berkoordinasi dengan PVMBG. Masyarakat di sekitar Semeru diharapkan selalu siap siaga dan mengikuti arahan petugas jika status naik ke Level IV (Awas).
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

200 Warga Pondok Bambu Ikuti Sosialisasi Jemput Bola Perlindungan Sosial dan Desil

Ancol Transformasi Masjid Apung An-Nur Jadi Pusat Ibadah dan Silaturahmi Sosial

Cegah Balap Liar, Pemkot Jaksel Tutup Lima Akses JLNT Antasari Saat Akhir Pekan
