Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gen Z Lampung Ditarget Jadi Penggerak Ekonomi, Gubernur Sorot Literasi Keuangan yang Masih Timpang

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Gen Z Lampung Ditarget Jadi Penggerak Ekonomi, Gubernur Sorot Literasi Keuangan yang Masih Timpang
BAGIKAN:

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyatakan bahwa peningkatan literasi keuangan menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama di tengah dominasi populasi usia produktif. Dalam sambutannya pada Lampung Financial Festival 2026 di Bandar Lampung, Sabtu (5/9), Mirza mengungkapkan data mengejutkan: meskipun indeks inklusi keuangan telah mencapai 90,94%, tingkat literasi keuangan baru 72%. Artinya, masih ada sekitar 2,7 juta penduduk Lampung yang tidak memahami instrumen keuangan dasar seperti saham, obligasi, dan reksa dana, padahal akses ke layanan finansial sudah tersedia luas.

Populasi Gen Z Jadi Modal Besar, Tapi Skill Keuangan Masih Minim

Dari total 9,8 juta jiwa, generasi Z (usia 12–27 tahun) mencapai 24,7% atau sekitar 2,3 juta orang, sementara post-Gen Z (usia di bawah 12 tahun) menyumbang 20,67%. Gubernur menegaskan bahwa kedua kelompok ini adalah tulang punggung ekonomi masa depan Lampung. “Generasi muda inilah yang akan kita ciptakan menjadi kekuatan ekonomi,” ujarnya. Namun, ia menggarisbawahi bahwa produktivitas tidak cukup tanpa kemampuan mengambil keputusan keuangan yang tepat. “Ini adalah keterampilan finansial yang wajib dimiliki,” pungkas Mirza.

Fenomena Ponsel Melebihi Jumlah Penduduk: Peluang atau Ancaman?

Mirza juga menyoroti fakta bahwa jumlah ponsel di Lampung melampaui jumlah penduduk, yang mencerminkan potensi besar untuk ekonomi digital dan literasi keuangan berbasis teknologi. Namun, sebagai pengamat ekonomi makro, saya menilai kesenjangan antara inklusi dan literasi adalah alarm yang tidak boleh diabaikan. Akses mudah ke pinjaman online, investasi bodong, dan skema ponzi sering kali menjerat mereka yang tidak paham risiko. Pemerintah daerah perlu bergerak cepat dengan kurikulum keuangan di sekolah dan pelatihan vokasional, bukan sekadar seremonial festival tahunan.

Analisis Siti Amalia: Dari Literasi ke Aksi Nyata

Data BPS menunjukkan bahwa kontribusi UMKM terhadap PDRB Lampung mencapai 60%, namun sebagian besar pelaku usaha masih menggunakan keuangan informal. Jika Gen Z mampu mengelola keuangan daerah dengan baik—mulai dari menabung, berinvestasi, hingga mengakses pembiayaan produktif—maka pertumbuhan ekonomi Lampung bisa melesat di atas rata-rata Sumatera. Tantangannya adalah mengubah perilaku konsumtif menjadi produktif, dan itu membutuhkan ekosistem literasi yang berkelanjutan, bukan hanya satu kali acara.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apa perbedaan literasi keuangan dan inklusi keuangan?
Literasi keuangan adalah pemahaman dan keterampilan seseorang dalam mengelola keuangan, termasuk produk dan risiko. Inklusi keuangan adalah akses dan penggunaan layanan keuangan formal. Lampung sudah tinggi inklusi (90,94%) namun literasi baru 72%, artinya masyarakat punya akses tapi belum paham menggunakannya secara optimal.

2. Mengapa Gen Z menjadi target utama program literasi keuangan?
Gen Z adalah generasi produktif terbesar di Lampung (2,3 juta jiwa) dan sangat akrab dengan teknologi digital. Dengan bekal literasi yang baik, mereka bisa menjadi wirausahawan, investor, dan penggerak ekonomi baru yang mengurangi ketergantungan pada sektor informal.

3. Apa langkah konkret yang bisa dilakukan pemerintah daerah?
Selain festival, pemerintah perlu mengintegrasikan edukasi keuangan dalam kurikulum SMA/SMK, memberikan subsidi pelatihan bagi UMKM muda, serta bekerja sama dengan OJK dan perbankan untuk program mentoring investasi aman bagi pemula.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸