Purbaya di Tahun Kedua: Tak Ada Gebrakan, Fokus Jaga Stabilitas Ekonomi
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Memasuki tahun kedua kepemimpinannya di Kementerian Keuangan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih jalan mulus, bukan guncangan.
- Dalam program Evening Up CNBC Indonesia, Selasa (08/09/2026), ia mengaku tak menyiapkan kebijakan besar-besaran.
- Fokus utamanya: memastikan pertumbuhan ekonomi tetap di jalur target, dengan menggenjot peran sektor riil dan swasta di luar belanja pemerintah.
Memasuki tahun kedua kepemimpinannya di Kementerian Keuangan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih jalan mulus, bukan guncangan. Dalam program Evening Up CNBC Indonesia, Selasa (08/09/2026), ia mengaku tak menyiapkan kebijakan besar-besaran. Fokus utamanya: memastikan pertumbuhan ekonomi tetap di jalur target, dengan menggenjot peran sektor riil dan swasta di luar belanja pemerintah.
Strategi ini mencerminkan pergeseran paradigma fiskal: dari stimulus intervensif ke penguatan fondasi. Purbaya menilai, pemerintahan yang stabil justru butuh ritme yang terukur, bukan kejutan. Namun, di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi, pendekatan 'tidak banyak gegap gempita' ini bisa menjadi pedang bermata dua. Apakah ini mengindikasikan ruang fiskal yang sempit, atau justru keyakinan bahwa mesin ekonomi sudah berputar sendiri?
Menjaga Momentum Tanpa Banjir Stimulus
Menteri yang akrab disapa Purbaya itu menekankan, tahun kedua adalah masa konsolidasi. Ia ingin memaksimalkan realisasi APBN yang sudah berjalan, serta mendorong investasi swasta sebagai lokomotif utama. 'Pemerintah tidak bisa sendiri. Kami mendorong sektor usaha, ekspor, dan konsumsi rumah tangga agar tumbuh lebih ekspansif,' ujarnya.
Analisis kami: langkah ini masuk akal mengingat defisit fiskal yang masih dipantau ketat. Namun, risiko perlambatan global masih nyata. Tanpa terobosan kebijakan, daya saing Indonesia di mata investor bisa tergerus jika negara tetangga bergerak lebih agresif. Purbaya tampaknya memilih bermain aman, tapi apakah itu cukup untuk mengejar target pertumbuhan 5,3% di sisa tahun?
Harapan Sektor Riil dan Tantangan Daya Beli
Purbaya optimistis sektor riil akan merespons positif, didorong oleh hilirisasi dan ekonomi hijau. Ia menyebut, kebijakan insentif perpajakan dan kemudahan berusaha terus disempurnakan. Namun, data terakhir menunjukkan daya beli masyarakat kelas menengah masih loyo. Tanpa intervensi sisi permintaan, pertumbuhan yang digerakkan oleh swasta bisa berjalan timpang.
Di sinilah peran Kemenkeu diuji: bukan soal gebrakan, tapi ketepatan membaca sinyal dan respons cepat jika situasi memburuk. Purbaya mengisyaratkan opsi kebijakan tetap terbuka, namun untuk saat ini, kepercayaan diri terhadap fundamental ekonomi menjadi panglima.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apa kebijakan utama Purbaya di tahun kedua sebagai Menkeu?
Ia tidak menyiapkan kebijakan besar baru, melainkan fokus pada konsolidasi dan mendorong pertumbuhan di luar sektor pemerintah, seperti swasta dan ekspor.
2. Mengapa Purbaya memilih strategi 'tanpa gebrakan'?
Untuk menjaga stabilitas fiskal dan memberikan kepastian pelaku usaha, serta meyakini bahwa mesin ekonomi sudah memiliki momentum yang cukup.
3. Apa risiko dari pendekatan ini?
Jika terjadi guncangan global atau penurunan daya beli, tanpa ruang fiskal yang longgar, pertumbuhan bisa meleset dari target. Namun, pemerintah masih memiliki opsi kebijakan jika diperlukan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Sinergi Bappenas-BRAN: Rencana Redistribusi 23.000 Hektare Tanah Kuciutkan Kesenjangan Ekonomi Nasional

Menkeu Suahasil Ingatkan K/L Jaga Efisiensi di Tengah Sisanya APBN 2026 Rp990 Triliun

Menteri UMKM Maman Abdurrahman Inisiasi Pengendalian Harga Tepung untuk Lindungi Laba Pelaku Usaha Mikro
