Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gunung Anak Krakatau Meletus Empat Kali dalam Sehari, Tiga Gunung Api Lain Ikut Bergemuruh

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gunung Anak Krakatau Meletus Empat Kali dalam Sehari, Tiga Gunung Api Lain Ikut Bergemuruh
BAGIKAN:

Aktivitas vulkanik di Indonesia menunjukkan eskalasi signifikan pada Selasa (8/9) ini. Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda tercatat mengalami erupsi sebanyak empat kali sejak dini hari hingga siang, sementara dua gunung api lainnya di timur Indonesia juga melaporkan erupsi berganda. Status siaga (Level III) yang telah ditetapkan sejak akhir pekan lalu masih bertahan, menandakan potensi ancaman yang terus membutuhkan kewaspadaan.

Berdasarkan data resmi dari laman Magma Kementerian ESDM, erupsi keempat GAK terjadi pada pukul 11.34 WIB, menyusul tiga ledakan sebelumnya pada pukul 05.08, 05.34, dan 07.49 WIB. Menariknya, seluruh erupsi tersebut tidak teramati secara visual—menandakan kolom abu tidak menjulang tinggi atau tertutup awan, namun tetap terekam kuat di seismograf. Amplitudo maksimum berkisar antara 44 hingga 50 mm dengan durasi 10–19 detik, yang mengindikasikan tekanan magma yang konsisten namun tidak eksplosif besar.

Fenomena Berganda: Gunung Ibu dan Lewotolok Juga Aktif

Tak hanya Anak Krakatau, Gunung Ibu di Halmahera, Maluku Utara, tercatat erupsi tujuh kali hingga siang hari, dengan erupsi terakhir pada pukul 12.01 WIT (10.01 WIB). Statusnya berada di Level II (Waspada). Sementara itu, Gunung Ile Lewotolok di Pulau Lembata, NTT, juga menyemburkan kolom abu setinggi 800 meter di atas puncak pada pukul 06.35 WITA, dengan durasi getaran 180 detik—yang paling lama di antara ketiga gunung.

Keserentakan ini memicu pertanyaan: apakah ada korelasi tektonik atau hanya kebetulan siklus vulkanik? Para ahli vulkanologi kerap mengingatkan bahwa aktivitas simultan bisa menjadi sinyal perubahan tekanan di kerak bumi, meski belum tentu berbahaya. Namun, minimnya data visual dan ketergantungan pada seismograf semata patut menjadi catatan kritis bagi sistem mitigasi bencana kita.

Analisis: Kesiapsiagaan di Tengah Bayang-Bayang Tsunami 2018

Sejarah mencatat, tsunami Selat Sunda pada Desember 2018 yang dipicu oleh longsoran bawah laut akibat erupsi Anak Krakatau menewaskan ratusan jiwa. Kini, dengan status Siaga yang bertahan, publik dan pemerintah daerah harus lebih waspada terhadap potensi bahaya sekunder, terutama jika erupsi berlanjut dan memicu longsoran. Sayangnya, laporan resmi yang hanya mengandalkan data seismik tanpa deskripsi visual menunjukkan keterbatasan sistem pemantauan di lapangan. Perlu ada peningkatan infrastruktur pengamatan, seperti kamera termal atau drone, untuk memastikan akurasi peringatan dini.

Di sisi lain, Kementerian ESDM patut diapresiasi karena terus memperbarui data secara real-time. Namun, informasi yang tersebar masih terkesan teknis dan kurang menjangkau masyarakat awam. Penting bagi otoritas untuk menyederhanakan pesan risiko tanpa mengurangi esensi ilmiah, agar warga di sekitar zona bahaya dapat mengambil tindakan cepat.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apakah erupsi Gunung Anak Krakatau berbahaya bagi penduduk di sekitar Selat Sunda?
Status Siaga (Level III) menunjukkan aktivitas di atas normal, namun belum ada perintah evakuasi. Potensi bahaya utama adalah abu vulkanik dan risiko tsunami jika terjadi longsoran bawah laut. Masyarakat pesisir diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan BPBD.

2. Mengapa erupsi tidak teramati secara visual?
Hal ini bisa disebabkan oleh cuaca mendung, kabut, atau letusan yang bersifat freatik (uap air) dengan kolom abu rendah sehingga tidak terlihat dari pos pengamatan. Seismograf tetap merekam getaran sebagai bukti erupsi.

3. Apa yang menyebabkan tiga gunung meletus dalam waktu bersamaan?
Indonesia berada di Cincin Api Pasifik dengan banyak gunung aktif. Aktivitas simultan bisa terjadi karena pergerakan lempeng tektonik yang mempengaruhi sistem magmatik di beberapa zona. Namun, belum ada penelitian yang menyatakan keterkaitan langsung antar gunung tersebut.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸