Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menyusul Banjir Bandang Nepal, Seorang Korban Selamat Dievakuasi dari Terowongan PLTA Setelah 9 Hari – 900 Lainnya Masih Terperangkap

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Menyusul Banjir Bandang Nepal, Seorang Korban Selamat Dievakuasi dari Terowongan PLTA Setelah 9 Hari – 900 Lainnya Masih Terperangkap
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Tim penyelamat Nepal mengevakuasi seorang korban selamat dari terowongan PLTA di Sungai Trishuli pada Jumat (4/9), setelah terjebak sembilan hari akibat banjir bandang.
  • Korban adalah satu dari dua orang yang ditemukan hidup; keduanya kini dirawat di rumah sakit di Kathmandu.
  • Diperkirakan sekitar 900 orang masih terjebak di terowongan terkait enam proyek PLTA di sepanjang sungai tersebut.

Tim penyelamat Nepal berhasil mengevakuasi seorang korban banjir bandang dalam kondisi hidup dari terowongan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Trishuli, Jumat (4/9). Korban selamat itu terjebak selama sembilan hari setelah banjir bandang menerjang lembah di Nepal pada Rabu (26/8). Rekaman yang dirilis militer Nepal menunjukkan momen korban dievakuasi dari dalam terowongan dan ditarik keluar dari dalam tanah.

Korban tersebut merupakan satu dari dua orang yang berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup dari terowongan. Keduanya kini tengah dirawat di rumah sakit di Kathmandu. Pejabat dan tim penyelamat memperkirakan sekitar 900 orang terjebak di dalam terowongan yang terkait dengan enam proyek PLTA di sepanjang Sungai Trishuli.

Analisis Pakar

Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur energi di kawasan rawan bencana, khususnya di Nepal yang terletak di zona seismik aktif dan rentan terhadap banjir bandang akibat curah hujan ekstrem. Proyek PLTA di sepanjang Sungai Trishuli, meskipun menjadi tulang punggung pasokan listrik negara, dibangun tanpa mempertimbangkan secara memadai potensi bencana hidrometeorologi yang kian meningkat akibat perubahan iklim. Evakuasi yang berlangsung sembilan hari menunjukkan keterbatasan logistik dan akses darurat di daerah pegunungan, di mana medan yang sulit dan cuaca buruk sering menghambat operasi penyelamatan.

Dari perspektif tata kelola bencana, kasus ini mengungkap kesenjangan sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi terstandar untuk pekerja di proyek infrastruktur. Meskipun pemerintah Nepal memiliki kerangka kebijakan penanggulangan bencana, implementasi di lapangan sering kali tertinggal, terutama dalam hal koordinasi antarinstansi, ketersediaan peralatan penyelamatan, dan pelatihan tim respons cepat. Angka perkiraan 900 orang terjebak—jika akurat—menjadikan ini salah satu insiden terbesar dalam sejarah ketenagalistrikan Nepal, dan menuntut evaluasi ulang terhadap standar keselamatan kerja di seluruh proyek PLTA yang sedang beroperasi maupun dalam pembangunan.

Lebih luas lagi, peristiwa ini menjadi panggilan bagi komunitas internasional untuk mendukung negara berkembang dalam membangun infrastruktur tahan bencana. Bantuan teknis dan finansial dari lembaga seperti Bank Dunia atau mitra bilateral dapat difokuskan pada penguatan sistem monitoring sungai, pembangunan tempat perlindungan darurat, dan peningkatan kapasitas penyelamatan. Di sisi lain, media dan publik perlu terus mengawal nasib 900 korban yang masih terperangkap, karena setiap hari yang berlalu mengurangi peluang mereka untuk selamat. Keberhasilan menyelamatkan dua orang setelah sembilan hari adalah mukjizat, tetapi itu tidak boleh menutupi kebutuhan mendesak untuk reformasi sistemik yang mencegah tragedi serupa di masa depan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa jumlah korban tewas akibat banjir bandang di Nepal?
    A: Hingga laporan ini, jumlah korban tewas belum dipastikan. Banjir bandang pada 26 Agustus menyebabkan banyak kerusakan, dan proses evakuasi serta pencarian masih berlangsung. Angka korban jiwa mungkin akan diumumkan setelah operasi penyelamatan selesai.
  • Q: Di mana tepatnya lokasi terowongan PLTA yang menyebabkan 900 orang terjebak?
    A: Terowongan tersebut berada di sepanjang Sungai Trishuli, yang melintasi beberapa distrik di Nepal tengah. Enam proyek PLTA terkait berlokasi di daerah tersebut, dan terowongan berfungsi sebagai saluran air atau akses bawah tanah untuk pembangkit listrik.
  • Q: Bagaimana kondisi dua korban yang berhasil dievakuasi?
    A: Keduanya saat ini dalam perawatan intensif di rumah sakit di Kathmandu. Meskipun selamat, mereka mengalami dehidrasi, kekurangan gizi, dan kemungkinan cedera fisik akibat terjebak selama sembilan hari tanpa akses makanan dan air yang memadai.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸