Bandara Soetta Diserbu Abu Vulkanik Anak Krakatau, Operasi Penerbangan Sempat Terhambat, Kini Kembali Normal
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Petugas Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) bergerak cepat melakukan penyemprotan abu vulkanik di area runway dan fasilitas pendukung operasional penerbangan, Senin (7/9) malam, menyusul dampak erupsi Anak Krakatau yang menyelimuti sebagian kawasan Tangerang. Langkah darurat ini memaksa pengelola bandara untuk menghentikan sementara aktivitas take-off dan landing guna menjamin keselamatan penerbangan. Namun, pada Selasa (8/9) dini hari, Bandara Soetta dinyatakan aktif kembali mulai pukul 00.01 WIB, setelah tim teknis memastikan runway bebas dari partikel vulkanik berbahaya.
Abu vulkanik bukan sekadar gangguan kebersihan. Partikel silika yang terkandung di dalamnya dapat mengikis kaca kokpit, menyumbat mesin pesawat, dan mengganggu sistem navigasi. Dalam dunia penerbangan, kehadiran abu dari gunung api adalah ancaman serius yang pernah menelan korban jiwa, seperti insiden British Airways 9 pada 1982. Karena itu, respons cepat PT Angkasa Pura II patut diapresiasi, namun perlu dipertanyakan: apakah prosedur mitigasi bencana di bandara tersier ini sudah mapan dan teruji?
Penyemprotan Massif di Sisi Udara
Berdasarkan pantauan di lapangan, petugas menerjunkan armada water cannon dan kendaraan penyapu khusus untuk membersihkan landasan pacu, taxiway, serta apron. Proses penyemprotan berlangsung intensif sepanjang Senin malam hingga dini hari, dengan koordinasi erat antara otoritas bandara, BMKG, dan Kementerian Perhubungan. Pembersihan tidak hanya difokuskan pada permukaan aspal, tetapi juga pada lampu pendar dan marka visual yang kritis bagi pilot saat mendarat. Dalam kondisi kabut abu, jarak pandang turun drastis, sehingga pembersihan menyeluruh menjadi keharusan mutlak sebelum operasi diizinkan kembali.
Namun, sebagai jurnalis investigasi yang kerap menyoroti kesiapan infrastruktur nasional, saya menilai kejadian ini membuka celah evaluasi besar. Bandara Soetta adalah gerbang udara tersibuk di Indonesia, dengan rata-rata lebih dari 1.000 pergerakan pesawat per hari. Gangguan beberapa jam saja dapat merugikan ribuan penumpang dan mengganggu rantai logistik. Pertanyaannya, mengapa tidak ada prosedur antisipasi yang lebih proaktif, misalnya dengan memasang sistem deteksi abu real-time atau menyiapkan jalur alternatif landasan? Ketergantungan pada reaksi darurat menunjukkan kelemahan perencanaan jangka panjang, terutama mengingat aktivitas vulkanik di Selat Sunda tidak pernah benar-benar padam.
Dampak Ekonomi dan Psikologis
Penutupan sementara bandara—meski hanya beberapa jam—berdampak pada jadwal penerbangan dan kepercayaan penumpang. Maskapai penerbangan terpaksa menunda atau membatalkan sejumlah rute, menimbulkan antrean panjang di terminal dan keluhan dari calon penumpang. Belum lagi kerugian finansial bagi perusahaan penerbangan dan pengelola bandara akibat penundaan operasional. Meski PT Angkasa Pura II mengklaim kerugian minimal, fakta di lapangan menunjukkan bahwa penanganan darurat selalu memakan biaya lebih besar daripada pencegahan. Pemerintah dan pemangku kepentingan harus melihat ini sebagai sinyal untuk memperkuat infrastruktur dan prosedur darurat, bukan sekadar memoles laporan.
Kabar baiknya, pada pukul 00.01 WIB, Selasa (8/9), Bandara Soetta dinyatakan aman dan operasional kembali berjalan normal. Penerbangan perdana setelah pembersihan dilaporkan berlangsung lancar, dan petugas terus memantau pergerakan abu vulkanik dari Anak Krakatau yang masih menunjukkan aktivitas tremor. Masyarakat dan pengguna jasa penerbangan diimbau tetap memantau informasi resmi dari otoritas bandara dan BMKG untuk update terkini.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apakah Bandara Soetta benar-benar ditutup karena abu vulkanik?
Bandara tidak ditutup total, tetapi aktivitas take-off dan landing dihentikan sementara untuk proses pembersihan runway yang terkontaminasi abu vulkanik, demi keselamatan penerbangan. Operasi kembali normal pada Selasa dini hari.
2. Bagaimana cara abu vulkanik membahayakan pesawat?
Partikel abu dapat menggerus kaca depan, menyumbat saluran udara mesin, dan merusak sensor kecepatan, sehingga berpotensi menyebabkan kegagalan mesin dan gangguan navigasi, sebagaimana pernah terjadi pada beberapa kecelakaan penerbangan internasional.
3. Apakah erupsi Anak Krakatau masih berpotensi mengganggu penerbangan ke depan?
BMKG dan PVMBG terus memonitor aktivitas Anak Krakatau. Selama status waspada masih berlaku, potensi hujan abu di sekitar Selat Sunda tetap ada. Otoritas bandara dan maskapai diimbau untuk menyusun rencana kontingensi agar gangguan serupa bisa diminimalisir.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

TNI AL Uji Kelayakan Operasi Helikopter di KRI Siriwjaya-100, Simulasikan Penanggulangan Bencana

Kadin Proyeksi Peluang Ekspansi Pajak Digital Nasional Mulai 9 November 2026

Terjebaknya Perang Iran-AS: Harga Minyak Brent Anjlok 7,6% Menjelang Pemilu Sela AS
