Misbakhun Buka-bukaan: Hilirisasi SDA Bikin Ekonomi Maluku Utara Tumbuh 20%, Tapi Perbankan Masih Mager?
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, secara blak-blakan mengungkapkan bahwa hilirisasi sumber daya alam (SDA) bukan sekadar wacana, melainkan mesin pertumbuhan nyata yang telah mengerek ekonomi Maluku Utara hingga di atas 20 persen. Namun, di balik euforia itu, ia menegaskan satu syarat mutlak: perbankan nasional harus berani keluar dari zona nyaman dan membiayai industri pengolahan dalam negeri, bukan hanya menjadi penonton di tengah melimpahnya komoditas.
Dalam rapat kerja internal di kompleks parlemen, Misbakhun memaparkan data bahwa Indonesia memegang kendali signifikan atas tiga komoditas strategis dunia: batu bara (43% perdagangan global), minyak sawit mentah atau CPO (sekitar 60%), dan nikel yang menjadi tulang punggung industri baterai kendaraan listrik. Menurutnya, posisi tawar ini tidak akan berarti jika Indonesia terus menerus menjadi pemasok bahan mentah โ sebuah praktik yang telah berlangsung puluhan tahun dan menguras nilai tambah.
"Kita punya kekuatan, tapi kekuatan itu harus diubah menjadi daya saing. Hilirisasi adalah kuncinya," tegas politisi senior asal Jawa Timur itu. Ia mencontohkan, Maluku Utara yang dulu dikenal sebagai daerah penghasil tambang mentah kini mencatat pertumbuhan ekonomi fantastis berkat pabrik pengolahan nikel. "Digerakkan oleh apa? Oleh hilirisasi," ujarnya singkat. Angka 20 persen lebih itu bahkan melampaui pertumbuhan nasional yang saat ini berkisar di angka 5 persen.
Dari Pemasok Menjadi Pemain: Transformasi yang Tak Terelakkan
Analisis bisnis yang saya tangkap dari pernyataan Misbakhun adalah bahwa Indonesia sedang berada di persimpangan strategis. Di satu sisi, lonjakan harga komoditas global memberikan windfall profit, namun di sisi lain ketergantungan pada ekspor mentah membuat ekonomi rentan terhadap gejolak harga. Hilirisasi bukan hanya tentang membangun smelter atau pabrik pengolahan sawit, melainkan tentang membangun ekosistem industri yang mampu menyerap tenaga kerja terampil dan menciptakan produk bernilai tambah ekspor.
Namun, yang menarik perhatian saya adalah keluhan terselubung Misbakhun terhadap perbankan. Ia menyebutkan bahwa penguatan hilirisasi membutuhkan dukungan pembiayaan dari dalam negeri. Dalam bahasa bisnis, ini adalah sinyal keras bahwa perbankan nasional dinilai masih enggan menyalurkan kredit ke sektor riil yang berisiko tinggi, terutama hilirisasi yang padat modal dan memiliki payback period panjang. Padahal, jika dikelola dengan baik, sektor ini bisa menjadi sumber pertumbuhan kredit yang sehat dan berkelanjutan.
Sebagai pengamat ekonomi makro, saya menilai bahwa keberanian bank-bank BUMN dan swasta untuk ikut membiayai proyek hilirisasi akan menjadi ujian komitmen terhadap visi Indonesia Emas 2045. Jangan sampai kita hanya menjadi kebun dan tambang dunia, sementara negara seperti China dan Jepang yang mengimpor bahan mentah kita justru menikmati margin keuntungan berkali-kali lipat dari produk olahan.
Maluku Utara Sebagai Laboratorium Hilirisasi
Kasus Maluku Utara sangat menarik untuk dibedah. Kawasan yang sebelumnya terisolasi secara ekonomi kini menjelma menjadi pusat industri nikel terintegrasi. Pertumbuhan 20% bukanlah angka main-main, dan ini menunjukkan bahwa dengan kebijakan yang tepat, daerah tertinggal bisa melompat. Namun, saya mengingatkan bahwa hilirisasi juga membawa dampak lingkungan dan sosial yang perlu dikelola. Oleh karena itu, keberlanjutan menjadi prasyarat agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif dan ramah lingkungan.
Misbakhun tidak memungkiri hal tersebut, namun ia lebih menyoroti aspek pembiayaan. Menurutnya, tanpa adanya peran aktif perbankan, target hilirisasi yang dicanangkan pemerintah akan tersendat. Ia mendorong agar bank-bank tidak hanya mengejar kredit konsumtif, tetapi juga berani berinvestasi pada proyek infrastruktur industri yang memiliki dampak berganda terhadap ekonomi.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa itu hilirisasi SDA dan mengapa penting bagi Indonesia?
Hilirisasi adalah proses pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau jadi agar nilai tambahnya tetap di dalam negeri. Penting karena dapat meningkatkan pendapatan ekspor, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada impor produk olahan.
Mengapa perbankan dinilai belum maksimal membiayai hilirisasi?
Perbankan cenderung risk-averse karena proyek hilirisasi membutuhkan investasi besar, jangka panjang, dan menghadapi risiko teknis serta fluktuasi komoditas. Kurangnya instrumen penjaminan dan insentif dari pemerintah juga menjadi faktor.
Apa bukti nyata bahwa hilirisasi berdampak pada pertumbuhan ekonomi?
Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 20% berkat industri pengolahan nikel, demikian juga daerah seperti Morowali dan Konawe yang mengalami lonjakan investasi dan serapan tenaga kerja signifikan setelah hadirnya pabrik smelter.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

NTP Oktober 2026 Melonjak 6,88%, Cabai dan Tomat Jadi Penopang Utama

Pemerintah Duga Praktik 'Mafia' di Balik Skandal Gizi 25 Merek Beras Fortifikasi

Inflasi Oktober Tembus 3,23%, Sentuh Batas Atas Target BI dan Pemerintah
