Dari Letusan Mengerikan 1883 hingga Siaga 2026: Mengapa Krakatau Tak Pernah Lepas dari Pantauan Dunia?

Gunung Anak Krakatau kembali menyita perhatian global setelah statusnya dinaikkan ke Level III (Siaga) pada awal Juli 2026, disusul dengan erupsi yang memuntahkan lava dan abu vulkanik hingga menjangkau Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat pada Jumat (4/9) malam. Fenomena ini bukan sekadar bencana lokal, melainkan pengingat akan kekuatan geologi yang pernah mengubah iklim dunia dan menginspirasi karya seni ikonik. Mengapa gunung ini selalu menjadi pusat perhatian internasional? Jawabannya terentang dalam sejarah panjang yang melibatkan pergerakan lempeng tektonik, korban jiwa puluhan ribu, hingga dampak atmosferik yang terasa hingga benua lain.
Menurut catatan Britannica, cikal-bakal Krakatau terbentuk di zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Selama jutaan tahun, aktivitas magmatik membangun kerucut raksasa yang awalnya menjulang 1.800 meter di atas permukaan laut, sebelum kemudian runtuh dalam erupsi dahsyat pada 416 Masehi, menyisakan kaldera berdiameter 6 kilometer dan empat pulau kecil: Sertung, Lang, Polish Hat, dan Rakata. Keempatnya menyatu seiring waktu menjadi Gunung Krakatau setinggi 813 meter—nama yang kelak mengguncang dunia.
Letusan 1883: Titik Nol Perhatian Global
Puncak aktivitas terjadi pada 27 Agustus 1883, pukul 10.00 waktu setempat. Ledakan itu terdengar hingga 3.500 kilometer di Australia, abu mengepul setinggi 80 kilometer dan menyebar seluas 800.000 km². Getaran seismik bahkan dilaporkan mencapai Hawaii dan Amerika Selatan. Korban jiwa mencapai 36.000 orang, sebagian besar akibat tsunami yang menyapu pesisir Selat Sunda. Namun, yang membuat dunia tercengang adalah dampak iklim: suhu global turun 0,5–1,2 derajat Celcius selama beberapa tahun, langit siang tampak kemerahan, dan bulan bersinar kebiruan. Fenomena optik ini pula yang diyakini mengilhami pelukis Norwegia Edvard Munch untuk menciptakan The Scream (1893), dengan siluet langit yang mencekam.
Anak Krakatau Bangkit dan Ancaman Modern
Erupsi besar mereda pada 1927, namun setahun kemudian muncul puncak baru di permukaan laut, yang pada 1930 resmi disebut Gunung Anak Krakatau. Tingginya mencapai 300 meter sebelum erupsi 22 Desember 2018 yang memicu tsunami di Banten dan Lampung, merenggut ratusan jiwa dan mengikis tingginya menjadi 100 meter. Kini, setelah status siaga dinaikkan PVMBG, aliran lava terlihat dari perairan Selat Sunda, dan abu menyebar lintas provinsi. Dampak langsungnya, sejumlah bandara menutup jalur penerbangan internasional dan domestik, mengganggu konektivitas udara di kawasan padat lalu lintas.
Dari perspektif hubungan internasional, perhatian media asing bukanlah isapan jempol. Gunung Anak Krakatau terletak di salah satu jalur penerbangan tersibuk dunia, dekat dengan Selat Malaka dan lalu lintas kapal global. Selain itu, potensi dampak iklim mikro akibat letusan besar selalu menjadi kekhawatiran ilmuwan, mengingat sejarah 1883 membuktikan bahwa gunung ini mampu mempengaruhi sirkulasi atmosfer bumi. Kesiapsiagaan dan kerja sama internasional dalam mitigasi bencana pun menjadi isu krusial—terlebih Indonesia berada di Cincin Api Pasifik, kawasan dengan aktivitas tektonik tertinggi di dunia.
Sejauh ini, otoritas setempat terus memonitor aktivitas kegempaan dan deformasi. Masyarakat diimbau menjauhi radius bahaya, sementara pemerintah koordinasi dengan badan meteorologi dan penerbangan internasional. Kisah Krakatau adalah pengingat bahwa alam tidak mengenal batas negara, dan setiap guncangan di Selat Sunda dapat bergema hingga ke ujung dunia—baik secara geofisik maupun geopolitik.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa penyebab utama meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau?
Aktivitas vulkanik dipicu oleh pergerakan lempeng tektonik India-Australia yang menunjam ke bawah Eurasia, menghasilkan akumulasi tekanan magmatik di bawah kaldera. Fase siaga menunjukkan peningkatan kegempaan dan deformasi tubuh gunung.
Bagaimana dampak letusan besar Krakatau terhadap iklim global?
Letusan 1883 melepas sulfat dan partikel ke stratosfer, memantulkan sinar matahari dan menurunkan suhu rata-rata global 0,5–1,2 °C selama beberapa tahun, serta mengubah warna langit dan bulan karena hamburan cahaya.
Apakah penutupan bandara akibat abu vulkanik berdampak pada penerbangan internasional?
Ya, abu vulkanik sangat berbahaya bagi mesin pesawat, sehingga bandara di wilayah terdampak—termasuk rute internasional—ditutup sementara demi keselamatan, mengganggu jadwal penerbangan domestik dan global.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Skandal Rasisme Guncang Montreal: Tujuh Polisi Dipecat, Kepercayaan Publik Terancam

Iran Ancam Jangkauan Rudal ke Pangkalan AS di Eropa Jika Agresi Berlanjut

Tentara Yaman Laksanakan 951 Operasi Tempur dalam 24 Jam, Lebih dari 250.000 Warga Terpaksa Mengungsi
