Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Harga Minyak Tembus US$97, Ancaman Perang Panjang di Timur Tengah Kian Nyata

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Harga Minyak Tembus US$97, Ancaman Perang Panjang di Timur Tengah Kian Nyata
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global, terutama dari jalur vital Selat Hormuz, mendorong pelaku pasar memasukkan premi risiko ke dalam harga.
  • Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 34 sen (0,35%) menjadi US$97,34 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$1,15 (1,26%) ke US$92,63 per barel.
  • Lonjakan ini terjadi setelah Iran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk aset minyak dan gas milik AS, rentan menjadi sasaran balasan.

Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan pada perdagangan Selasa (8/9), setelah Iran mengancam akan membalas serangan AS dan memperbesar risiko perang berkepanjangan di Timur Tengah. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global, terutama dari jalur vital Selat Hormuz, mendorong pelaku pasar memasukkan premi risiko ke dalam harga.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 34 sen (0,35%) menjadi US$97,34 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$1,15 (1,26%) ke US$92,63 per barel. Lonjakan ini terjadi setelah Iran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk aset minyak dan gas milik AS, rentan menjadi sasaran balasan.

Ketegangan di Selat Hormuz dan Dampaknya pada Pasokan

Eskalasi terbaru dipicu oleh serangan pasukan AS terhadap tiga kapal tanker Iran pada Sabtu (5/9), termasuk satu yang berada di dekat Pulau Kharg—pusat utama ekspor minyak Iran. Serangan itu sebagai respons atas aksi Korps Garda Revolusi Iran yang menyerang kapal perang AS di kawasan tersebut. Hingga kini, belum ada terobosan diplomatik yang mampu meredakan ketegangan, sementara Iran menegaskan siap membalas jika AS kembali melancarkan serangan.

Analis senior ANZ, Daniel Hynes, menilai konflik yang berkepanjangan ini berpotensi membuat pasokan minyak dari Teluk tetap terbatas hingga akhir 2026. “Kami tidak memperkirakan arus pasokan kembali ke tingkat sebelum perang sebelum kuartal I atau awal kuartal II 2027,” tulisnya dalam catatan riset. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan mengingat Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak dunia yang sangat strategis, dan setiap gangguan di sana akan langsung memicu lonjakan harga global.

Proyeksi Harga Naik, Goldman Sachs Revisi Target

Risiko pasokan yang berlarut-larut mendorong sejumlah lembaga keuangan menaikkan proyeksi harga minyak. Goldman Sachs menaikkan estimasi harga Brent dan WTI masing-masing sebesar US$5 per barel. Untuk Desember 2026, mereka kini memperkirakan Brent di US$85 dan WTI di US$80 per barel, sedangkan untuk 2027, proyeksi masing-masing berada di US$80 dan US$75.

Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat bahwa pasar minyak saat ini tidak hanya bereaksi terhadap faktor fundamental permintaan-penawaran, tetapi juga terhadap premi geopolitik yang semakin mahal. Jika konflik terus berlanjut dan Iran benar-benar menyerang infrastruktur energi AS atau sekutunya, maka harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel dalam waktu dekat. Ini akan berdampak langsung pada inflasi global dan kebijakan moneter bank sentral, termasuk Bank Indonesia yang tengah berjuang menjaga stabilitas rupiah.

Di sisi lain, AS dan sekutunya mungkin akan merespons dengan melepas cadangan minyak strategis, namun langkah itu bersifat jangka pendek. Yang lebih krusial adalah apakah ada upaya diplomasi yang dapat meredakan situasi sebelum eskalasi menjadi perang terbuka. Tanpa itu, volatilitas harga minyak akan menjadi 'normal baru' yang membebani pemulihan ekonomi dunia.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Mengapa harga minyak naik meskipun pasokan global masih ada?
Kenaikan lebih disebabkan oleh premi risiko karena ancaman gangguan di Selat Hormuz, bukan karena kekurangan fisik saat ini. Pasar mengantisipasi potensi terhambatnya ekspor minyak dari Timur Tengah jika konflik meluas.

2. Berapa lama perang ini bisa berlangsung menurut analis?
Analis ANZ memperkirakan pasokan minyak dari Teluk tidak akan pulih sepenuhnya hingga awal 2027, mengindikasikan konflik berkepanjangan setidaknya hingga akhir 2026.

3. Bagaimana dampaknya terhadap harga BBM di Indonesia?
Jika harga minyak dunia terus bertahan di atas US$90, pemerintah akan menghadapi tekanan fiskal yang besar karena subsidi energi. Kenaikan harga BBM nonsubsidi sangat mungkin terjadi, sementara subsidi untuk jenis tertentu akan memberatkan APBN.

Meow! Tanya Nesi!
😸