Suara Dentuman Misterius di Bandung Ternyata Infrasound dari Anak Krakatau? Ini Penjelasan Ahli
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Pernahkah Anda mendengar dentuman keras tanpa sumber gempa atau getaran tanah? Jumat (4/9) lalu, warga Bandung dan sekitarnya dikejutkan oleh suara menggelegar yang bergema di langit. Para ahli kini menduga fenomena ini bukan sekadar ledakan atmosfer biasa, melainkan gelombang infrasonik yang lahir dari erupsi Gunung Anak Krakatau, merambat hingga ratusan kilometer dan jatuh tepat di Cekungan Bandung.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa erupsi tipe phreatic (letusan uap dan gas) melepas energi akustik yang sangat besar. Energi akustik ini bisa merambat hingga ratusan kilometer,
ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti tanpa data seismik dan atmosferik yang komprehensif.
Bagaimana Suara 'Melompati' Puluhan Kilometer?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, memberikan analisis lebih teknis. Menurutnya, dentuman terjadi akibat konversi mendadak energi termal dan mekanis erupsi menjadi gelombang infrasound—frekuensi sangat rendah yang tidak terdengar langsung oleh telinga manusia. Gelombang ini terperangkap dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide) akibat perbedaan suhu dan wind shear di stratosfer.
Fenomena ini menciptakan acoustic shadow zone, yaitu daerah di sekitar sumber yang tidak menerima suara, sementara gelombang yang dibiaskan justru jatuh di lokasi yang lebih jauh—dalam hal ini, Cekungan Bandung. Topografi cekungan yang berbentuk mangkuk bertindak sebagai rongga akustik alami, memantulkan dan mengamplifikasi tekanan gelombang, sehingga kaca jendela bergetar tanpa adanya getaran seismik dari tanah.
Analisis Reza Aditya: Antara Sains dan Spekulasi
Sebagai pengamat teknologi dan kebencanaan, saya melihat kasus ini sebagai pengingat betapa kompleksnya interaksi antara aktivitas vulkanik dan kondisi atmosfer. Teknologi pemantauan infrasound—yang biasa digunakan untuk mendeteksi ledakan nuklir—seharusnya bisa menjadi alat andalan untuk memprediksi jangkauan dampak suara erupsi. Namun, masih ada keterbatasan dalam model rambatan yang memperhitungkan variasi angin dan suhu secara real-time. Ke depan, integrasi data satelit dan stasiun infrasound di seluruh Nusantara sangat krusial, mengingat Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik.
Meski spekulasi publik sempat mengarah pada gempa atau ledakan industri, penjelasan ilmiah ini menunjukkan bahwa alam masih menyimpan mekanisme perambatan energi yang tak terduga. Bagi para tech-enthusiast, ini adalah contoh sempurna bagaimana ilmu akustik dan meteorologi bersatu dalam satu fenomena.
FAQ Terkait Berita Ini
Apakah dentuman di Bandung berbahaya bagi kesehatan?
Tidak. Infrasound dengan amplitudo kecil hanya menimbulkan getaran ringan pada struktur, tidak berdampak langsung pada tubuh manusia.
Mengapa suara tidak terdengar di daerah dekat Krakatau?
Karena adanya acoustic shadow zone—gelombang dibiaskan oleh lapisan atmosfer sehingga melompati daerah dekat dan jatuh di titik fokal tertentu.
Bisakah fenomena ini diprediksi?
Saat ini prediksi masih sulit karena membutuhkan model atmosfer dinamis dan data erupsi real-time, namun dengan kemajuan IoT dan sensor infrasound, peluang prediksi semakin terbuka.
BERITA TERKAIT (Teknologi)
HKMA Klaim Progres Strategi Fintech Satu Tahun, Fokus pada AI dan Tokenisasi

Komdigi Klarifikasi Kepmen 127: Kritik dan Jurnalisme Aman dari Takedown Sepihak

Riset NOAA Ungkap: Awan Tropis Mempercepat Pemanasan Global 71% Lebih Cepat dari Prediksi
