Gubernur Jateng Klaim Jadi 'Orangtua' Mahasiswa NTT, Tapi Apakah Bantuan Rp43 Juta Cukup untuk Ratusan Korban Gempa?

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gubernur Jateng Klaim Jadi 'Orangtua' Mahasiswa NTT, Tapi Apakah Bantuan Rp43 Juta Cukup untuk Ratusan Korban Gempa?
BAGIKAN:

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyalurkan bantuan berupa keringanan biaya kuliah, uang kos, dan kebutuhan pokok kepada ratusan mahasiswa NTT yang terdampak gempa di daerah asalnya, saat melakukan kunjungan langsung ke indekos mereka di Jalan Pawiyatan Luhur Selatan III, Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, pada Senin (7/9). Langkah ini diambil sebagai respons atas lumpuhnya perekonomian dan hancurnya hunian warga di Nusa Tenggara Timur akibat bencana alam.

Janji Manis dari Kursi Gubernur

Dalam lawatannya tersebut, Luthfi tidak datang sendiri. Ia membawa serta rombongan pejabat teras yang mencerminkan mobilisasi birokrasi besar-besaran: Ketua Baznas Jateng Ahmad Darodji, Dirut Bank Jateng Bambang Widiyatmoko, jajaran kepala dinas, hingga Rektor Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang. Kepada para mahasiswa, Luthfi melontarkan pernyataan yang sarat akan muatan paternalistik khas politisi.

"Kalian di sini anak saya. Apa yang menjadi kekurangan dan keluh kesah adik-adik mahasiswa dan masyarakat NTT juga saya rasakan. Pelajar dan mahasiswa di Jateng itu tanggung jawab saya," klaim Luthfi di hadapan perwakilan mahasiswa. Ia bahkan memerintahkan Dinas Pendidikan, Baznas, dan Bank Jateng untuk berkoordinasi dengan seluruh perguruan tinggi guna meminta keringanan atau menanggung biaya kuliah serta uang kos selama satu hingga tiga bulan ke depan.

Air Mata Maria dan Realitas Lapangan yang Terabaikan

Di balik retorika hangat sang gubernur, realitas di lapangan tetap menyayat hati. Maria Riani Nake, mahasiswi Untag Semarang, tak kuasa menahan tangis saat mengingat kondisi orang tua dan keluarganya yang masih terjebak dalam ketidakpastian di kampung halaman. Ia bersama kakak dan adiknya terpaksa melanjutkan studi di Semarang sementara keluarga besarnya mengungsi.

Cerita serupa datang dari Alfonsius Joivan Sar, mahasiswa asal Kecamatan Elar Selatan, Manggarai Timur. Ia membeberkan fakta pahit bahwa daerah asalnya sangat sulit diakses, membuat distribusi bantuan tersendat parah. Keluarganya kini masih bertahan di posko pengungsian karena rumah mereka telah rusak dan tak layak huni. Ini adalah bukti nyata bahwa rantai pasok logistik pascabencana kita masih rapuh, terutama di wilayah Indonesia Timur.

Kritik Tajam: Nominal Bantuan vs Skala Bencana

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat ada celah kritis yang harus dipertanyakan dari kebijakan populis ini. Berdasarkan data kelompok mahasiswa NTT di Semarang, terdapat 172 mahasiswa terdampak yang berasal dari Manggarai Raya, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Maumere. Jumlah ini diyakini terus bertambah seiring pendataan yang masih berjalan, dengan estimasi total mencapai 300 orang menurut Yuvensius Daseli, mahasiswa Untag.

Namun, mari kita bedah angkanya. Total bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang disalurkan hanya berupa 172 paket sembako senilai masing-masing Rp250 ribu, atau total sekitar Rp43 juta. Secara matematis, apakah nominal puluhan juta rupiah ini benar-benar mampu menopang beban hidup ratusan mahasiswa yang harus membayar kos dan UKT selama berbulan-bulan di tengah krisis ekonomi keluarga? Jangan sampai program bantuan sosial ini sekadar panggung pencitraan politik tanpa solusi struktural yang berkelanjutan.

Armansyah, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang, memang menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian terhadap uang UKT dan kos mereka. Namun, apresiasi korban bencana tidak boleh dijadikan tameng bagi pemerintah daerah untuk lepas tangan dari evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas anggaran yang dikeluarkan oleh institusi seperti Pemprov Jateng.

Tanggung Jawab Negara Bukan Sekadar Kunjungan Simpatik

Kebijakan Gubernur Ahmad Luthfi patut diapresiasi sebagai langkah cepat tanggap darurat. Akan tetapi, perlindungan terhadap nasib pendidikan tinggi mahasiswa perantauan yang menjadi korban dampak tidak bisa diselesaikan hanya dengan kunjungan satu hari dan pembagian sembako. Diperlukan regulasi permanen yang mengikat pihak universitas dan perbankan untuk menjamin keberlangsungan studi mereka tanpa bayang-bayang putus kuliah akibat bencana alam yang sama sekali bukan kesalahan mereka.

FAQ Terkait Berita Ini

Siapa saja mahasiswa NTT yang menerima bantuan dari Gubernur Jateng?
Bantuan ditujukan kepada mahasiswa asal NTT yang terdampak gempa, khususnya dari wilayah Manggarai Raya, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Maumere, dengan jumlah awal terdata 172 orang dan estimasi mencapai 300 orang di Kota Semarang.

Apa bentuk bantuan yang diberikan oleh Pemprov Jateng?
Bantuan meliputi perintah keringanan atau penanggungan biaya kuliah (UKT), biaya kos selama 1-3 bulan, serta 172 paket sembako Jaring Pengaman Sosial (JPS) senilai total sekitar Rp43 juta.

Mengapa mahasiswa NTT di Jateng membutuhkan bantuan mendesak?
Karena gempa bumi di NTT melumpuhkan perekonomian daerah asal, merusak rumah sehingga keluarga mereka harus mengungsi, serta menyulitkan akses distribusi bantuan logistik ke kampung halaman mereka.

Meow! Tanya Nesi!
😸