Pertamina Matangkan Infrastruktur Energi di Timur Indonesia: Ini Kunci Jaga Konektivitas dan Ekonomi Kepulauan
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Evaluasi difokuskan pada kapasitas penyimpanan, kondisi jetty, dan potensi pengembangan bisnis guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi seiring pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara.
- Avtur dan BBM: Dua Sisi Mata Uang Ketahanan Energi Timur "Terminal ini dikhususkan untuk menyuplai avtur untuk sekitar 15 penerbangan per hari.
- Kita evaluasi apakah AFT Babullah akan mampu memenuhi kebutuhan dari peningkatan penjualan ke depannya dan opsi-opsi pengembangan bisnis," ujar Siddik dalam keterangan tertulis, Selasa (8/9).
PT Pertamina (Persero) tengah memacu kesiapan infrastruktur dan rantai distribusi energi di wilayah Indonesia Timur, menyusul kunjungan Direktur Manajemen Risiko Ahmad Siddik Badruddin ke sejumlah fasilitas operasi di Ternate, Maluku Utara, Selasa (1/9). Langkah ini menjadi sinyal penting bagi stabilitas pasokan avtur dan BBM di kawasan kepulauan yang selama ini menjadi tulang punggung konektivitas antar pulau sekaligus penggerak roda ekonomi masyarakat setempat.
Dalam kunjungan tersebut, Siddik meninjau langsung Aviation Fuel Terminal (AFT) Baabullah yang melayani sekitar 15 penerbangan harian di Bandara Sultan Babullah, serta Fuel Terminal Ternate yang menjadi simpul distribusi BBM dari jalur laut Wayame. Evaluasi difokuskan pada kapasitas penyimpanan, kondisi jetty, dan potensi pengembangan bisnis guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi seiring pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara.
Avtur dan BBM: Dua Sisi Mata Uang Ketahanan Energi Timur
"Terminal ini dikhususkan untuk menyuplai avtur untuk sekitar 15 penerbangan per hari. Kita evaluasi apakah AFT Babullah akan mampu memenuhi kebutuhan dari peningkatan penjualan ke depannya dan opsi-opsi pengembangan bisnis," ujar Siddik dalam keterangan tertulis, Selasa (8/9). Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa Pertamina tidak hanya berjaga untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga merancang skenario ekspansi seiring meningkatnya trafik udara yang erat kaitannya dengan aktivitas industri dan pariwisata di kawasan timur.
Di sisi lain, FT Ternate menjadi garda terdepan pasokan BBM bagi masyarakat dan sektor transportasi laut. Siddik meninjau kemampuan terminal menerima kargo dari Wayame serta merencanakan perbaikan fasilitas dermaga. "Kita mengevaluasi kemampuan menerima pengiriman kargo dan review perbaikan jetty ke depannya," tambahnya. Hal ini penting mengingat hampir seluruh pasokan energi di wilayah kepulauan mengandalkan moda laut, sehingga keandalan infrastruktur pelabuhan menjadi faktor kritis.
Tantangan Geografis yang Memaksa Inovasi
Direktur Manajemen Risiko Pertamina Patra Niaga, Rahman Pramono, menegaskan bahwa pengelolaan energi di Papua dan Maluku tidak bisa sekadar mengacu pada hitungan keekonomian. "Kita tidak bisa melihat hanya dari sisi profit saja. Ada tugas menjaga ketahanan energi dari masing-masing wilayah, termasuk daerah yang memang butuh kebutuhan khusus," tegasnya. Pernyataan ini mengingatkan bahwa BUMN energi memiliki mandat sosial yang mengikat, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal yang secara komersial mungkin kurang menarik namun secara strategis vital bagi kedaulatan energi nasional.
Sebagai pakar ekonomi makro, saya menilai bahwa investasi Pertamina di wilayah timur bukan sekadar biaya operasional, melainkan investasi jangka panjang untuk menekan disparitas harga dan mendorong pertumbuhan inklusif. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah di Maluku dan Papua, kelancaran distribusi energi justru menjadi katalis bagi eksplorasi dan pengolahan komoditas unggulan, yang pada gilirannya akan memperkuat struktur ekonomi regional.
Langkah Strategis Menghadapi Dinamika Cuaca dan Logistik
Siddik menyebut Region Papua Maluku sebagai "salah satu region yang paling challenging" karena tersebar di banyak pulau dan sangat bergantung pada transportasi laut yang rentan terhadap cuaca ekstrem. Karena itu, Pertamina perlu terus mengevaluasi kapasitas infrastruktur, pola distribusi, dan opsi pengembangan agar pasokan tetap efektif dan efisien. Saya menambahkan, tantangan ini membuka peluang bagi kolaborasi dengan pelaku logistik lokal dan pemanfaatan teknologi digital untuk memonitor stok secara real-time, sehingga kesiapan tanggap darurat dapat ditingkatkan.
Ke depan, penguatan infrastruktur energi di kawasan kepulauan bukan hanya tugas Pertamina, tetapi juga memerlukan dukungan kebijakan pemerintah, insentif fiskal, serta kemitraan dengan pemerintah daerah. Ketersediaan energi yang andal akan menjaga kesinambungan pasokan, mendukung mobilitas penduduk, dan memastikan roda usaha tetap berputar—faktor yang sangat menentukan dalam pemulihan ekonomi nasional pasca-pandemi dan menghadapi ketidakpastian global.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Mengapa Pertamina fokus pada wilayah Timur Indonesia?
Wilayah Timur Indonesia memiliki karakteristik kepulauan yang membuat distribusi energi sangat menantang. Pertamina memiliki mandat untuk menjaga ketahanan energi nasional, sehingga perlu memastikan pasokan avtur dan BBM di daerah tersebut agar konektivitas dan ekonomi masyarakat tetap berjalan.
2. Apa yang dievaluasi Pertamina di AFT Baabullah dan FT Ternate?
Evaluasi mencakup kapasitas penyimpanan, kondisi fasilitas dermaga (jetty), kemampuan menerima pasokan dari jalur laut, serta proyeksi kebutuhan avtur dan BBM di masa depan. Tujuannya adalah mengantisipasi pertumbuhan trafik penerbangan dan permintaan energi.
3. Bagaimana dampak ketahanan energi terhadap perekonomian Maluku Utara?
Ketersediaan energi yang stabil mendukung sektor transportasi, industri, dan pariwisata. Dengan pasokan avtur dan BBM yang lancar, harga barang tidak melonjak drastis, investasi lebih menarik, dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat tumbuh secara berkelanjutan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Ancaman Pelemahan Rupiah: Lukman Leong Proyeksi Tembus Rp 18.350, BI Akui Tantangan Menjaga Stabilitas

IHSG Anjlok 3,78% di Akhir Perdagangan, Investor Asing Lepas 10 Saham Unggulan dengan Net Sell Rp575 Miliar

Respons Keras Publik, KAI Batalkan Rencana Perubahan Nama Rute Kereta di Gapeka 2026
