Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Mengancam Satwa Bandung Zoo, Manajemen Siapkan Tirai dan Isolasi – Tapi Apakah Itu Cukup?

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Mengancam Satwa Bandung Zoo, Manajemen Siapkan Tirai dan Isolasi – Tapi Apakah Itu Cukup?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Bandung Zoo menyiapkan langkah mitigasi untuk melindungi satwa dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyebar hingga Jawa Barat.
  • Langkah yang diambil antara lain mengisolasi hewan di kandang tertutup, memasang tirai atau plastik pada kandang burung, serta menyemprot kandang dan kawasan kebun binatang.
  • Hingga kini, kondisi satwa masih tergolong aman berkat pepohonan yang menyaring abu, namun manajemen akan bertindak lebih agresif jika ambang batas abu terlewati.

Bandung – Ancaman abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang mulai menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat, mendorong pengelola Bandung Zoo untuk mengaktifkan prosedur darurat perlindungan satwa. Rohmat, salah seorang pengurus kebun binatang tersebut, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan serangkaian mitigasi guna meminimalisir dampak buruk abu vulkanik terhadap hewan-hewan koleksi.

Rohmat menjelaskan bahwa langkah utama adalah menempatkan satwa ke dalam kandang tertutup atau ruang isolasi. "Untuk jenis satwa yang biasa diperagakan di kandang terbuka dan memiliki kandang malam, kami tidak mengeluarkannya. Mereka akan berada di 'kamar tidur' atau holding area, lengkap dengan pakan dan minum di sana," ujarnya saat dihubungi pada Senin (7/9). Selain itu, bagi kandang yang tidak memiliki ruang tertutup, pihaknya akan memasang tirai penutup. Khusus untuk burung, jika kadar abu dianggap sudah melewati ambang batas, kandang akan ditutup dengan tirai atau plastik tebal.

Mitigasi lain yang direncanakan adalah penyemprotan air secara berkala di area kandang dan kawasan kebun binatang. Namun, Rohmat mengakui bahwa penyemprotan belum dilakukan saat ini dan masih berfokus pada pengamanan tubuh (body security) petugas. Ia juga menambahkan bahwa hingga kini, kondisi satwa masih terlindungi karena banyaknya pepohonan di kawasan Bandung Zoo yang mampu menyaring abu. "Saya lihat pohon-pohon masih hijau, belum terlihat abu beterbangan," katanya.

Keputusan untuk menerapkan mitigasi secara penuh akan didasarkan pada pantauan intensif dari tim pengurus satwa. Jika abu vulkanik sudah memenuhi kawasan dan melewati ambang batas yang ditentukan, maka seluruh protokol akan dijalankan. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9) pagi telah mencapai wilayah Jakarta, Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Dua lapisan sebaran terdeteksi: lapisan rendah (hingga 15.000 kaki) bergerak ke arah Tenggara-Barat Laut yang berpotensi mengganggu kualitas udara dan jarak pandang, serta lapisan tinggi (hingga 50.000 kaki) yang mengarah ke Barat Daya dan mengancam jalur penerbangan.

Dengan potensi penyebaran yang semakin meluas ke arah barat, kesiapsiagaan Bandung Zoo menjadi sorotan. Meski langkah-langkah yang diambil terlihat responsif, publik tentu berharap tidak ada korban dari sisi satwa akibat bencana alam ini.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah mengikuti berbagai bencana dan dampaknya terhadap satwa liar dan penangkaran, saya menilai langkah mitigasi yang disiapkan Bandung Zoo tergolong standar, namun belum sepenuhnya komprehensif. Tirai dan plastik, misalnya, memang dapat menahan abu kasar, tetapi partikel halus (PM2,5) yang terkandung dalam abu vulkanik dapat menembus celah-celah dan mengendap di saluran pernapasan hewan, terutama burung dan mamalia kecil. Tidak disebutkan adanya alat pengukur kualitas udara di dalam kandang, atau rencana evakuasi jika intensitas abu memburuk secara tiba-tiba. Hal ini mengkhawatirkan mengingat erupsi Gunung Anak Krakatau bersifat fluktuatif dan dapat menyemburkan material vulkanik kapan saja tanpa pola yang jelas.

Lebih jauh, pernyataan bahwa "pepohonan masih menyaring abu" mungkin memberikan rasa aman yang keliru. Pohon memang dapat menahan sebagian partikel, tetapi ketika abu menumpuk di daun, beban tersebut dapat menyebabkan patahnya cabang dan bahkan menimpa kandang. Selain itu, abu yang terkumpul di tanah dapat tercampur dengan air minum dan pakan, menyebabkan gangguan pencernaan akut. Saya menduga manajemen Bandung Zoo belum melakukan uji toksisitas terhadap abu yang jatuh di area kebun binatang. Kandungan silika dan logam berat dalam abu vulkanik dapat bersifat karsinogenik jika terakumulasi dalam jangka waktu tertentu. Butuh langkah proaktif seperti pemasangan penutup kedap udara dan penyediaan oksigen tambahan untuk satwa-satwa rentan, terutama yang sudah lanjut usia atau memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Kita juga patut mempertanyakan kesiapan koordinasi dengan pemerintah daerah dan BMKG. Apakah ada sistem peringatan dini khusus untuk kebun binatang? Sejauh ini, informasi yang diberikan hanya berdasarkan pantauan internal. Padahal, abu vulkanik tidak mengenal batas waktu dan cuaca; angin dapat mengubah arah sebaran dalam hitungan jam. Saya menyarankan agar Bandung Zoo segera membentuk tim tanggap darurat yang terdiri dari dokter hewan, ahli lingkungan, dan petugas lapangan, serta menyiapkan rencana kontijensi seperti pemindahan sementara satwa ke lokasi yang lebih aman, misalnya ke Lembang atau daerah dengan ventilasi udara lebih baik. Tanpa itu, semua tindakan yang ada hanya bersifat reaktif, bukan preventif.

Terakhir, dari perspektif transparansi publik, manajemen Bandung Zoo perlu secara rutin mengumumkan hasil pantauan kualitas udara dan kondisi kesehatan satwa melalui kanal resmi. Masyarakat pecinta hewan dan wisatawan berhak tahu apakah kebun binatang favorit mereka masih layak dikunjungi atau justru berbahaya bagi satwa dan pengunjung. Saya berharap insiden ini menjadi pelajaran bagi seluruh pengelola konservasi hewan di Indonesia untuk memiliki protokol bencana yang detail dan terukur, bukan sekadar tirai dan semprotan air.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa dampak abu vulkanik terhadap kesehatan satwa di kebun binatang?
    A: Abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, iritasi kulit, dan jika tertelan, dapat merusak saluran pencernaan. Partikel halus juga bisa memicu infeksi sekunder pada hewan yang sistem imunnya lemah.
  • Q: Apakah langkah isolasi dan tirai efektif untuk melindungi satwa?
    A: Efektivitasnya terbatas pada abu kasar. Untuk partikel halus dan gas beracun, dibutuhkan sistem filtrasi udara dan penutupan ruangan yang rapat. Penyemprotan air juga hanya efektif sementara jika dilakukan terus-menerus.
  • Q: Apakah Bandung Zoo tetap buka untuk pengunjung selama erupsi?
    A: Hingga saat ini belum ada pengumuman penutupan. Namun pengunjung disarankan memantau informasi resmi dan memperhatikan imbauan BMKG terkait jarak pandang dan kualitas udara sebelum berkunjung.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸