Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BRI Buka Suara: 3 Jurus Jitu UMKM RI Biar Tembus Pasar Global, Siap Ekspor?

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

BRI Buka Suara: 3 Jurus Jitu UMKM RI Biar Tembus Pasar Global, Siap Ekspor?
BAGIKAN:

Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI secara gamblang membeberkan tiga syarat mutlak yang harus dipenuhi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) jika ingin produknya menembus pasar ekspor. Direktur Commercial Banking BRI, Alexander Dippo Paris, menegaskan bahwa ketiga pilar tersebut adalah kapasitas produksi, literasi keuangan, dan akses bisnis global. Pernyataan ini disampaikan dalam ajang Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Senin (7/9), menjawab tantangan besar negeri dalam mendongkrak kontribusi UMKM terhadap neraca perdagangan.

Di tengah optimisme ekonomi nasional, Alexander menilai masih banyak pelaku usaha lokal yang gagal melangkah ke kancah internasional bukan karena produknya buruk, melainkan karena tiga hambatan klasik itu. “Kalau dikaitkan, sebenarnya apa sih tantangannya untuk mendorong UMKM kita ini untuk bisa lebih didorong untuk ekspor? Sebenarnya ada tiga,” ujarnya dengan nada tegas di hadapan para pelaku industri dan pembuat kebijakan.

1. Kapasitas Produksi dan Kualitas: Modal Dasar yang Tak Bisa Ditawar

Poin pertama yang ditekankan Alexander adalah kemampuan usaha dan kualitas barang. Menurutnya, perbankan memiliki peran krusial dalam menyediakan akses permodalan agar UMKM bisa meningkatkan skala produksi tanpa mengorbankan standar mutu. “Kapasitas usaha pasti ada kaitannya dengan kemampuan dia mendapatkan modal. Dan di sinilah kita berfungsi,” tuturnya. Semakin baik faktor produksi, semakin besar peluang produk diterima di pasar internasional yang kompetitif.

BRI mengklaim menjadi tulang punggung pembiayaan UMKM nasional. Berdasarkan data internal, hampir 65 persen pembiayaan UMKM tahunan berasal dari bank pelat merah ini. Namun, Alexander mengingatkan bahwa modal saja tidak cukup; ada dua syarat lain yang tak kalah vital.

2. Literasi Keuangan: Transparansi Jadi Tuntutan Pembeli Global

Kedua, UMKM wajib meningkatkan literasi keuangan. Alexander menyoroti bahwa ekspor kini bukan sekadar mengirim barang. “Pihak pembeli di luar negeri juga menuntut adanya transparansi keuangan. Kemampuan dari produsen menjelaskan bagaimana cara memproduksi, bagaimana keuangannya, sumbernya dari mana itu juga penting untuk dilihat dari sisi bayar,” jelasnya. Tanpa pengelolaan keuangan yang rapi, eksportir kecil sulit mendapatkan kepercayaan dari importir, apalagi soal skema pembayaran lintas negara.

Untuk itu, BRI tidak hanya mengucurkan kredit, tetapi juga memberikan pendampingan edukatif melalui program Klasterku yang menjangkau 44 ribu klaster, Desa BRILiaN di 5.700 desa, serta LinkUMKM yang telah menyentuh 17,3 juta pelaku usaha. “Kami tidak hanya memberikan pinjaman kepada UMKM, kami juga membimbing mereka,” imbuh Alexander, menegaskan komitmen BRI sebagai mitra pengembangan usaha.

3. Akses Pasar Ekspor: Jembatan yang Selama Ini Terlewat

Poin ketiga, dan sering menjadi ganjalan terbesar, adalah akses bisnis ke luar negeri. Alexander dengan blak-blakan mengatakan, “Punya modal yang cukup, kapasitasnya baik, secara keuangan juga tertata baik, tapi kalau tidak punya akses ke pangsa-pangsa luar negeri juga tidak bisa ekspor.” Ini menjadi pengingat bahwa banyak UMKM hebat secara produk, tetapi tersungkur di tahap pemasaran global.

Menjawab itu, BRI mengandalkan program unggulan seperti BRI UMKM Expo yang bukan sekadar pameran, melainkan ajang mempertemukan pengusaha dengan calon mitra bisnis internasional. “Di UMKM Expo yang terakhir kami mencatatkan sebesar US$90,6 juta dan itu terus meningkat. Artinya UMKM kita secara granular dan pasti ini memang sudah melihat pasar ekspor ini sebagai the next,” terang Alexander, menyiratkan optimisme terhadap tren ekspor UMKM yang kian melesat.

Selain itu, BRI menerapkan konsep One BRI Solution untuk menyambungkan nasabah UMKM dengan ekosistem korporasi dan komersial yang dimiliki perseroan. Alexander menambahkan, “Ketika kita punya nasabah UMKM, kita akan coba mencocokkan dengan ekosistem prinsip yang ada. Kita punya nasabah korporasi, komersial, dan di dalam situ kita punya akses yang bisa kita berikan, termasuk sampai dengan ke level ekspor.” Ini menjadi sinyal bahwa kolaborasi lintas segmen menjadi kunci dalam membuka pintu ekspor secara berkelanjutan.

Bagi para pengamat ekonomi, pernyataan BRI ini sekaligus menjadi wake-up call bagi pemerintah dan pelaku usaha. Literasi keuangan dan akses pasar sering dianggap sepele, padahal dalam praktiknya justru menentukan kelangsungan bisnis di era perdagangan bebas. BRI tampaknya tidak hanya berperan sebagai penyalur kredit, tetapi juga katalisator ekosistem ekspor. Namun, tantangan terbesar tetap pada konsistensi pendampingan dan adaptasi terhadap dinamika regulasi global. Apakah langkah ini cukup untuk mengejar target ekspor nasional? Waktu yang akan menjawab.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apa saja tiga syarat utama UMKM untuk tembus ekspor menurut BRI?
Tiga syarat itu adalah kapasitas produksi dan kualitas barang, literasi keuangan yang baik, serta akses ke pasar luar negeri melalui jaringan bisnis dan pameran internasional.

2. Bagaimana BRI membantu UMKM dalam hal literasi keuangan?
BRI memiliki program pendampingan seperti Klasterku, Desa BRILiaN, dan LinkUMKM yang memberikan edukasi pengelolaan keuangan, transparansi, dan akses pembiayaan yang bertanggung jawab.

3. Apa itu One BRI Solution dan bagaimana dampaknya bagi ekspor UMKM?
One BRI Solution adalah konsep integrasi ekosistem yang menghubungkan UMKM dengan nasabah korporasi dan komersial BRI, sehingga membuka peluang rantai pasok dan pasar ekspor secara langsung.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸