Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pertamina Kerek Penjualan Pertamax Green 267%, Namun 190 SPBU E5 Masih Terkonsentrasi di Jawa

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pertamina Kerek Penjualan Pertamax Green 267%, Namun 190 SPBU E5 Masih Terkonsentrasi di Jawa
BAGIKAN:

PT Pertamina Patra Niaga mencatat 190 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) telah menjual BBM bensin campuran bioetanol 5% (E5) melalui produk Pertamax Green 95 hingga awal September 2026. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, mengungkapkan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI pada Selasa (8/9/2026) bahwa produk yang diluncurkan sejak 2023 ini menunjukkan lonjakan penjualan 267% sepanjang Januari–Agustus 2026, dengan rata-rata harian melonjak hingga 446%. Meski demikian, distribusi masih terpusat di Pulau Jawa — hanya 28 SPBU di Banten, 40 di DKI Jakarta, 53 di Jawa Barat, 16 di Jawa Tengah, 6 di DIY, dan 47 di Jawa Timur — tanpa satu pun di luar Jawa, menandakan tantangan pasokan dan infrastruktur bioetanol yang belum merata.

Lonjakan Permintaan dan Keterbatasan Sumber Daya

Mars Ega memaparkan bahwa rata-rata penjualan harian Pertamax Green kini mencapai 132 kiloliter (kl) per hari, naik drastis dari hanya 17 kl per hari pada Januari 2026. "Produk ini merupakan produk nonsubsidi yang mengikuti harga pasar dengan kualitas RON 95," tegasnya. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan bahan bakar ramah lingkungan, namun juga menyoroti kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan bioetanol. Pertamina Patra Niaga mengakui masih berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk memperluas sourcing bahan baku, mengingat produksi bioetanol nasional yang terbatas dan persaingan dengan kebutuhan pangan.

Dari sudut pandang ekonomi makro, langkah Pertamina ini merupakan sinyal positif bagi transisi energi, tetapi dengan skala yang masih sangat kecil — hanya 190 dari ribuan SPBU nasional. Jika target pencampuran 10% (E10) atau lebih dikejar, rantai pasok bioetanol harus diperkuat, termasuk insentif bagi petani tebu dan singkong sebagai bahan baku. Tanpa itu, harga BBM energi terbarukan bisa menjadi lebih mahal dan tidak kompetitif dengan BBM fosil, mengancam daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi.

Prospek Ekspansi dan Dampak pada Industri

Konsentrasi outlet di Pulau Jawa mencerminkan strategi Pertamina yang pragmatis — fokus pada pasar dengan kepadatan kendaraan tinggi dan infrastruktur pendukung. Namun, apabila ekspansi ke Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi tidak segera dilakukan, maka kontribusi Pertamax Green dalam bauran energi nasional akan tetap marginal. Saya menilai, pemerintah perlu mendorong skema kerja sama dengan BUMN dan swasta untuk membangun kilang bioetanol terintegrasi, sekaligus memberikan kepastian harga jual agar petani tidak beralih ke komoditas lain. Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga patut diapresiasi karena tetap menjaga kualitas RON 95 yang setara dengan produk impor, sehingga konsumen tidak perlu khawatir performa mesin.

Kepada para pelaku usaha dan investor, pergerakan ini membuka peluang di sektor hilir bioenergi. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan karena kebijakan harga pasar membuat Pertamax Green rentan terhadap fluktuasi minyak mentah dunia. Jika harga minyak turun, daya saing E5 bisa tergerus. Maka, pengembangan ekosistem bioetanol harus dibarengi dengan riset efisiensi produksi dan diversifikasi bahan baku non-pangan.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa itu Pertamax Green 95?
Pertamax Green 95 adalah BBM bensin dengan campuran bioetanol 5% (E5) dan nilai oktan 95, diproduksi oleh Pertamina Patra Niaga sebagai produk nonsubsidi yang ramah lingkungan.

Mengapa baru 190 SPBU yang menyediakan Pertamax Green?
Karena pasokan bioetanol masih terbatas dan infrastruktur distribusi belum menjangkau luar Jawa. Pertamina sedang berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk menambah sumber bahan baku dan memperluas jaringan.

Apakah Pertamax Green lebih mahal dari BBM biasa?
Ya, karena mengikuti harga pasar tanpa subsidi, namun dengan RON 95 yang setara dengan produk premium. Harganya bisa bervariasi tergantung lokasi dan fluktuasi minyak dunia.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸