Kritis! Prabowo Pimpin Ratas Bencana, Rakyat Tunggu Aksi Nyata Bukan Sekadar Rapat
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Presiden Prabowo Subianto memimpin Rapat Terbatas (Ratas) penanganan bencana secara virtual dari Istana Merdeka, Senin (7/9) siang. Rapat yang hanya dihadiri secara virtual oleh Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana (BAKOM) M. Qodari dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf ini menjadi sorotan publik, mengingat rentetan bencana yang terus menerjang Indonesia—mulai dari gempa di Flores, erupsi Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan dan kabut asap yang masih melumpuhkan sejumlah wilayah.
Dalam sambutannya, Prabowo mengakui bahwa bencana ini adalah "konsekuensi geografis" karena Indonesia berada di Cincin Api Pasifik. Namun, pernyataan tersebut justru mengundang pertanyaan kritis: jika ini sudah menjadi konsekuensi yang diketahui, mengapa kesiapsiagaan dan mitigasi masih terkesan reaktif? Rapat darurat yang digelar setelah status Gunung Anak Krakatau naik ke Level III (Siaga) sejak 2 Juli lalu, dan setelah erupsi besar pada Jumat (4/9) malam yang memicu aliran lava dan hujan abu hingga ke Jakarta, menunjukkan bahwa penanganan bencana masih berjalan di belakang kejadian, bukan sebagai langkah antisipatif.
Dampak erupsi sudah terasa nyata: abu vulkanik menyebar ke Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, memaksa penutupan sementara jalur penerbangan di wilayah terdampak—termasuk untuk rute internasional. Ini bukan sekadar gangguan logistik, tetapi juga ancaman terhadap kesehatan masyarakat dan perekonomian. Namun, dalam ratas tersebut belum terdengar keputusan konkret tentang evakuasi, bantuan darurat, atau insentif bagi sektor penerbangan yang terdampak. Publik layak mempertanyakan efektivitas koordinasi antara kementerian dan lembaga, mengingat hanya dua pejabat yang hadir secara virtual—apakah ini tanda bahwa krisis ini tidak dianggap genting, atau justru birokrasi masih kaku dalam merespons?
Seharusnya, pemerintah tidak hanya mengandalkan rapat-rapat seremonial, tetapi segera menggerakkan posko terpadu, memastikan distribusi logistik ke daerah terdampak, dan memberikan informasi real-time yang transparan kepada masyarakat. Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terus meningkat membutuhkan pemantauan intensif, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi mengenai rencana jangka panjang untuk mitigasi di kawasan Selat Sunda. Warga di sekitar pantai dan jalur penerbangan layak mendapat kepastian, bukan sekadar pengakuan bahwa "ini konsekuensi geografis".
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa dampak utama abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terhadap kesehatan dan aktivitas sehari-hari?
A: Abu vulkanik mengandung partikel silika yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Masyarakat di wilayah terdampak disarankan memakai masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan menutup rapat ventilasi rumah. Selain itu, abu dapat mengganggu penerbangan karena menurunkan jarak pandang dan merusak mesin pesawat, sehingga penutupan bandara menjadi langkah preventif yang perlu diikuti.
Q: Bagaimana status terkini Gunung Anak Krakatau dan apa yang harus dilakukan warga sekitar?
A: Per 2 Juli 2026, PVMBG menetapkan status Level III (Siaga) dengan rekomendasi zona berbahaya radius 5 km dari kawah. Warga di sekitar Selat Sunda, terutama pesisir Lampung dan Banten, harus waspada terhadap potensi hujan abu, aliran lava, dan tsunami vulkanik. Ikuti arahan dari BPBD setempat dan hindari area yang dilarang. Pemantauan terus dilakukan, namun kesiapsiagaan individu dan keluarga sangat penting.
BERITA TERKAIT (Politik)

Jazuli Juwaini Klaim RUU Pemilu Rampung Sebelum Tutupnya Masa Sidang 2026

PKB Buka Opsi Hak Angket dan HMP untuk Selidiki Legalitas Suket Ijazah Gibran

Anis Matta: Akar Rumput dan Cita-Cita Besar Jadi Fondasi Menuju Pemilu 2029
