Purbaya Ramal Ekonomi Kuartal III-2026 Tembus 5,4%, Sinyal Ekspansi Bisnis Menguat
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 akan mencapai 5,4% secara tahunan, melampaui capaian kuartal II sebesar 5,29%. Keyakinan itu disampaikan Purbaya di kawasan Jakarta Utara, Selasa (8/9/2026), didasari pulihnya likuiditas di sistem keuangan yang membuka ruang ekspansi bagi dunia usaha.
"Harusnya kan lebih cepat dibandingkan dengan triwulan II. Triwulan IV juga akan lebih cepat," ujar Purbaya. Ia bahkan optimistis hingga akhir tahun pertumbuhan bisa mendekati 6%, dengan proyeksi kuartal III di angka 5,4% ke atas. "Diproyeksikan 5,4% ke atas lebih, itu mah gampang, tinggal ngikutin. Saya pikir kita akan mendekati 5,6% lagi, di akhir tahun mendekati 6%," tegasnya.
Likuiditas Mengalir, M0 Tumbuh Dua Digit
Ukuran utama yang digunakan Purbaya adalah pertumbuhan uang primer (M0). Data Bank Indonesia per Agustus 2026 mencatat M0 adjusted mencapai Rp2.281,5 triliun, tumbuh 16,3% year-on-year (yoy). Meski sedikit melambat dari 17,1% pada Juli, laju itu masih sangat tinggi. "Juli uang baru masuk lagi ke sistem. Juli, Agustus, September. Juli udah mulai masuk lagi, makanya Agustus agak lumayan," jelas Purbaya.
Pemulihan likuiditas ini menjadi sinyal positif bagi pelaku industri, terutama sektor manufaktur dan perdagangan yang selama ini terkendala biaya modal. Namun, sebagai pengamat ekonomi makro, saya menilai pemerintah perlu mewaspadai potensi tekanan inflasi jangka pendek. M0 yang tumbuh ekspansif, jika tidak diimbangi dengan peningkatan produksi riil, bisa memicu kenaikan harga dan menggerus daya beli masyarakat kelas menengah.
Di sisi lain, optimisme Purbaya patut diapresiasi. Target 6% di akhir tahun bukanlah mimpi, asalkan konsumsi rumah tangga dan investasi asing langsung terus bergerak. Data kebijakan fiskal yang akomodatif, ditambah realisasi belanja pemerintah yang cepat, akan menjadi katalis utama. Namun, tantangan eksternal seperti perlambatan ekonomi Tiongkok dan gejolak harga komoditas masih membayangi.
Pelaku usaha sebaiknya memanfaatkan masa likuiditas longgar ini untuk melakukan ekspansi strategis, terutama di sektor digital dan infrastruktur. Namun, manajemen kas yang ketat tetap diperlukan mengingat ketidakpastian suku bunga global. Pemerintah, di sisi lain, harus memastikan aliran kredit tepat sasaran dan tidak hanya memicu spekulasi di pasar keuangan.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa dampak pertumbuhan uang primer terhadap ekonomi riil?
Pertumbuhan M0 yang tinggi menandakan likuiditas melimpah, yang dapat menurunkan suku bunga pinjaman dan mendorong investasi. Namun, jika tidak diikuti peningkatan produksi, berisiko memicu inflasi.
Apakah target pertumbuhan 6% di akhir 2026 realistis?
Realistis jika konsumsi dan investasi tetap kuat, serta stabilitas harga terjaga. Namun, ketergantungan pada ekspor komoditas dan risiko eksternal tetap menjadi variabel kunci.
Bagaimana sektor usaha merespons proyeksi ini?
Dunia usaha cenderung optimistis, terutama sektor properti dan manufaktur, karena biaya pendanaan lebih murah. Namun, mereka menunggu kepastian kebijakan insentif fiskal dari pemerintah.


