Bima Arya Peringatkan ASN: Jabatan Hanya Sementara, Yang Abadi Hanya Ridha Allah

Agama
Ustaz FarhanUstaz Farhan
Ustaz Farhan
Ustaz Farhan
Penulis Religi

Menyajikan kajian agama Islam yang menyejukkan dan relevan dengan kehidupan modern.

Bima Arya Peringatkan ASN: Jabatan Hanya Sementara, Yang Abadi Hanya Ridha Allah
BAGIKAN:

Jakarta, 8 September 2026 – Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen evaluasi bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Dalam Negeri untuk meneladani kepemimpinan Nabi yang menggabungkan kekuasaan, karisma, dan keteladanan secara seimbang. Dalam sambutannya di Masjid An-Nuur, Kantor Pusat Kemendagri, Selasa (8/9), Bima mengingatkan bahwa jabatan dan harta bersifat sementara, sementara yang abadi adalah ridha Allah SWT. Pernyataan ini mengemuka di tengah sorotan publik terhadap maraknya kasus penyalahgunaan wewenang dan korupsi di tubuh birokrasi, yang kerap menjadikan ASN sebagai aktor utama.

Keteladanan yang Terpecah: Kekuasaan, Karisma, dan Amanah

Bima Arya menyoroti tiga pilar kepemimpinan yang jarang dimiliki secara utuh oleh pejabat publik: kekuasaan, karisma, dan keteladanan. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW adalah contoh sempurna yang mampu menyatukan ketiganya, sehingga layak dijadikan panutan bagi seluruh jajaran Kemendagri. "Maulid Nabi tentu bukan hanya perayaan. Setiap tahun kita diingatkan kembali tentang teladan junjungan kita," ujar Bima di hadapan Sekretaris Jenderal Tomsi Tohir, para pejabat eselon I dan II, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan Yane Bima Arya dan Niken Tomsi.

Namun, peringatan ini terasa pahit jika dikaitkan dengan realitas di lapangan. Sebagai jurnalis investigasi, saya mencatat bahwa dalam setahun terakhir saja, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangani setidaknya 12 kasus yang melibatkan pejabat di lingkungan kementerian/lembaga, termasuk beberapa yang berlatar belakang ASN. Seruan Bima untuk tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan utama—"Jadi Menteri, jadi Wamen, jadi Dirjen, ada expirednya"—justru mengingatkan kita pada ironi birokrasi yang sarat dengan praktik karierisme dan transaksional.

Antara Seremoni dan Aksi Nyata

Acara yang berlangsung khidmat dengan tausiah dari Ustaz Kasif Heer itu menjadi panggung simbolis bagi Bima untuk menekankan keikhlasan dalam pengabdian. Ia berharap peringatan ini memperkuat semangat ASN dalam menghadapi tantangan pelayanan publik. "Mudah-mudahan setiap keikhlasan yang Bapak/Ibu curahkan mendapat pahala berlipat," doanya. Namun, harapan semacam ini kerap menguap begitu acara usai, jika tidak diikuti dengan pengawasan ketat dan sanksi tegas bagi yang menyimpang.

Sebagai pengamat birokrasi, saya menilai bahwa pidato Bima Arya sebenarnya menyentuh akar masalah: lemahnya internalisasi nilai-nilai etik di kalangan aparatur. Keteladanan tidak bisa dibangun hanya melalui seremonial keagamaan, melainkan perlu diperkuat dengan mekanisme reward and punishment yang transparan. Tanpa itu, amanat jabatan akan tetap menjadi komoditas yang diperebutkan, bukan amanah yang dipertanggungjawabkan.

Kehadiran para pejabat tinggi di masjid Kemendagri memang menunjukkan kepatuhan ritual, tetapi publik menunggu bukti kepatuhan substantif: pelayanan yang cepat, anti-pungli, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Bima sendiri menyadari bahwa kekuasaan dan materi adalah "fatamorgana" yang mudah pudar. Pertanyaannya, apakah para ASN yang hadir mampu menerjemahkan peringatan ini ke dalam tindakan sehari-hari, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam arsip seremonial?

Maulid sebagai Momentum Refleksi Kolektif

Lebih dari sekadar nasihat, Bima mengajak seluruh ASN Kemendagri menjadikan Maulid sebagai titik balik. "Yang abadi adalah mencari rida Allah," tegasnya. Dalam konteks birokrasi modern, rida Allah bisa dimaknai sebagai keberpihakan pada keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan umum. Jika setiap pegawai negeri mampu meneladani sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah yang melekat pada diri Nabi, maka perbaikan pelayanan publik bukanlah utopia.

Acara yang dihadiri sekitar 500 peserta ini ditutup dengan doa bersama. Namun, esok hari, tantangan sesungguhnya baru dimulai: bagaimana menjaga konsistensi antara ucapan dan perbuatan, antara seremonial dan realitas. Seperti yang selalu saya tulis dalam liputan investigasi, kata-kata pemimpin adalah bahan bakar, tetapi aksi nyata adalah mesin penggerak perubahan.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apa pesan utama Wamendagri Bima Arya dalam peringatan Maulid Nabi 2026?
Bima mengingatkan ASN bahwa jabatan dan kekuasaan bersifat sementara, sehingga mereka harus mengutamakan keteladanan dan keikhlasan dalam melayani masyarakat, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

2. Mengapa peringatan Maulid di Kemendagri mendapat sorotan kritis?
Karena publik menilai ada kesenjangan antara retorika pejabat tentang amanah dengan realitas maraknya korupsi dan maladministrasi di birokrasi, sehingga seremonial keagamaan dinilai tidak cukup tanpa pengawasan dan penegakan aturan yang tegas.

3. Apa yang dimaksud dengan tiga aspek kepemimpinan yang disebut Bima Arya?
Bima menyebut kekuasaan, karisma, dan keteladanan sebagai tiga pilar yang jarang dimiliki secara bersamaan. Ia mencontohkan Nabi Muhammad sebagai figur yang mampu menggabungkan ketiganya, dan mendorong ASN untuk meneladaninya.

Meow! Tanya Nesi!
😸