Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Lava Fountain Anak Krakatau Memuntahkan Api: Saat Alam Bicara dan Teknologi Terkoyak

TeknologiFitriani NingsihFitriani NingsihSumber: CNN Teknologi
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Lava Fountain Anak Krakatau Memuntahkan Api: Saat Alam Bicara dan Teknologi Terkoyak
BAGIKAN:

Gunung Anak Krakatau kembali mengguncang Selat Sunda dengan pertunjukan piroteknik alam yang spektakuler sekaligus mengkhawatirkan. Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari, gunung api yang berada di perairan antara Banten dan Lampung itu menyemburkan lava fountain—pancaran lava pijar merah-oranye yang menjulang dari kawah—akibat tekanan gas dari magma basaltik yang relatif encer. Fenomena ini bukan hanya memukau mata, tetapi juga menggoyang infrastruktur teknologi, merusak kamera pemantau, dan menyebarkan abu vulkanik hingga mengganggu penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (6/9).

Mengapa Lava Fountain Terjadi? Sains di Balik Semburan Api

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), lava fountain adalah hasil dari gas terlarut dalam magma yang mendorong material pijar ke udara saat magma naik ke permukaan. "Jika tekanan gas cukup kuat, lava tidak hanya mengalir, tetapi juga terlontar seperti air mancur," jelas laporan USGS. Anak Krakatau, dengan magma basaltiknya yang encer, memungkinkan gas dan magma bergerak lebih cepat, menciptakan semburan yang terlihat jelas pada malam hari. Material yang terlontar kemudian jatuh di sekitar kawah atau membentuk aliran lava baru, sebagaimana dikonfirmasi oleh Badan Geologi.

Dampak Nyata: Dari CCTV Rusak hingga Penerbangan Terganggu

Sebagai pengamat teknologi, saya menyoroti bagaimana aktivitas vulkanik ini langsung berhadapan dengan perangkat modern. Laporan menyebutkan bahwa lontaran material erupsi merusak kamera CCTV di sekitar kawah, membuat sistem pemantauan visual lumpuh total. Ironisnya, saat teknologi gagal, justru seismograf dan peralatan geofisika lainnya tetap merekam getaran—erupsi pada Minggu (6/9) pukul 03.53 WIB terekam dengan amplitudo 46 mm selama 30 detik. Di sisi lain, abu vulkanik yang menyebar hingga Jakarta memaksa Bandara Soekarno-Hatta menyesuaikan jadwal penerbangan, mengingatkan kita bahwa alam tetap menjadi faktor yang tak bisa dikendalikan oleh sistem air traffic control secanggih apa pun.

Status Siaga dan Imbauan Resmi

Dengan status Level III (Siaga) yang bertahan sejak 2 Juli 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas: masyarakat, nelayan, dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Erupsi menerus yang terjadi selama berjam-jam—seperti yang berlangsung dari Jumat malam hingga Sabtu dini hari—menunjukkan pola aktivitas yang umum pada gunung api tertentu, namun tetap perlu diwaspadai karena potensi lonjakan sewaktu-waktu.

FAQ Terkait Berita Ini

Apakah lava fountain berbahaya bagi pesawat?
Ya, selain abu vulkanik yang dapat merusak mesin, pancaran lava sendiri tidak mencapai ketinggian jelajah pesawat, namun abu dan material halus menyebar luas dan mengganggu navigasi.

Bagaimana cara memantau aktivitas Anak Krakatau secara real-time?
PVMBG menggunakan jaringan seismograf, kamera termal, dan satelit untuk memantau deformasi dan emisi gas. Sayangnya, beberapa kamera rusak akibat lontaran material, sehingga bergantung pada data seismik dan laporan visual.

Apakah status Siaga bisa naik ke Awas?
Potensi selalu ada jika terjadi peningkatan aktivitas signifikan, seperti gempa vulkanik dalam jumlah besar atau deformasi kawah yang ekstrem. Masyarakat diminta tetap mengikuti arahan resmi.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸