Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Iran Beri Peringatan Keras ke Korea Selatan: Jangan Kirim Pasukan ke Selat Hormuz atau Kami Anggap Musuh

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Iran Beri Peringatan Keras ke Korea Selatan: Jangan Kirim Pasukan ke Selat Hormuz atau Kami Anggap Musuh
BAGIKAN:

Korea Selatan menghadapi ancaman diplomatik dan keamanan serius dari Iran setelah Teheran menyatakan bahwa partisipasi Seoul dalam koalisi pimpinan Amerika Serikat di Selat Hormuz akan dianggap sebagai tindakan permusuhan. Pernyataan ini disampaikan oleh Mohammad Marandi, pakar politik Iran, dalam wawancara dengan Al Mayadeen pada Minggu (6/9), yang langsung memicu respons hati-hati dari pemerintah Korea Selatan yang masih mempertimbangkan berbagai opsi kontribusi militer di perairan strategis Timur Tengah tersebut.

Marandi, yang dikenal dekat dengan kalangan elite politik Iran, menegaskan bahwa jika Korea Selatan benar-benar bergabung dengan pasukan internasional yang dipimpin AS untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, maka Teheran akan mengubah status Seoul dari mitra dagang menjadi musuh. “Iran akan berupaya menghancurkan aset apa pun yang dimiliki Korea Selatan di wilayah ini,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa target serangan tidak terbatas pada instalasi militer, melainkan juga fasilitas sipil Korea Selatan di Kuwait, Qatar, atau Bahrain.

Peringatan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat antara Iran dan AS serta sekutunya di Teluk, menyusul serangkaian insiden penyitaan kapal tanker dan serangan terhadap infrastruktur minyak. Korea Selatan, sebagai negara pengimpor energi terbesar di Asia, sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah dan nafta—masing-masing 61% dan 54% dari total impornya. Oleh karena itu, setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi domestik Seoul.

Analisis: Ancaman Simbolis atau Skenario Nyata?

Meskipun pernyataan Marandi bersifat lisan dan belum ada tindakan konkret dari Iran, para pengamat hubungan internasional menilai bahwa ancaman ini bukan sekadar retorika. Iran telah menunjukkan kemampuannya dalam melakukan operasi asimetris di Teluk, termasuk serangan terhadap kapal-kapal dagang dan penyitaan aset asing sebagai instrumen tekanan politik. Namun, beberapa analis meragukan bahwa Teheran akan secara langsung menyerang kepentingan Korea Selatan mengingat hubungan ekonomi kedua negara, terutama di sektor minyak dan konstruksi, masih berjalan meski di bawah bayang-bayang sanksi.

Di sisi lain, Marandi juga meremehkan kontribusi militer Seoul, menyebutnya “bodoh” karena satu atau dua kapal perang tidak akan mengubah dinamika konflik di Selat Hormuz. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran lebih khawatir terhadap efek politik dari keikutsertaan Korea Selatan—yang selama ini dikenal sebagai negara netral di Timur Tengah—daripada kekuatan tempur aktual yang dibawa. Langkah Seoul untuk bergabung dengan koalisi AS dapat memicu pergeseran kebijakan luar negeri Korea Selatan yang selama ini berusaha menjaga keseimbangan antara hubungan dengan AS dan kepentingan ekonominya dengan Iran.

Respons Resmi Seoul: Masih Mengkaji, Belum Putuskan

Kantor Kepresidenan Korea Selatan merespons dengan hati-hati, menyatakan bahwa berbagai opsi sedang dipertimbangkan, mulai dari peran tempur, non-tempur, hingga operasi pencarian dan pertolongan. Namun, mereka menekankan bahwa “belum ada keputusan aktual” mengenai kontribusi militer. Sikap ini mencerminkan dilema diplomatik yang dihadapi Seoul: di satu sisi, mereka ingin mempertahankan aliansi keamanan dengan Washington, terutama dalam menghadapi ancaman dari Korea Utara; di sisi lain, mereka tidak ingin memutuskan hubungan dagang dengan Iran, yang masih menyediakan minyak mentah bagi industri petrokimia Korea Selatan.

Keputusan akhir Seoul akan sangat dipengaruhi oleh dinamika negosiasi nuklir Iran dan sikap negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Jika Iran mencapai kesepakatan baru dengan kekuatan dunia, maka tekanan terhadap Korea Selatan bisa mereda. Namun, jika ketegangan memuncak, Seoul harus siap menghadapi konsekuensi ekonomi dan keamanan yang mungkin timbul, termasuk risiko terhadap aset Korea Selatan di Timur Tengah yang nilainya mencapai miliaran dolar, terutama di sektor konstruksi dan teknologi.

Para pengamat juga menyoroti bahwa peringatan Iran ini dapat menjadi sinyal bagi negara-negara Asia lainnya, seperti Jepang dan India, yang juga memiliki kepentingan di Selat Hormuz, untuk mempertimbangkan ulang keterlibatan mereka dalam koalisi pimpinan AS. Dengan demikian, krisis ini bukan hanya masalah bilateral antara Iran dan Korea Selatan, tetapi juga ujian bagi solidaritas sekutu AS di kawasan Indo-Pasifik.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang dimaksud dengan Selat Hormuz dan mengapa penting bagi Korea Selatan?
Selat Hormuz adalah jalur perairan strategis di antara Teluk Persia dan Samudra Hindia, yang menjadi pintu keluar bagi sekitar 30% minyak mentah dunia. Korea Selatan mengimpor lebih dari 60% kebutuhan minyaknya melalui selat ini, sehingga stabilitas kawasan sangat krusial bagi ketahanan energi nasionalnya.

Apakah Iran benar-benar akan menyerang aset Korea Selatan jika mereka bergabung dengan AS?
Meskipun pernyataan Marandi bersifat ancaman, Iran memiliki sejarah melakukan aksi balasan terhadap negara-negara yang dianggap memusuhi, seperti penyitaan kapal tanker Inggris pada 2019. Namun, eskalasi penuh terhadap Korea Selatan akan merugikan Iran sendiri karena Seoul adalah salah satu pembeli minyak potensial jika sanksi dicabut.

Bagaimana prospek keputusan Korea Selatan ke depan?
Korea Selatan kemungkinan akan mengambil pendekatan bertahap, misalnya mengirimkan kapal untuk misi non-tempur seperti evakuasi warga negara atau bantuan kemanusiaan, guna menghindari provokasi langsung terhadap Iran sambil tetap menunjukkan komitmen kepada aliansi AS. Keputusan final akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan hasil negosiasi nuklir Iran.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸