Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Biaya Produksi Beras RI Rp12 Ribu, Vietnam Hanya Rp3.800: Amran Akui Subsidi Kecil Banget

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Biaya Produksi Beras RI Rp12 Ribu, Vietnam Hanya Rp3.800: Amran Akui Subsidi Kecil Banget
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui biaya produksi beras di Indonesia mencapai Rp12 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Vietnam yang hanya sekitar Rp3.800 per kilogram.
  • Pernyataan itu disampaikan Amran di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Senin (7/9), merespons keluhan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan tentang daya saing pangan nasional.
  • Meski demikian, ia menegaskan ruang fiskal APBN tak memungkinkan penambahan subsidi besar-besaran saat ini.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui biaya produksi beras di Indonesia mencapai Rp12 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Vietnam yang hanya sekitar Rp3.800 per kilogram. Pernyataan itu disampaikan Amran di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Senin (7/9), merespons keluhan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan tentang daya saing pangan nasional.

Amran menyebut subsidi pemerintah untuk sektor pertanian masih "kecil banget" jika dibandingkan dengan negara lain seperti Vietnam, Amerika Serikat, atau China yang memberi subsidi hingga 70-80 persen dari biaya produksi. Meski demikian, ia menegaskan ruang fiskal APBN tak memungkinkan penambahan subsidi besar-besaran saat ini. "Enggak (subsidi diperbesar), cukuplah dulu. Ini kan APBN juga," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pemerintah tetap menyiapkan dukungan melalui tambahan SPHP jagung sebanyak 150 ribu ton untuk membantu pasokan pakan ternak.

Kesenjangan Teknologi dan Bibit Jadi Akar Masalah

Zulkifli Hasan, yang lebih dulu membandingkan ongkos produksi antarnegara, menyoroti faktor teknologi, varietas unggul, dan manajemen sawah yang membuat produktivitas Vietnam dan Thailand melesat. Ia mencontohkan biaya produksi tebu di Lumajang mencapai Rp14 ribu per kilogram, sementara India dan Brasil hanya di bawah Rp4 ribu. Demikian pula kedelai, dengan produktivitas Indonesia sekitar 1 ton per hektare menggunakan bibit lokal, sedangkan negara dengan rekayasa genetik bisa mencapai 10 ton per hektare. Akibatnya, harga kedelai dalam negeri bisa tiga hingga empat kali lebih mahal.

Ketergantungan pada bibit impor hampir di seluruh komoditas pangan, kata Zulhas, menjadi mata rantai persoalan yang belum putus. "Negara tetangga kita dekat, Thailand, Vietnam itu, untuk dapat 1 kilo beras, dia hanya mengeluarkan biaya Rp3.800. Kita untuk 1 kg beras, perlu biaya Rp12 ribu. Betapa kita kalah jauh tertinggal," ujarnya dalam peluncuran buku Pangan Indonesia di JCC Senayan, Jumat (4/9).

Bank Indonesia Bela Pertumbuhan RI di Tengah Perbandingan

Di tengah sorotan ketertinggalan, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia (5,45% di semester I) masih di bawah Vietnam, namun menegaskan kompleksitas ekonomi RI jauh berbeda. Destry menyebut inflasi Indonesia lebih terkendali dibandingkan Vietnam yang mencapai 4,5-5 persen. "Dari sisi pertumbuhan ekonomi, ya kita mungkin kalah sama Vietnam. Tapi karakter kita beda, kompleksitas juga beda," katanya dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia.

Analisis Siti Amalia: Pengakuan Amran dan Zulhas membuka tabir lama tentang daya saing pangan yang terhambat kebijakan subsidi setengah hati dan adopsi teknologi lamban. Jika Vietnam mampu menekan biaya produksi hingga sepertiga dari kita, bukan semata karena subsidi besar, melainkan juga efisiensi rantai pasok dan riset varietas unggul. Pemerintah perlu berani merevisi pola dukungan—dari subsidi input yang boros ke investasi riset dan infrastruktur irigasi modern. Tanpa terobosan, impor beras akan terus membebani neraca perdagangan dan petani lokal tetap terpinggirkan.

FAQ Terkait Berita Ini

  • Mengapa biaya produksi beras Indonesia jauh lebih tinggi dari Vietnam? Karena subsidi pemerintah lebih kecil dan adopsi teknologi, varietas unggul, serta manajemen sawah masih tertinggal, sehingga produktivitas per hektare lebih rendah.
  • Apakah pemerintah akan menambah subsidi pertanian? Menteri Pertanian menyatakan tidak ada rencana penambahan subsidi besar karena keterbatasan APBN, namun ada tambahan bantuan SPHP jagung 150 ribu ton.
  • Bagaimana dampak kesenjangan biaya produksi terhadap harga beras nasional? Harga beras dalam negeri menjadi tidak kompetitif, memicu tingginya angka impor dan membebani konsumen, serta mengurangi pendapatan petani jika harga jual ditekan.
Meow! Tanya Nesi!
😸