Aksi Nekat di Tanah Abang: Pria Loncat ke Rel KRL, Masinis Sigap Rem Darurat, Terungkap Gangguan Mental
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jakarta, 8 September 2026 – Seorang pria berusia sekitar 30 tahun nekat melompat ke jalur rel kereta di Peron 2 Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Selasa sore (8/9), tepat saat rangkaian KRL Commuter Line jurusan Bekasi melintas. Peristiwa yang memicu kepanikan massal itu terekam dalam video amatir dan viral di media sosial, namun berakhir tanpa korban jiwa berkat pengereman darurat yang dilakukan masinis. Kejadian ini pun membuka tabir kondisi kesehatan mental pelaku yang ternyata pasien rehabilitasi.
Kapolsek Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo, mengungkapkan bahwa pelaku, yang hingga kini identitasnya masih dirahasiakan, menunjukkan indikasi gangguan kejiwaan saat dimintai keterangan. "Saat diinterogasi, yang bersangkutan cenderung bungkam dan menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan mental," ujar Dhimas dalam keterangan resminya. Kondisi ini membuat pihak kepolisian dan petugas keamanan dalam (PKD) stasiun memutuskan untuk tidak melakukan pemeriksaan mendalam demi menjaga psikologis pelaku.
Kronologi Detik-Detik Nekat di Peron 2
Menurut VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, insiden bermula ketika pria tersebut tiba-tiba melompat dari peron 2 sesaat sebelum rangkaian KRL tujuan Manggarai memasuki jalur yang sama. "Masinis langsung melakukan pengereman mendadak untuk menghindari tertemper," jelas Karina. Dalam rekaman video yang beredar, pelaku sempat berdiri terpaku di tengah rel selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali naik ke peron setelah kereta berhenti. Di atas peron, ia terlihat sujud dalam diam selama beberapa detik, kemudian berdiri dengan tatapan kosong.
Kejadian ini sontak membuat para penumpang histeris. Namun, berkat kesigapan masinis, tidak ada cedera maupun gangguan operasional berarti. Karina menegaskan bahwa perjalanan Commuter Line kembali normal melayani naik turun penumpang di peron 2 Stasiun Tanah Abang sesaat setelah pelaku diamankan.
Koordinasi Cepat dan Penanganan Kesehatan Mental
Pihak stasiun segera berkoordinasi dengan orang tua pelaku yang ternyata berada di luar kota. Karena tidak bisa dihubungi secara langsung, petugas lalu menghubungi Yayasan Pusat Rehabilitasi Madani Mental Health Care, tempat pelaku menjalani perawatan rutin. Sekitar pukul 19.53 WIB, petugas yayasan tiba di stasiun dan melakukan serah terima dengan PKD Stasiun Tanah Abang yang dibantu BKO Marinir. Pelaku kemudian dibawa ke fasilitas rehabilitasi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kasus ini menyoroti kembali rapuhnya sistem perlindungan bagi pasien gangguan jiwa di ruang publik. Meskipun tidak ada korban, aksi nekat ini menjadi alarm bagi pengelola transportasi publik dan pemerintah untuk meningkatkan pengawasan serta menyediakan prosedur tanggap darurat yang lebih humanis. Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai pentingnya edukasi masyarakat tentang deteksi dini dan pendampingan pasien mental agar insiden serupa tidak terulang. KAI Commuter dan kepolisian layak diapresiasi atas respons cepat, namun perlu ada evaluasi menyeluruh mengenai akses ke jalur rel yang semestinya lebih aman dari gangguan orang dengan kondisi psikologis tidak stabil.
FAQ Terkait Berita Ini
Apakah pelaku mengalami cedera fisik?
Tidak. Pelaku selamat tanpa luka berkat pengereman darurat yang dilakukan masinis.
Bagaimana nasib pelaku setelah diamankan?
Pelaku diserahkan ke Yayasan Pusat Rehabilitasi Madani Mental Health Care untuk perawatan lanjutan, mengingat kondisinya yang tidak stabil.
Apakah perjalanan KRL terganggu?
KAI Commuter memastikan tidak ada gangguan operasional berarti dan perjalanan kembali normal segera setelah kejadian.


