Erupsi Anak Krakatau: Abu Vulkanik Selimuti Sekolah di Lampung, Gotong Royong Darurat Kebersihan

Ribuan siswa di sejumlah sekolah di pesisir Lampung terpaksa memulai pekan belajar dengan menyikat abu vulkanik tebal hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebar hingga radius puluhan kilometer. Para petugas pemadam kebakaran, guru, dan wali murid bahu-membahu membersihkan ruang kelas dan halaman sekolah sejak dini hari, menyusul hujan abu yang mengguyur wilayah itu semalam. Kondisi darurat ini memaksa pihak sekolah menutup sementara aktivitas belajar-mengajar demi keselamatan siswa dari risiko gangguan pernapasan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, proses pembersihan berlangsung dengan peralatan seadanya—sapu, sekop, dan masker kain—sementara tim pemadam menggunakan selang air bertekanan untuk menyemprot dinding serta atap yang tertutup abu kelabu. Kepala sekolah setempat, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa ketebalan abu di beberapa titik mencapai dua sentimeter. ”Kami khawatir dengan dampak jangka pendeknya, apalagi jika angin berubah arah dan membawa abu kembali,” ujarnya. Situasi ini menjadi ironi karena mitigasi bencana di daerah rawan erupsi kerap terabaikan, padalkan peringatan dari Badan Geologi telah dikeluarkan sejak level aktivitas meningkat pekan lalu.
Kritik atas Kesiapan Sekolah dan Pemerintah Daerah
Sebagai jurnalis investigasi yang telah mengikuti siklus erupsi Anak Krakatau selama dua dekade, saya menilai bahwa gotong royong ini justru menegaskan lemahnya protokol tanggap darurat di institusi pendidikan. Tidak ada alat pelindung standar, tidak ada prosedur evakuasi yang jelas, dan yang lebih memprihatinkan, tidak ada koordinasi terpadu antara Dinas Pendidikan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan rumah sakit rujukan. Anak-anak menjadi garda terdepan dalam membersihkan abu—sebuah tugas yang seharusnya dipegang oleh petugas profesional dengan alat berat dan alat pelindung diri. Pemerintah daerah tampaknya masih mengandalkan kearifan lokal dan semangat kerelawanan, tanpa menyediakan anggaran khusus untuk pembersihan pasca-erupsi.
Padahal, berdasarkan data historis, erupsi besar Anak Krakatau pada 2018 lalu menghasilkan abu yang menyebabkan penutupan sekolah selama lima hari dan lonjakan kasus ISPA di kalangan anak-anak. Kini, dengan teknologi pemantauan yang lebih baik, seharusnya langkah preventif sudah dijalankan—misalnya pembagian masker N95 dan penjadwalan belajar jarak jauh sejak peringatan dini. Faktanya, sekolah-sekolah justru baru bergerak setelah abu menumpuk, bukan sebelumnya. Ini adalah kegagalan sistemik yang perlu diusut tuntas oleh Komisi VIII DPR dan Kementerian Pendidikan.
Dampak Kesehatan dan Harapan Warga
Para wali murid yang ikut membersihkan mengeluhkan iritasi mata dan sesak napas meskipun hanya beberapa jam terpapar abu. ”Anak saya sudah batuk-batuk, tapi kami tidak punya pilihan selain membersihkan karena sekolah tidak memberi pengumuman resmi tentang penutupan,” tutur Siti, seorang ibu dari dua siswa SD di daerah Kalianda. Sementara itu, petugas pemadam kebakaran setempat mengakui bahwa mereka kewalahan karena peralatan terbatas dan personel yang hanya 15 orang untuk tiga sekolah. Mereka meminta agar pemerintah pusat segera mengirimkan bantuan logistik, termasuk alat berat dan masker, serta menetapkan status siaga darurat kebencanaan untuk sektor pendidikan.
Di sisi lain, sebagian warga mulai menyuarakan perlunya relokasi sekolah yang berada di zona rawan erupsi—sebuah wacana yang telah mengemuka sejak 2015 namun tak pernah terealisasi. ”Kami sudah lelah dengan rutinitas membersihkan abu setiap kali Gunung Anak Krakatau batuk. Pemerintah harus berani memindahkan sekolah ke lokasi aman,” tegas salah satu tokoh masyarakat. Analisis saya: tanpa keberanian politik dan alokasi anggaran yang serius, siklus ini akan terulang, dan gotong royong hanyalah plester atas luka struktural yang dalam.
FAQ Terkait Berita Ini
- Apakah sekolah di Lampung masih buka setelah hujan abu? Beberapa sekolah memutuskan tutup sementara selama pembersihan, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi dari Dinas Pendidikan Provinsi Lampung. Orang tua disarankan memantau pengumuman masing-masing sekolah.
- Berapa ketebalan abu vulkanik yang menutupi area sekolah? Berdasarkan pengukuran di lapangan, ketebalan abu berkisar antara 0,5 hingga 2 sentimeter, tergantung arah angin dan jarak dari kawah Gunung Anak Krakatau.
- Apakah abu vulkanik berbahaya bagi anak-anak? Ya, abu vulkanik mengandung partikel silika yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Anak-anak dengan riwayat asma atau alergi lebih berisiko. Penggunaan masker N95 dan menghindari aktivitas di luar ruangan sangat dianjurkan.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Menjaga Pangan di Tengah Krisis Lahan: Sukabumi Genjot Pertanian Modern Awas Defisit

Warkop Agam Laen Hadirkan Autentisitas Kuliner Aceh di Margonda, Sasar Perhimpunan Mahasiswa dengan Harga Terjangkau

Siap-Siap, Warga Jawa dan Sumatra: BMKG Prediksi Hujan Ringan Landa Sebagian Besar Wilayah Hari Ini
